Cerita

Ujian Keteguhan Hati Menggapai Puncak Mahameru 3.676 MDPL

“hembusan angin kematian terasa kencang bertiup di trek pasir ini. sudah banyak korban yang hilang dan meninggal di sini.” (dalam kontemplasi)

“medan pasir ini ibarat sebuah jalan perjuangan menggapai Ridho-Nya. Tak ada yang mudah dan enak, tak ada tempat nyaman untuk istirahat, yang ada hanya batuan dan pasir dengan kondisi jalan yang terus naik dan naik.” (renungan pendakian)

“setiap kali kita terjatuh, kita masih bisa jalan merangkak. Lalu kita berusaha berdiri lagi, dan jatuh lagi, merangkak lagi dan seterusnya. Selama niat itu tertancap kuat, dan kemauan itu masih ada, tujuan akan tercapai.” (hikmah pendakian)

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

Hembusan angin di Kalimati semakin sore semakin kencang dan membuat dingin. Suara gemuruh pun seakan tak ada harapan buat menghilang. Langit masih cerah dan sekali-kali awan putih melintas dengan cepat. Tak ada suara burung atau hewan lain pun yang terdengar di sini, entah memang nggak ada, atau lenyap suaranya karena gemuruh angin ini.

IMG_2336 IMG_2337            (Jalan ke Sumber Mani)

Sementara, di samping pepohonan cemara ini tenda kami berempat berdiri. Sore itu kami sibuk memasak bahan-bahan yang masih tersisa. Ya, tinggal sedikit, ada mie instan, beberapa potong roti yang salah satunya udah hampir kadaluwarsa, dan ada juga sayuran kayak wortel sama buncis. Sore itu kami masak sayuran pake air yang baru saja kami ambil dari tempat bawah sana yang agak jauh, Sumber Mani. Perjalanan ke sana sekitar 30 menit lewat jalan turunan, dan tempatnya Sumber Mani itu kayak mirip di daerah bekas aliran sungai, di antara tebing curam.

“ini sayurnya udah matang, makan yuk, abis itu kita tidur buat persiapan ntar malem nanjak”, kata temen yang dari tadi ngaduk sayur di nesting.

“okee, mana mana”, temen yang lain nyambutnya antusias, soalnya udah pada laper.

Yang matang sore itu cuma sayur saja, tak ada nasi atau makanan berat lainnya. Beras kami udah habis di Ranu Kumbolo tadi, soalnya memang kami udah batalkan rencana muncak. Akhirnya sore itu kami makan sayur saja, sebagai ganjel perut dan juga penghilang dingin yang makin menusuk saja di Kalimati ini.

“udah selese, yuk sekarang tidur sana, persiapan ntar ndaki”, kata temen lagi sambil beresin peralatan masaknya.

Tenda yang sudah diganjel sama batu-batuan tadi insya Allah nggak akan beterbangan kena angin kencang di Kalimati ini. Resleting tenda sudah ditutup tapi hawa dingin tetep masuk dan meskipun udah pakai sleeping bag, tetep saja dingin mampu menembus tubuh.

Ternyata kami berempat bernasib sama sore itu, gagal bisa istirahat, tidur dengan nyenyak. Akhirnya kami putuskan masak lagi, kali ini mie instan, biar nambah isi perut dan menghilangkan rasa dingin. Lumayan lah, bisa ngganjel perut, yang ini ganjelnya agak tebel dibanding yang tadi.

“ayo, buru tidur, ntar kita bangun jam 11 malam yo (23.00 maksudnya), jangan lupa alarm dinyalakan”, kata seorang temen ngingetin yang lain biar nggak telat bangun buat ndaki.

Baru aja jam 21.00, udah kedenger dari tenda sebelah pada ngobrol terus dari tadi. Kayaknya ini nggak bisa tidur juga, sama kayak kami bedua dalam tenda ini. Temen setendaku akhirnya keluar sambil bawa kamera DSLR pinjemannya. Katanya, kalo di daerah tinggi kayak gini bintang-bintangnya besar besar. Entah seberapa besar bintang itu bisa keliatan, tapi kalo menurutku ukurannya juga sama aja, cuma agak banyakan di sini jumlahnya.

IMG_2359 IMG_2363(Bintang di Kalimati)

Di luar tenda, dia di padang rumput kering itu sambil potret bintang di langit dan hasilnya ternyata keren. Nggak tau pake efek apa di kameranya, ternyata bener bener bisa capture warna-warna galaksi, bahkan lebih jelas dari mata yang langsung ngeliat.

2 jam berlalu, hampir jam 23.00 waktu itu, kesibukan di Kalimati mulai terasa. Di dalam selimut dinginnya malam, beberapa pendaki tenda sebelah sudah siap dengan peralatan pendakian, headlamp, carier, jaket tebal dan berlapis, tongkat dan lainnya. Sementara kami juga bersiap di depan tenda, berkumpul 4 orang mempersiapkan apa yang mesti dibawa naik. Pakaianku yang tadi cuma 2 lapis, aku tambah jadi 2 kaos, lalu aku tambah jaket, dan tambah satu kaos lagi di luar, kaos KKN PPM. Hehe.. tak lupa, penutup kepala, telinga biar telinga nggak kemasukan pasir ntar, sarung tangan, kaos kaki 2 lapis, masker dan slayer, sama kacamata gogle buat lindungin mata.

IMG_2366 IMG_2376(Sebelum berangkat, masih di Kalimati)

Air yang kami siapkan dari Sumber Mani tadi pun kami bawa. Di tas yang aku bawa, ada 3 botol, yang satu ditambahin nutrisari jeruk, dan yang lain dibiarkan air putih. Namun, malam itu, tanpa kami tambahkan es, rasa ketiga air di botol itu sudah berasa ada es nya, saking dinginnya suhu di sana.

Beberapa rombongan sudah berjalan dari setengah jam yang lalu. Bismillah, kami mulai berjalan menyusur padang luas ke arah kiri Mahameru (gak tau itu arah mana), turun kayak nyeberang sungai yang gak ada air, lalu belok kanan lewat jalan agak sempit dan masuk ke hutan cemara. Jalan yang kami lalui bentuknya kayak parit, di antara pepohonan cemara, dan makin lama jalan ini makin naik.

IMG_2495(Jalan pendakian dari Kalimati waktu siang)

Beberapa pendaki yang berangkat duluan tadi sudah capek dan istirahat, dan kami pun nyelip mereka..

“mari mas”, sapa seorang anggota kami lewat depan mereka.

“silakan mas, nanti gantian kami selip lagi. Hehe”, balasnya sambil senyum.

Tak lama pun, gantian kami yang istirahat di akar-akar pohon cemara ini, sambil berusaha memposisikan tubuh kami nggak halangin jalur pendaki lain yang mau lewat.

“nah, gantian, kami duluan yaa. Hehe..”, sapa mas mas yang tadi kami selip.

“haha… yo mas, nanti gantian kami selip lagi”, jawabku.

Sembari istirahat, kami buka bekal kamu tadi, minuman yang jelas. Air yang tadi diisi nustrisari ternyata enak buat penghilang lelah. Satu temen yang tadinya nggak mau minum air mentah, kini minta minum yang nutrisari itu setelah dikompori sama temen satunya buat minum.

Selesai istirahat yang sebentar saja, kami lanjutkan perjalanan dengan medan menanjak ini. di atas terlihat kelap-kelip headlamp tanda pendaki yang sudah duluan tadi. Kami berusaha menyusulnya. Kalo awal pendakian kemaren, ujian fisiknya adalah bahu yang memang nggak kebiasa bawa beban berat lama lama, sekarang ujiannya adalah kekuatan tumpuan kaki. Jalan yang terus naik memaksa kaki beberapa kali ngerasa hampir lemes. Tapi Alhamdulillah, nggak nyampe keram atau cedera lainnya.

Setengah jam jalan, temen minta berhenti, istirahat dulu. Tetiba dia muntah, tapi nggak banyak, cuma cairan, mungkin agak mual juga kali jalan naik kayak gitu. Pas ditanya, katanya nggak apa, mungkin gara gara minum air nutrisari tadi, nggak kebiasa minum begituan pas ndaki katanya.

Jalan di tengah hutan cemara yang lebat dan di tengah malam pula, kami hanya berharap pada headlamp buat nunjukin jalan depan. Entah, di kiri kanan jalan apa kadang nggak jelas keliatan. Kadang pas berhenti, ternyata kanan kami adalah jurang. Sementara sepanjang perjalanan itu, deru gemuruh angin semakin kecang berhembusnya. Kalo tadi pas di Kalimati, gemuruh angin terdengar di atas kami, tapi sekarang kami merasa kami semua ada di dalam gemuruh angin itu. Udara semakin dingin malam itu akibat angin kencang bulan Juli di Semeru.

Sejam berjalan, kami sampai di ketinggian 2.900MDPL, tepatnya di satu tempat yang lumayan lapang bernama Arcopodo. Beberapa tenda terlihat di sini, dan beberapa pendaki juga terlihat sibuk mempersiapkan pendakian ke Mahameru juga. Kami istirahat di bawah pohon yang tertempel papan nama Arcopodo. Sinyal operator handphone ada di sini. Beberapa pendaki sengaja mengaktifkan hp nya, mungkin buat say hello lewat sms ato calling calling kabarin kalo udah nyampe Arcopodo, ato yang lainnya lah. Hehe.. sengaja waktu itu aku nggak aktifin hapeku, tepatnya aku bikin mode flight, biar nggak boros baterai. Pun kalo diaktifin, ntar takutnya malah ada sms masuk yang bikin kepikiran.

IMG_2489(Arcopodo waktu siang hari)

Teman kami yang jalannya paling belakang meminta kamera yang ku bawa dari tadi,

“kameranya Dik, mau foto bintang, di sini keliatan gede-gede bintangnya”, mintanya.

“nih”, ku keluarin kamera itu dan kuberikan ke dia.

“duluan aja, nanti aku susul. Pasti kesusul ntar. Hehe..”, katanya lagi.

Akhrinya, kami bertiga jalan duluan. Terus naik jalanan ini. kelap-kelip headlamp di atas berasa nggak ada habisnya. Heran, berapa banyak ini pendaki dari bawah tadi perasaan udah banyak nyelip pendaki lainnya, ini masih aja ada yang di atas. Moga-moga bener-bener pendaki manusia itu headlamp. Hehe..

Jalan kami bertiga semakin jarang berhenti. Formasinya waktu itu aku di tengah. Yang di paling depan, makin atas, makin membabi-buta jalannya. Aku dan temen di belakang pun ikut kepengaruh. Entah ada tarikan ato apa, rasanya lebih gampang dan nggak gampang capek kalo jalan belakang orang lain itu.

Tutup kepala, sarung tangan dan masker yang daritadi aku pake, kadang aku lepas, biar kerasa lebih bebas. Rasanya ada yang ketahan kalo napas pake masker. Pun sama juga penutup kepala dan sarung tangan, serasa menghalangi keluarnya keringat dari badan ini, akhirnya pun aku lepas. Tapi, makin atas, dinginnya makin tajem, dan akhirnya aku pake lagi itu barang-barang.

“depan udah medan pasir, siapin tutup telinga sama kacamatanya”, kata temen yang di depan.

“mana to ? kok belom keliatan”, tanyaku.

“ini udah mulai kerasa beberapa pasir kebawa angin. Perhatiin dah”, jawab dia.

Dan memang beberapa udara malam di sini lumayan tercampur pasir kayaknya. Dan jadi agak batuk juga kalo menghirup itu. Akhirnya ku pake kacamata yang dari tadi di dalam tas. Eh, tapi pas pake kacamata ini malah bikin aku nggak bisa liat jalan depan. Kayaknya emang mataku agak kabur ato gimana, kalo malem mesti agak kesulitan buat liat jalan sekitar.

Kami lanjutkan perjalanan, dan ternyata saat itu kami sudah sampai di tempat yang namanya Cemoro Tunggal. Tempat ini adalah batas akhri vegetasi di Semeru. Berikutnya yang terhampar adalah medan pasir dan trek naik. Trek inilah yang paling terkenal di Semeru, dan yang paling berbahaya. Di kanannya ada jurang yang selama ini sudah banyak korban hilang dan tewas di sana, namanya Blank 75. Namun malam itu cukup gelap untuk menyembunyikan bentuk jurang itu, sehingga tak banyak terlihat.

IMG_2483(trek pasir waktu siang)

IMG_2487(trek pasir waktu perjalanan turun)

Mulailah kami masuk ke trek pasir, melewati jalan kecil yang bisa dilalui satu orang aja, dan di depan sudah naik trek pasir.

“inilah pendakian yang sebenernya”, kata temen yang di depan sambil mengencangkan syal di bahunya.

“bismillah, kuatkan punggung dan kaki hamba ya Allah”, doaku dalam hati memulai langkah di trek pasir.

Di atas, beberapa pendaki sudah naik, dan di belakang kami pun ada rombongan pendaki juga, kalo nggak salah dari Bandung.

“yang di atas, kalo ada batu jatoh, kasi tau yaaa”, kata rombongan di belakang kami.

“yaa mas, ati-ati”, jawabku.

Pasir yang katanya bisa nenggelamkan kaki selutut, malam ini Alhamdulillah nggak terlalu dalam, paling dalem cuma nyampe betis. Mungkin sebab erupsi Semeru beberapa waktu lalu.

Kami naik selangkah demi selangkah. Aku di posisi kedua waktu itu. Temen yang tadi berhenti di Arcopodo, kini udah keliatan di belakang. rombongan yang di depan kami menepi dan berhenti istirahat.

“selip aja kalo ada yang berhenti, biar cepet”, bisik temen yang ada di belakang.

Kami jalan terus, masih bertahan kaki kami Alhamdulillah. Tapi beberapa saat kami pun juga berhenti di sebuah batu besar tepi kanan jalan. Seperti biasa, hanya minum air nutrisari yang sudah semakin sedikit. Cuma sebentar saja, dan kami lanjutkan perjalanan naik ini.

Teman yang paling depan memang sudah beberapa kali mendaki Mahameru. Kali ini, dia nunjukin kelasnya dalam mendaki Mahameru. Jalannya semakin membabi-buta di depan, satu satu rombongan pendaki dilewati. Awalnya kami bertiga di belakang bisa ngimbangin bareng dengannya, tapi satu waktu tenaga kami sudah gak cukup buat kejar dia. Dan kami akhirnya terpisah…

Temen yang di belakangku aku suruh duluan, soalnya beberapa kali kakiku sudah mulai pegel dan agak lemes juga. Tapi dia pun sama, akhirnya kami gantian di depan dan belakang. sementara temen yang paling belakang masih nyante, sambil dengerin musik dari hapenya, kayak pendakian sebelumnya.

Sebenernya dari awal tadi pengen aku pake kacamata buat lindungin mata dari angin yang bawa pasir ini. Ternyata tiap kali aku pake kacamata ini, aku nggak bisa liat jalan malahan. Ya sudahlah, aku ilkhlaskan mataku kemasukan debu pasir yang lumayan banyak juga di sini. Selain itu, udara yang makin dingin ini juga bikin aku serasa kena flu.

“ayo dik, jangan nyampe keselip aku”, kata temen di belakangku yang sebenernya kasi semangat ke aku biar nggak terlalu banyak berhenti sambil senyum.

“yo mas, sik sik”, jawabku sambil berdiri lagi.

“jangan liat atas, liat bawah aja dan terus jalan”, katanya lagi.

Tiap kali aku jalan berdiri, pada langkah kelima aku mesti jatuh, dan akhirnya aku lanjutin jalanku dengan merangkak. Jalan dengan kondisi merangkak sangatlah melelahkan ternyata. Sedikit saja, aku harus istirahat ngos-ngosan. Tiap kali pengen berdiri, kaki yang kelilit pasir ini sudah buat melangkah, dan akhirnya jatuh lagi, dan merangkak lagi.

Suara penyemangat di belakang serasa mengganggu kenyamanan jalanku. Tiap kali mau istirahat, sudah dioprak-oprak suruh jalan lagi. Dan sampai akhirnya kami bertiga di satu batu besar. Aku kepikir ide, biar aku bisa jalan sendiri dengan bebas.

“mas, tolong kasih contoh nih lewatin batu besar ini”, kataku sambil ngos-ngosan nunjuk batu besar di depan.

“yo, nih aku lewat”, balasnya.

Akhirnya dia dan temanku lewat batu besar itu, dan aku sendiri di balik batu.

“hah, bisa istirahat tenang juga akhirnya”, kataku pelan.

Sebenarnya batu besar itu ada celah di sebelah kanannya dan aku pun bisa lewatin dengan manjat dikit, cuma waktu itu aku lagi pengen ndaki sendiri dengan nyaman, jadinya aku kibulin tuh biar duluan. Hehe.. maaf yaa.

Lumayan lama lah dibanding sebelumnya aku istirahat di balik batu itu, tapi nggak nyampe 5 menit. Rombongan belakang tertinggal masih jauh. Aku berusaha bangkit dan manjat batu itu.

“Lah, udah ilang”, kaget aku liat depan udah gak ada orang lagi, dan kedua temanku juga tadi udah ilang gak keliatan.

Itulah awal aku jalan sendirian dan dengan bebas pula aku bisa tentuin kapan aku bisa berhenti dan lanjutin perjalanan. Tapi ada kekhawatiran juga, di tas ku ada 3 botol air minum, takutnya mereka yang di depan gak ada bekal dan gak bisa minum juga. Akhirnya aku berusaha ngejar ketertinggalanku ini.

Sama kayak sebelumnya, aku berusaha naik sambil berdiri, tapi tetep aja jatuh, merangkak, nyoba berdiri lagi dan jatuh lagi. Terus kayak gitu dan itu aku sendiri, jadi lebih nyaman lah. Sampai ketika aku ketemu pendaki yang di depan, dan aku mau nyelip dia, sebelumnya aku istirahat di deketnya.

“mas, ada minum ?”, tanyanya sambil ngos-ngosan.

“ada mas”, jawabku.

“boleh minta mas ?”, pintanya.

“boleh, ambil di resleting nomer 3 ya”, jawabku nyuruh dia ambil sendiri minuman di dalam tas.

“makasih mas”, katanya sehabis minum.

Dan aku pun akhirnya pamitan duluan, sedangkan dia juga mulai mau naik lagi. Beberapa kali kami masih sama-sama barengan, dan satu waktu dia minta air lagi dan aku kasi yang di tas ini. dia nggak bawa tas waktu itu, dan katanya dia ketinggal sama rombongannya yang bawa bekal.

Akhirnya kami kepisah, dan dia di belakang berhenti lagi. Katanya mau nunggu temennya yang masih di bawah. Akhirnya aku duluan lanjut ke atas.

Masih sendirian aku terus melangkah di medan pasir ini dan sampai ketika ada batu besar di kiri jalan. Aku berhenti agak lama. Ku pandangi arah berlawanan dari puncak, ya Kota Malang kalo nggak salah. Dan sebelah kananku, rembulan sabit terlihat memerah indah malam itu. Angin malam makin kencang dan menusuk. Aku liat jam, masih jam 2.00 dini hari.

“udah tinggi juga aku naik dari tadi”, aku menghibur diriku dan mengumpulkan semangat yang mungkin bisa hancur gara-gara pasir beginian.

“ya, udah hari jumat, semoga barokah, bismillah, berikan kekuatan ya Allah di kakiku”, aku lanjutin perjalanan ini.

Sampai ketika aku bertemu mas-mas yang menarik mbak-mbak di belakangnya. Ya, ini yang anak Surabaya ketemu di Sumber Mani tadi. Si mbak yang di awal tadi sebenernya gak kuat kini ditarik oleh mas mas itu. Muka mbaknya pucat, dan nafasnya terengah-engah. Sambil nancepin pisau panjangnya di depan, mas ini narik tangan mbaknya sambil ngasi semangat pada si embak ini. sampai di batu, mereka berhenti.

Jalanku semakin ke kiri, dan aku kepeleset dan melorot ke bawah. Pasir yang dari tadi “menggigit”, kini jadi licin dan keras, dan ternyata aku salah jalur.

“mas, ini lo jalannya”, kata si mas yang narik mbak itu sambil nunjuk arah kanan di balik batuan.

“makasih mas, saya duluan”, aku lalui mbak dan mas itu.

Di atasnya batuan agak banyak, aku berhenti di situ. Kali ini kalo berhenti sendirian, selain minum, aku keluarin juga permen jahe biar gak terlalu kedinginan dan juga buat selingan. Tapi ternyata permen ini nggak ngaruh ngurangin kedinginan. Permennya aja hampir beku dan keras gitu.

Aku lanjutin perjalanan. Masih merangkak, dan sesekali aja berhasil jalan sambil berdiri. Kali ini ketemu rombongan lagi, dan sedikit kami bercakap-cakap sama mereka.

“masih jauh mas ?”, tanyaku.

“nggak tau mas, kayaknya sekitar 2 jam lagi”, jawabnya.

“wah, jauh ya”, balasku sambil liat atas yang kayaknya keliatan tinggal dikit lagi.

“mas, kayaknya kami nyampe di sini aja, kabut udah turun, angin makin kencang dan dinginnya nggak karuan”, katanya lagi.

“wah, udah nyerah nih pada, padahal udah jauh jalan, paling nggak kan lebih deket puncak ini dari pada yang tadi”, batinku.

Mereka akhirnya berfoto-foto di situ dan turun barengan sekitar 5 orang. Sementara aku lanjutin perjalanan naik. Ketiga teman rombonganku bener-bener udah ilang. Gak keliat dan kedenger sama sekali. Lanjutkan pendakian dalam kesendirian. Setiap pejuang ia akan melalui masa berjuang dalam kesendirian, dan yang bertahan itulah namanya pejuang tangguh, pejuang sejati ! –kata buku Catatan Seorang Demonstran-

Medan pasir agak kerasa berkurang, dan kini sudah banyak batuan besar. Aku merapat ke pinggir kiri, dan berpegangan batu kiri jalan aku bisa jalan sambil berdiri.

“ini sudah deket puncak, Alhamdulillaah, katanya kalo udah nemu batuan besar, itu udah deket”, bisikku pelan keinget kata temen pas di bawah tadi.

Harapan kembali muncul dan aku bersemangat terus naik. Rasa pegel udah nggak ku rasakan lagi dan malah seakan udah ilang. Sampai ketika aku nyampe di ujung tebing.

“Lah, jurang!”, kataku heran.

Di depan jalan adalah jurang. agak remang keliatan turun tajam. Di arah kiri ada jalan kecil. Di atas aku nggak liat pendaki sama sekali, sedang di bawah rombongan masih jauh. Aku putuskan berhenti istirahat dulu di ujung jurang itu.

“masak lewat jalan kecil horor itu ?”, kataku pelan.

“ah, rombongan bawah ini jauh, berhenti-berhenti pula. Kapan nyampenya ke sini?!”, batinku.

“pokoknya gak boleh keduluan mereka!”, sambil berdiri dan menyusun semangat lagi.

Akhirnya aku kepikir buat manggil ketiga temenku yang di depan. Kupanggil satu-satu dan gak ada jawaban satupun dari mereka. Sampai beberapa kali, akhirnya dari balik batu sebelah kiri nongol beberapa headlamp pendaki.

“wah, itu jalannya brati, Alhamdulillah”, kataku.

Aku lewat jalan kecil ke kiri yang horor karena di antaranya adalah jurang. ujung jalan itu masuk ke sela-sela batuan yang besar. Jalannya di sini gampang, pasirnya sedikit. Di sela batuan itu ternyata banyak pendaki yang istirahat. Sebagian menggigil karena kedinginan. Memang di situ dinginnya nggak ukur-ukur. Entah berapa derajat ini di sini, mungkin nyampe minus.

“mas, permisi, duluan yaa”, kataku lewat di sampingnya.

“iyaa, silakan mas”, dia mempersilakan sambil menggigil.

Ada empat orang di situ kalo nggak salah waktu itu. Aku melewatinya. Mungkin jalan depan sudah deket banget sama puncak, makanya mereka nyante, batinku.

Jalan naik terakhir, aku ketemu daerah datar berbatu agak kecil, namun tak berpasir. Di depan sebelah kanan ada semacem bendera, tapi udah dikit robek, dan gak tau itu bendera apaan. Tak ada orang yang ku liat di sini. Agak bingung awalnya ini tempat apaan, jangan jangan aku tersesat, pikirku.

IMG_2396(area kosong penuh batuan)

Sambil jalan yang agak sempoyongan, aku panggil temen-temen rombonganku. Sekali, dua kali, sampai dapat jawaban. Dari depan, balik batuan agak kecil, ada tangan melambai, dan manggil namaku. Aku percepat jalanku ke situ dan itu adalah mereka bertiga yang sudah duluan dari tadi.

“Alhamdulillaah, nyampe juga kamu Dik, sujud syukur sana, akhirnya nyampe puncak gunung juga kamu buat pertama kalinya”, katanya sambil menggigil kedinginan.

Aku langsung roboh bertumpu lutut, dan langsung bersujud di sana dan mengucap syukur pada Allah yang telah berikan rahmat, perlindungan dan kekuatan padaku hari itu. Campur aduk rasanya dan terharu, akhirnya keinginanku buat ndaki gunung sebelum lulus bisa kesampean. Dan lebih senengnya lagi, gunung pertama yang aku daki sampai puncak adalah gunung tertinggi di pulau Jawa, Mahameru. Alhamdulillah ya Allaah..

Tak hentinya aku panjatkan syukur. Sujud sekalipun rasanya nggak puas, aku tambah lagi bersujud hingga tiga kali sebagai ungkapan syukur pada Allah.

Hari masih gelap, aku liat jam di hape, pukul 04.26. lima jam kurang lebih dari Kalimati tadi ternyata, dan sampai juga di puncak. Angin di sini sangat kencang, dan sangat dingin menusuk masuk ke tubuh. 4 lapis kaos dan jaket nggak mampu nahan dingin.

“kepagian kita nyampe puncak, aku kira lama tadi kita jalan soalnya banyak barengan, eh malah kita paling dulu ini nyampe puncak.. rrrrr.. itu pake mantelmu biar nggak kedinginan, merapat sini”, kata temen ke aku.

Mereka sudah nyampe sejak 3.30 tadi. Hampir sejam aku ketinggalan sama mereka tadi ternyata. Kami berempat merapat menunggu rombongan lain yang muncak juga.

“sholat subuh yok, udah masuk ini”, ajak temenku.

“ayok”, jawabku sambil menggigil.

Alhamdulillah, pagi itu, Jumat 5 Juli 2013 kami diberikan kesempatan sholat subuh jama’ah di puncak Mahameru. Kenikmatan yang mungkin nggak semua orang bisa dapatkan. Melawan hawa dingin untuk kekhusukan sholat yang ternyata nggak gampang. Sepanjang sholat kami menggigil kedinginan karena angin yang makin kencang.

IMG_2425

IMG_2476(fajar menyingsing)

Selese sholat, aku nyoba hidupin hp, mungkin ada sinyal, aku bisa nelpon keluargaku kalo aku baik-baik aja, dan sekarang ada di puncak Mahameru. Ternyata gak ada sinyal, ya sudahlah, nanti kabar menyusul.

Beberapa pendaki sudah naik dan nyampe puncak pagi itu. Matahari mulai naik dan kami menikmati sunrise dari atas Mahameru. Sesekali dari kawah Jonggring Saloka ada letupan asap dan material vulkanik lainnya. Ingin sekali berfoto di sana, tapi hawa dingin ini semakin buat pikiran kami nggak jernih. Harapa munculnya matahari bakal menghilangkan rasa dingin yang makin menjadi-jadi ternyata salah.

IMG_2432

IMG_2416

IMG_2412

IMG_2459(sunrise terlihat di Mahameru)

Matahari tetep bersinar, tapi angin tetep kencang dan dinginnya minta ampun. Coba kami makan kurma, tapi udah habis se-plastik hasilnya tetep dingin. Coba kami lari-lari, tetep aja dingin.

“aku udah 3 kali ke Mahameru, tapi baru kali ini dinginnya bikin nggak kuat”, kata temenku yang memang udah pengalaman.

“nggak apa lah, yang penting udah nyampe Mahameru, udah bersyukur banget”, jawabku.

IMG_2433

IMG_2448

IMG_2434(Letupan asap vulkanik dari kawah Jonggring Saloka)

Perjalanan awal yang agak nggak jelas, banyak hambatan dan perselisihan pendapat, akhirnya berbuah manis ketika semua masih punya kesadaran akan visi yang sama, tujuan yang sama. Banyak ketidakcocokan di antara kami, namun tak pernah memecah kami dalam perjalanan ini. ya, inilah kepercayaan dan kemauan yang berhasil mengalahkan semuanya. Membawa kami sampai pada tujuan awal bersama, meski banyak halangan dan hampir menggagalkan tujuan utama ini tercapai.

IMG_2436

IMG_2441(bersama pendaki lain di Mahameru)

Jalanan yang terjal ke puncak bersama medan batuan dan pasir Semeru, hembusan angin yang dinginnya menusuk daging, tak pernah menyurutkan kami menapakkan langkah dan memanjatkan syukur pada Allah di Mahameru. Berjalan terseok-seok karena kaki tertancap pasir, jatuh, merangkak, berdiri, jatuh lagi, merangkak lagi, inilah sebuah fase perjuangan yang sesungguhnya. Istirahatpun di balik batuan dan posisi tak enak. Tak ada namanya kenyamanan dalam perjuangan. Inilah gambaran sebuah perjuangan!

Kami sudah semakin tak kuat menahan rasa dingin di Mahameru. Kondisi badan yang menggigil terus nggak baik kalo tetap bertahan di sana. Tak hanya aku saja yang menggigil, tapi kami berempat sama-sama menggigil kedinginan. Pukul 06.30 kami putuskan untuk turun dan berpisah dengan Mahameru. Sebelum berpisah, kembali lagi aku bersujud syukur pada Allah sudah diberikan kekuatan bisa menapakkan kaki di sini. Semua ini adalah ciptaan-Nya, tak ada keraguan atas ciptaan-Nya yang menakjubkan ini, Mahameru, puncak tertinggi di pulau Jawa. Semoga suatu saat diberikan kesempatan kembali lagi ke sini.

IMG_2482

IMG_2470

“kuatnya kaki dan pundak bukanlah kekuatan utama untuk menggapai puncak, tapi keteguhan hati, kerasnya niat, dan terus mengingat Sang Pencipta, adalah inti kekuatan penting seorang pendaki menaklukkan gunung-gunung tinggi.”

 

“seluruh alam ini adalah ciptaan Allah, termasuk gunung-gunung yang menjulang tinggi. Jika kau menginginkan menggapai semua itu, maka mendekatlah pada Allah. Karena semua ini adalah milik-Nya dan semuanya ini dalam kekuasaan-Nya”

Tulisan ini saya dedikasikan untuk ketiga rekan pendaki yang telah mengantarkan saya ke puncak gunung pertama saya. Rekan yang mendaki dengan penuh semangat, tanpa ada keluhan sedikitpun selama pendakian. Meski banyak perselisihan yang terjadi, Mahameru menjadi saksi bahwa kita tetep sampai bersama-sama di sana, tak ada yang kurang. Terimakasih banyak sudah mengantarkan saya mengukir langkah pendakian pertama ini. Tak akan terlupakan kalian bertiga dalam hidup saya. Semoga kita bisa dipertemukan kembali…

(Still in memories, Jogja-Semeru, 1-5 Juli 2013)

2 thoughts on “Ujian Keteguhan Hati Menggapai Puncak Mahameru 3.676 MDPL

  1. SAYANG SEKALI WAKTU SAYA KE SANA,TEAM SAYA DG ORANG2 YANG SOMBONG,,AKHIRNYA KURANG BISA MENIKMATI SELURUH PERJALANAN LUAR BIASA ITU,,TP ALHAMDULILLAH DARI 13 ORANG ,,HANYA 3 ORANG YANG MAMPU SAMPI KE PUNCAK MAHAMERU SALAH SATUNYA SAYA,PULANG DENG SELAMAT DAN SANGAT BERSYUKUR,,,KE KALIMATI SAJA SAYA SENDIRIAN KARENA TEAMNYA PADA MANJA,,

    1. Maaf baru dibalas.
      Oh, lain waktu sebelum naik mungkin perlu ditegaskan bersama tujuan dan visi pendakiannya mas, juga tentang kedisiplinan dan kekompakan. Jadi, tim bisa berjalan seirama dan bisa menikmati perjalanan bersama sama.
      Semoga lain waktu bisa menikmati pendakian dengan tim yang lebih baik ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s