Cerita

Danau Cantik Terselimuti Kabut Itu Bernama Ranu Kumbolo

“….pasti kita terbang tinggi, bila terus berlari, teruskanlah tanpa henti. Kau angkatlah tangan tinggi, genggamlah terus jemari untuk gapai sebuah mimpi.”

(Kotak – Tendangan dari Langit)

…………………………………………………………………………………………………………

(Lanjutan dari Post sebelumnya)

Hari masih pagi, namun sudah lewat dari adzan subuh, sekitar pukul 5.00, jalanan di depan Kampus Putih masih lengang. Suasana rumah pun masih sunyi, mungkin karena semalem pada nonton tv sampai larut jadinya adak siangan bangunnya.

“mas, bangun mas, wes jam limo eh”, kataku bangunin temen yang masih tidur.

“yo, sik”, jawabnya sambil bangun dan membereskan barang di sekitarnya.

Salah satu teman kami sudah berwudhu dan siap buat sholat subuh menunggu kami berdua buat sholat berjamaah. Akhirnya. Setelah kamar mandi kosong, kami berwudhu, dan kemudian sholat subuh berjamaah bertiga.

“piye bar iki planning e ?”, seorang teman memulai pembicaraan.

“yo, bar iki langsung mangkat ae, soale iki wes janjian karo koncoku di Tumpang, tapi isih bingung iki jam piro, sms ku durung dibales”, jawab seorang yang lain.

Sementara aku cuma diam aja, mau berkomentar apa juga nggak tau. Maklum, dalam perjalanan ini aku masih sebagai anak baru, jadi ngikut aja apa kata imam di depan.

Akhirnya, pagi-pagi itu juga langsung kami berempat berangkat melanjutkan perjalanan. Tas-tas ransel dan carrier pun sudah disiapkan semua, dan sudah dipastikan tak ada barang yang tertinggal.

“hati-hati yo mas, ngko lek mudhun n sempet yo mampir kene meneh oleh. Mugo-mugo slamet nyampe Jogja maneh”, pesan Bapak yang rumahnya kami tumpangi menginap.

“nggih Pak, maturnuwun nggih. Ngapunten menawi ngrepoti”, balas seorang teman, sambil bersalaman, pamitan.

 1malangdatang1

(Sumber : http://4.bp.blogspot.com/-apKj9y3O7sg/T2BhPqzoD7I/AAAAAAAAAAU/ienAg9qla4o/s1600/1malangdatang1.jpg)

Kami berjalan sepanjang jalan depan UMM, Landungsari, dan masih terus saja, bingung juga itu arah kemana. Banyak angkot yang bertanya, mau kemana mas?, kami hanya menolak, karena memang masih bingung ini mau kemana, selagi kami berdiskusi soal tumpangan apa yang efektif untuk menuju daerah terdekat dari langit. Di pinggiran sepanjang jalan, banyak ibu-ibu yang berjualan sayuran, buah, dan lainnya jadinya jalan protokol ini serasa seperti pasar saja di pagi hari ini.

Langkah kami terhenti di pinggiran toko yang masih tutup. Sementara melepas lelah, padahal baru jalan paling 1 kilometeran, dan juga itung-itung ngelanjutin diskusi, mau dibawa kemana perjalanan kita ini. Sebuah angkot ADL berhenti menawarkan jasa,

“arjosari mas ? ato mau kemana”, tanya si bapak sopir.

Seorang temen berdiri menghampiri bapak sopir itu,

“Pak, teng perempatan Blimbing saget ? niki berempat kira-kira pinten ?”, tanyanya melobi si bapak sopir angkot.

Entah gimana cerita lobi-lobi ini, akhirnya kenalah harga total buat ke perempatan Blimbing itu 16ribu, dan dibagi 4 orang, jadinya per orang 4ribu rupiah. Muraaah..

Berkeliling kota Malang di pagi hari baru kali ini aku rasakan. Cuaca yang masih dingin, jalanan belum ramai, dan yang banyak terlihat hanya petugas DKLH yang membersihkan jalanan, dan beberapa anak muda. Mayoritas pertokoan masih tutup, hanya titik tertentu yang sudah buka, terutama di dekat pasar yang memang sudah rame.

Beberapa kali melewati kampus-kampus ternama di kota apel ini, Universitas Brawijaya, Politeknik Negeri Malang, dan beberapa kampus lagi, lupa apa. Banyak banget temen SMA di kampus-kampus ini, soalnya memang deket dari Kediri, sekitar 3 jam lah. Berharap ketemu satu aja lah dari mereka, eh ternyata sudah lewat jauh juga kagak ketemu seorang pun.

Sampai di perempatan jalan besar, angkot belok kanan, dan berhenti di kiri bahu jalan.

“pun, nyampe sini mas perempatan Blimbing. Kalo mau ke Tumpang, itu angkotnya yang berhenti di belakang. Pas banget iki lagi enek angkot e”, kata pak sopir.

“oh, nggih Pak, matur suwun nggih”, sambil kami berikan uang ongkos perjalanan, 16ribu.

 tumblr_m6qdlm1IRD1qmqehko1_1280

(Sumber : http://25.media.tumblr.com/tumblr_m6qdlm1IRD1qmqehko1_1280.jpg)

Kami berganti angkot jurusan Arjosari-Tumpang yang di dalamnya sudah ada beberapa ibu-ibu yang kayaknya mau ke pasar dengan tas khasnya.

“nuwun sewu nggih buk”, kataku sembari lewat di depannya.

“nggih mas, monggo, tasnya ditaruh sini saja”, kata ibu itu sambil menunjuk tempat kosong.

“mboten buk, kersane kulo pangku mawon”, jawabku sambil senyum ke ibu itu.

Angkot berwarna kuning anak kehijauan ini pun jalan, dan beberapa kali berhenti buat naikin dan turunin penumpangnya. Di pintu angkot itu ternyata sudah tertulis tarip perjalanan, dari Arjosari-Tumpang = Rp 6.000. temen pun bilang, “wes 5ribu ae ngko bayare. Ndi kene diklumpukne”. Kami mengumpulkan uang masing-masing 5ribu rupiah buat bayar angkot. Lebih mahal memang, soalnya perjalanannya lebih jauh dari sebelumnya.

Kami turun di depan sebuah masjid besar, lupa apa namanya, di dekat pasar Tumpang. Kami turunkan carrier dan ransel di pinggir jalanan, dan siap buat belanja. Kata temen, pasar ini barang-barangnya murah, terutama buah-buahan, sayur, dan hasil bumi lainnya. Makanya, dari Jogja, kami nggak bawa bekal sayur dan buah, cukup beli di sini saja.

 tumpang

(Sumber : http://statik.tempo.co/data/2012/10/23/id_146644/146644_620.jpg)

“yuk, aku karo Didik blonjo yo. Kowe nunggu kene wae. Arep titip opo ?”, tanya seorang temen.

“wes sak sake, sing penting buah buahan ae, karo sayur”, jawab yang lain.

“jamur ae yo, ngko disayur karo jadiin krispi. Hehehe..”, katanya lagi.

Kami berdua belanja sayuran, wortel, buncis, dan bumbu masak, buah juga beli buah kesemek dan taklupa juga beras, dan lauk telor bebek buat makan selama di atas nanti. Memang ternyata harga barang-barang di pasar tradisional Tumpang ini lebih murah dibanding pasar-pasar di Jogja. Yaiyalah, di Jogja di Kota, ini jauh dari Kota. Jadi, ternyata Pasar Tumpang ini masuknya di Kabupaten Malang sebelah timur agak selatan gitu dah. Udah hampir masuk Kabupaten Lumajang, insya Allah.

Setelah selese, kami kumpul lagi di tempat semula. Selagi kami beres-beres, ada mas mas yang menghampiri dari pinggir jalan, dan ngajak ngobrol.

“mau ndaki kemana mas ? Bromo, apa Semeru ?”, tanyanya.

“Semeru mas, insya Allah”, aku njawab.

“hmmm, lagi bagus ini cuacanya mas. Smoga gak hujan nanti. Kemaren itu ada yang meninggal dari sana. Udah tua sih mas, jadi mungkin nggak kuat gitu. Dibawa ke puskesmas, tapi gak nutut”, katanya ngasi informasi.

“matilah kau, baru aja mau ndaki, lha kok wes crito enek sing meninggal”, batinku. Agak ngeri juga denger yang beginian, tapi insya Allah niat udah bulet, smoga diberikan perlindungan sama Allah lah, sebaik baiknya tempat berharap, dan meminta pertolongan.

“tapi yang kmaren udah tua kok mas, kalo masnya insya Allah saya yakin kuat”, ini juga banyak kok kayaknya yang mau berangkat.

“Alhamdulillah, masih ada harapan laah. Paling nggak memperkuat mental. Hehe..”, batinku lagi.

Obrolan terus lanjut sama temen yang lain juga, tapi nggak lama kemudian kami pamit disusul pesan dari mas nya buat ati-ati selama perjalanan. Berikutnya, kami nyari tumpangan buat ke desa paling dekat dengan langit, Desa Ranu Pani. Singkat cerita, kami dapat truk di teman dari rombongan kami. Truk yang dipake ini truk yang biasa ngangkut sayuran, tapi kali ini bakal buat ngangkut orang. Sebenernya bisa juga naik jip (bahasa inggrisnya jeep), tapi karena mahal, jadinya kami naik truk. Maklumlah mahasiswa, belom bisa nyari uang sendiri, jadinya ngirit dah. Hehe. Sebelum naik, kami disuruh mempersiapkan syarat-syaratnya, fotokopi KTP, dan surat sehat buat entar diseharin ke basecamp di Ranu Pani.

Di dalam truk, udah ada 4 orang, satu cewek dan 3 cowok, dan setelah berkenalan mereka ternyata dari UPN Jatim di Surabaya dan rencananya mereka cuma mau camping di Ranu Kumbolo. Jadi total yang naik ada 8 orang, jadinya ongkos 350ribu dibagi berdelapan. Berapa itu, koma koma gitu, itung sendiri yaa. Hehe.

Sepanjang perjalanan, kami saling ngobrol daerah masing-masing, cerita Surabaya, cerita Jogja, pendakian gunung, de el el. Sesekali kami berdiri, melihat sepanjang jalan yang semakin lama ternyata semakin naik, jalannya pun nggronjal-nggronjal, dan cuacanya juga makin dingin.

“iki ngko lho lek bar pertigaan Bromo-Semeru, pemandangane apik”, kata seorang temen jelasin, soalnya dia udah pernah ke sini sebelumnya, jadinya ya tau.

“saiki dalanane wes apik yo, jaman aku taun wingi rene jek watu watu karo lemah”, sia nambahin.

Sepanjang jalan pemandangannya hutan-hutan pinus dan cemara-cemara gunung dengan kabut tebal menyelimuti. Dan ternyata bener apa kata temen, pas abis lewat pertigaan Bromo-Semeru, pemandangan kiri jalan memang keren, kayak di wallpaper luar negeri gitu. Jadi pemandangannya itu jalan lembah ke arah Gunung Bromo, mungkin trek pasirnya juga di sana. Sayangnya nggak terlalu jelas waktu itu, kadang keliatan, kadang tertutup kabut. Sayaaang banget emang dah. Jadi dari pertigaan tadi, kalo ke kiri turun itu ke Gunung Bromo, kalo terus, ato ambil kanan, itu ke arah Semeru kayak yang bakalan ditempuh ini, insya Allah.

Jalannya memang sudah lumayan bagus, diplester beton dan aspal. Kata temen, sudah bagusan ini daripada sebelumnya dia kesini. Mungkin efek film yang lagi booming soal Semeru, 5 cm itu juga. Lagi trend emang itu film, efeknya banyak banget yang pengen ndaki ke Semeru. Bahkan, pas awal rilis film 5 cm itu, katanya pendaki Semeru mencapai ribuan. Nggak tau dah isinya apa itu film, saya sendiri belom pernah nonton, cuma denger dari cerita temen aja.

Setelah perjalanan 2 jam dari Tumpang tadi, sampailah kami di Ranu Pani, Desa tertinggi di pulau Jawa (ketinggian 2.200 MDPL), dan masuk kawasan rawan bencana erupsi Gunung Semeru. Di Ranu Pani ini, banyak pemukiman warga, yang mayoritas berkebun dan bercocok tanam di lahan pegunungan. Cocok tanamnya kayak kubis kubis gitu, sama sayuran lainnya, nggak tau namanya apa, mau difoto juga lupa ini.

Kami sampai di ujung jalan, lalu karena lapar kami mampir di warung makan di sana. Di depannya, ada warung yang unik, tertulis “warung paling dekat dari langit. Kami menyediakan, apa yang anda lupakan”. Kami makan nasi, sayur, lauk tahu, dan sambel petis yang khas banget di Jatim. Beuh, enaknya nggak ada bandingannya dah, di tengah cuaca dingin dan perut lapar, emang buat makan apa aja itu surga dunia kedua (kata temen dulu di BEM). Kami masih berdelapan bareng temen dari Surabaya tadi yang setia nungguin kami yang makan. Mereka ternyata udah makan dari tadi di Tumpang.

Selese makan, kami mulai jalan ke basecamp dan sebelum itu temen ada yang mampir ke Masjid di pintu masuk, tau lah mau ngapain. Berdelapan, masing-masing bawa ransel dan cariernya. Yang aku bawa ini ada ransel pinjeman dari temen, dan di depan ada kamera DSLR yang juga pinjeman. Jadi intinya semuanya minjem biar irit. Hehe.. Hidup Mahasiswa dah.

Jalan ke basecamp agak naik dikit, lurus dari warung tadi, trus belok kiri naik lagi. Nggak jauh, paling 200 meteran lah, tapi udah lumayan kerasa pundak ini. Nyampe basecamp, kami bongkar muat barang yang ada di tas, ada yang ditinggal, ada yang dibawa naik, semua udah kami siapkan dari Jogja dulu dengan dikreseki pisah pisah. 2 orang dari kami ngurus administrasi di basecamp, dan baru sebentar udah balik lagi.

“wah, semprul, sama bapaknya malah ditinggal makan og. Hehe..”, kata temen yang satu.

“yo gak opo opo lah mas, kan iso leren disik”, jawabku.

di depan dinding basecamp, ada poster tulisan “Selamat Datang dan Selamat Mendaki Gunung Tertinggi di Pulau Jawa. Mahameru 3.676 MDPL”. Wow, mrinding, insya Allah sampai lah di atas. Meski baru pertama mendaki gunung dimanapun, insya Allah yakinlah bakal nyampe puncak Mahameru, dan juga liat kawah Jonggring Saloka. Di papan pengumuman, ada juga tulisan soal keindahan pendakian Semeru, mulai dari vegetasi, suasana sekitar, sampai fauna yang di sana apa aja. Ada juga himbauan hati-hati buat pendaki.

IMG_1858

 Image0576

 Image0575

Nah, ini yang ngeri, di bagian paling kiri papan ada daftar nama korban Gunung Semeru. Ada banyak banget, ngeri lah. “Semoga nama kami nggak tertulis di sini nambahin daftar”, berdoa dalam hati. Ada juga orang terkenal di daftar ini, Soe Hok Gie, “Sang Demonstran”, kan beliau meninggalnya di Mahameru sini karena hirup gas beracun dari puncak. Hidup Mahasiswa bro !

 semeru-jalur-ranupani

(Sumber: http://4.bp.blogspot.com/-Tbu93IWMCyc/UU6Jw0AnRuI/AAAAAAAAAfc/Xylf-4IvEG0/s1600/semeru-jalur-ranupani.jpg)

Selagi nunggu, temen ngambil foto Ranu Pani yang ada danaunya keren. Ya namanya juga “Ranu”, ya bakalan ada danau, Ranu artinya Danau. Di deket sana ada juga danau/Ranu yang katanya lebih indah, Ranu Regulo, tapi kami nggak sempat ke situ, cukup di Ranu Pani aja dulu.

 IMG_1861

Nggak lama, temen yang urus administrasi selese sudah, dan kami bersiap berangkat. Bismillaah, jalanan awal aspal di samping kirinya tebing, dan kanannya persawahan warga. Pas akhir jalan aspal ini, jalur belok kanan, dan kami disambut pintu selamat datang.

 100_1905

(Sumber : http://3.bp.blogspot.com/_1aDiAw3IvY0/TNttimcD2jI/AAAAAAAAAVk/fHRJAJRG91c/s320/100_1905.jpg)

Perjalanan lanjut, jalanan yang tadinya lebar, jadi sempit dan naik. Jalur pendakian mulai naik, kalo ngikutin jalan lebar yang tadi kagak bakal nyampe nyampe, soalnya itu ke perkebunan penduduk. Jalanan naik, dan ternyata banyak orang juga yang naik, dan ada juga yang udah turun gunung. Tiap papasan sama pendaki, kami saling bertegur sapa, dan inilah hangatnya ukhuwah sesama pendaki, kayak yang dicritain temen yang sering ndaki gunung juga.

 IMG_1863

Baru jalan berapa meter aja, kami udah pada ngos-ngosan.

“haha… baru sak mene padahal, hah. Wes ngos ngosan je, munggah e dalane”, kata seorang temen.

“disiko ae mas !”, kata temen yang tadinya di depan, nyuruh aku di paling depan.

Akhirnya aku di paling depan, dan temen yang lain ngikutin di belakang. Sepanjang perjalanan, kiri jalan itu alang-alang yang tinggi, dan kanan tebing. Kadang kiri jalan itu jurang. Jalannya belok belok kayak ular, tapi cuma ada 2 belokan, kanan dan kiri. Hehe.. kata temen, jalannya emang sengaja dibuat belok belok, jadinya agak jauh memang, ini buat njaga biar pendaki nggak gampang tersesat. Jalanannya beberapa sudah di-paving-blok, tapi justru pas lewat jalan beginian jadi gampang capek.

Jalan naik dikit, datar, belok kanan, belok kiri, turun, naik lagi, disamping kiri jurang, kanan tebing, pepohonan pinus, dan cemara khas pegunungan menghiasi jalanan ke pos 1 ini. Di jalan, kami nyelip mas dan mbak dari Surabaya tadi yang memang nyante katanya jalannya. Dua paling muda, jalannya di belakang kami, dan buat biar gak bosen selama jalan, kami cepet cepetan nyampe pos satu.

Sekitar satu jam lebih dikit, kami nyampe pos 1 di ujung jalan pas di belokan. Di sana ada banyak pendaki juga yang istirahat, dari yang naik, ato juga yg jalan turun. Karena udah penuh, aku duduk di bawah, paling dulu nyampe, dan temen temen lain nyusul di belakang. Seorang mas mas, menyapa kami, dan ngajak ngobrol.

“dari UGM mas ?”, tanya mas itu.

“iya mas, mas darimana ?”, tanyaku balik.

“UGM juga mas, Peternakan. Hehe.. jauh jauh ke sini ketemunya anak UGM juga ya”, katanya sambil ketawa.

“haha.. lha iya, mas turun apa naik ?”, tanyaku lagi.

“turun mas, ini nunggu temen di belakang. eh, ini ada makanan kecil”, lanjut  dia sambil nawarin sebungkus roti biskuit.

“makasih mas”, sambil aku ambil sebatang roti itu.

Kami terus ngobrol, sampai 2 teman kami yang ketinggal jauh di belakang dateng. Pas mereka dateng, kami siap siap berangkat.

“waah, ngunu yo aku teko, kowe budal. Yo wes ra opo opo, kono ndang minggat”, katanya sewot, soalnya mau ditinggal.

“haha.. yo ra opo opo to, jarene wes tau rene peng akeh. Yo wes, ketemu di pos 2 wae yo”, temen jawab.

“ra usah pos 2, ketemu di pos 3 ae, pos 2 kecedeken. Haha..”, jawabnya sambil ketawa.

“Oke”, jawab temenku.

Dan kami pun lanjutin perjalanan ke pos 2. Jalanan masih sama, cemara, dan pinus masih menghiasi jalan setapak yang cuma muat jejer dua, bahkan satu orang aja ini. ternyata bener, pos 2 itu dekat (buat ukuran orang gunung), dan masih kerasa jauh kalo menurutku. Hehe. Sampai kami di pos 2 yang di tanjakan, kemudian jalan lurus, pos 2 ada di pinggir kanan jalan. Belakang pos 2 ini tebing tinggi, dan depannya adalah pemandangan jurang tertutup kabut tebal. Kebetulan cuaca waktu itu dingin basah, mendung dan berkabut, kayak mau hujan, dan memang sebentar lagi bakalan hujan. Sekitar 10 menit kami istirahat di pos 2 berempat, dengan 2 orang dari Surabaya tadi.

Lanjut perjalanan kami ke pos 3, yang memang agak jauhan dari sini. Jalanan masih sama kayak tadi, pepohonan pinus. Di sini ada tempat kiri jalan yang berupa tebing tegak yang mirip gunung tempat Sun Go Kong dihukum sama Budha, namanya Watu Rejeng. Pemandangannya keren, batuan tinggi, dan terselimut kabut yang menutup bagian atasnya. Jadinya kayak misteri aja itu bukit berapa tingginya. Perjalanan panjang, belok belok, naik naiknya yang udah agak lumayan, terus saja. Di jalan, tak jarang kami nyelip pendaki lainnya yang berhenti buat istirahat. Kadang kami pun gantian diselip, dan ketika nyelip atau diselip itulah kami saling sapa dan kadang ngobrol. Ya, lagi lagi, inilah ukhuwah yang erat dari pendaki.

Sepanjang jalan yang panjang ini, temen nyetel musik mp3 di hp nya buat mengusir rasa bosan dan capek. Kadang pun kalo aku dan temen ngerti lirik lagunya, ya ikutan nyanyi lah buat seru seruan biar gak capek. Lagunya jelas bukan lagu galau lah, ntar malah bikin lemes kalo itu. Kadangpun pas temen yang bawa mp3 ini ketinggal jauh, buat nambah semangat, kadang nyanyi sendiri lagu-lagu penyemangat, dan yang paling favorit buatku ya tetep, “Totalitas Perjuangan”.

Setelah lewat sebuah jembatan, dan kemudian naik, sampailah kami di pos 3. Pos nya masih rubuh, jadi kami istirahat di bawah, bareng pendaki lain yang juga istirahat. Mereka sudah sampai duluan di sini, sudah bikin bakar bakar, dan lainnya. Kami tawarin mereka roti, tapi mereka bilang kalo udah makan, dengan senyumnya. Setelah ngobrol-ngobrol agak lama, mereka duluan naik ke atas.

“awake dewe keri ae, bar iki dalane munggah nemen”, kata temen ngingetin.

Memang, jalanan abis pos 3 ini naik tajam, dan memang tantangan terberat di sini sebelum nyampe Ranu Kumbolo. Agak lama kami istirahat di pos 3 ini daripada pos 1 dan pos 2 tadi sebelumnya. Sembari nunggu temen dan ngumpulin tenaga, kami nunggu biar rombongan depan agak jauhan.

Setelah 2 temen tertinggal belakang nyampe, dan istirahat, bareng-bareng kami naik. Baru berapa langkah aja, kami udah berhenti, wow, memang paling berat, naiknya tajem banget. Derajat kemiringan ini sekitar 45 derajat lah naiknya, dengan jalan tanah. Terus naik, terus naik, dan terus naik, kami nyelip beberapa rombongan di depan, yang udah duluan tadi. Kuat gak kuat, dikuat kuatin deh, kapan nyampenya kalo banyak berhenti berhenti.

Kanan kami adalah tebing, dan kiri adalah jurang. Kadang jalannya mlipir pinggir tebing. Di pinggir jalan ada papan peringatan bahaya longsor, dan saling menjaga antar pendaki, dilarang saling mendahului, soalnya jalannya licin dan sempit. Kalo nyampe kepeleset dan salah arah, bisa masuk jurang dah.

“itu ntar abis sebelum pos 4, ada pertigaan, ambil kiri wae ben cepet nyampe Ranu Kumbolo tapi gak ke pos 4. Tapi lek pengen ambil gambar, yo kanan ke pos 4, pemandangane apik”, kata temen.

Ternyata waktu itu lalu hujan turun, agak deres. Kalo tadi masih kuat gerimis-gerimis gak pake mantel, tapi kalo yang ini ragu kalo nggak pake mantel.

“mas, kameramu lek kehujanan opo opo gak ?”, tanyaku.

“yo opo opo sih Dik, mantelan wae lah”, jawabnya.

Akhirnya aku pake mantel plastik warna merah yang dari tadi terselip di belakang tas ini. karena pake mantel ini, kami berdua ketinggal rombongan depan dari Singosari dan Surabaya tadi.

“wes kene ae belok kiri, ben cepet nyampe”, kata temen nunjuk turunan tajam.

“tenane mas ? wah, iso rak iki, sepatuku lunyu eh”, aku jadi agak ragu.

“iyo ra opo opo, kuwi lo Ranu Kumbolo ne”, jawabnya lagi.

“okelah, bismillah”, jawabku.

Kami berdua mulai turun tanjakan tajam itu. Sesekali kepeleset dan jatuh, tapi masih bisa nahan, jadi gak nggelinding. Dan ternyata benar, Subhanallaaah di depan ada danau yang cantik banget, ciptaan Allah, Ranu Kumbolo (2.400 MDPL).

 IMG_1865

 IMG_1875

 IMG_1874

IMG_1867

Perlahan kabut pergi, dan terlihat air yang tenang di pinggiran danau itu. Kabut naik, dan seketika bukit bukit hijau keliatan menegelilingi danau itu. Subhanallah, baru pertama ini aku liat pemandangan alam yang keren kayak gini. Bener bener mirip kayak di khayangan, ada kabut kabut nya, dan taman taman hijau juga.

 IMG_1882

Kami jalan menyusur pinggir danau, dan sesekali mengambil gambar. Temen temen yang lain yang lewat pos 4, masih di atas menyusur jalan. Terlihat kecil dan kami pun teriak menyapa mereka. Kami bertemu di lembah antar bukit bukit itu setelah mereka turun. Lalu kami jalan barengan lagi.

 IMG_1880

 IMG_1890

“kita campingnya di sebelah sana aja, deket Tanjakan Cinta”, kata temen yang ketinggal di belakang tadi.

Ya, ternyata di jalur pendakian Semeru ini ada trek yang namanya tanjakan Cinta. Ada ceritanya sih, ntar deh tapi.

Kami naik bukit, dan menelusur jalan sempit, dan sampailah kami di lembah pinggir danau Ranu Kumbolo, kemudian kami mendirikan tenda di sana.

 IMG_1903

IMG_1899

IMG_1905

Ranu Kumbolo masih terselimut kabut. Pemandangannya yang kadang tertutup semakin menambah cantik dan eksotis danau yang memang sudah terkenal ini. Entah berapa suhu di sini, yang jelas sangat dingin. Kabut berjalan cepat, kadang datang, turun dari atas, dan kadang juga ilang. Ditambah lagi, suara gemuruh angin yang terus terusan dari balik bukit menambah suasana tambah mirip di gunung (padahal memang di gunung).

 IMG_2060

IMG_2047

IMG_2136

Di atas, langit mendung, dan awan berjalan cepat.

“wah, koyoke iki lagi badai di atas. Itu tanda tandanya awannya hitam dan cepet banget”, kata seorang temen.

“oh iyo, mugo mugo sesok wes tenang lah”, kata seorang lagi.

Ceritanya kami camping di Ranu Kumbolo sini dulu setelah perjalanan panjang tadi. Dari basecamp Ranu Pani ke Ranu Kumbolo ini ditempuh 4,5 jam. Kami berangkat dari basecamp jam 11.00, dan sampai sini jam 15.30. Di ranu Kumbolo ini sudah banyak tenda tenda pendaki lainnya yang memang juga camping disini.

 IMG_2137

Ada orang dateng dengan senyumnya menghampiri dan menyalami kami,

“piye piye ? arep muncak iki ?”, tanyanya.

“yooi mas.”, jawab temen rombonganku.

Ternyata mereka sudah saling kenal karena temen rombonganku yang satu ini udah beberapa kali mendaki Semeru.

“ngko lek pas bali, aku traktir lo ya mas, bakso di Tumpang. Hahaha….”, kata temen di sela pembicaraannya sambil ketawa bercanda.

“wes, pokok beres. Apa se sing nggak buat kamu. Hehehe..”, kata mas nya yang itu.

Akhirnya, mas itu pun pamit pergi dulu buat ngantar temennya muncak ke Mahameru. Lalu kami sholat ashar dulu di sana, dan jama’ ta’khir qoshor sama dhuhur. Berwudhu di danau, wih, bener kayak air es dah ini rasanya air ranu Kumbolo. Sholat di atas matras, atas tanah. Untungnya kami bawa kompas , jadi bisa tentuin kemana arah kiblat sholat kami.

Tak lupa, setelah sholat kami sujud syukur pada Allah udah diberikan kelancaran dan keselamatan sampai di sini. Ditambah juga sama doa, biar bisa lanjutin perjalanan dengan lancar lagi, nyampe di Puncak Mahameru. Insya Allah…

Gemuruh suara angin dari atas tetap terdengar, kabut semakin banyak yang turun ke lembah dan danau, dan angin berhembus menambah suara dingin menjelang maghrib di Ranu Kumbolo. Tak lama kemudian, terdengar suara adzan dari seorang pendaki sebelah, mengajak pendaki lain sholat maghrib berjama’ah. Beberapa pendaki bersiap wudhu, dan ada juga yang masih sibuk di sekitar tendanya buat masak, dan ada yang masih ngobrol ngobrol juga.

Dari arah atas, beberapa orang terlihat turun, dan sepertinya dari puncak. Ya, insya Allah ganti lah besok rombongan kami yang bakalan turun dari sana setelah sampai dari Puncak Mahameru. Aamiin…

IMG_2141

IMG_2201

”Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (Q.S Fussilat ayat 53 )

*Bersambung dulu, besok dilanjut insya Allah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s