Energi

Melihat Realita Sumber Daya Energi Indonesia Saat Ini

Kangean-Energy-Starts-Production-at-Terang-Gas-Field-Offshore-Bali-Indonesia

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar dunia dengan gugusan ratusan ribu pulau membentang luas dari wilayah sabang sampai merauke. Wilayah Indonesia yang demikian luas sama panjangnya dari Inggris melampaui Eropa hingga Irak. Batas barat Indonesia adalah Sabang berada di Greenwich London, sedangkan batas timurnya, Merauke berada di Baghdad Irak. Batas utaranya, Kepulauan Talaut berada di Jerman, sedangkan batas selatannya, Pulau Rote berada di Aljazair.[1]

Dalam tubuh wilayah Indonesia yang demikian luas, terkandung sumber daya alam dan potensi energi yang melimpah, baik di dalam permukaan tanah, maupun di atas permukaan tanah. Dalam perut bumi Indonesia terkandung mineral batubara, gas, minyak bumi yang merupakan hasil proses fosil berjuta tahun yang lalu. Batubara, gas dan minyak bumi merupakan campuran sangat kompleks dari senyawa-senyawa hidrokarbon dan unsur lain dalam jumlah kecil seperti belerang (S), nitrogen (N), oksigen (O), vanadium (V), nikel (Ni), besi (Fe), tembaga (Cu), air dan garam-garam terdispersi[2]. Selain itu, dalam hal sumber daya energi, Indonesia juga mempunyai kandungan energi panas bumi yang melimpah. Sabuk gunung api pasifik yang melintas Pulau Sumatra, Jawa hingga ke timur merupakan potensi kekayaan lain dari bumi Indonesia.

Pembahasan tentang potensi energi dan sumber daya alam Indonesia di bawah permukaan tanah selalu identik dengan kekayaan minyak bumi, gas alam dan batubara. Produksi minyak bumi Indonesia tahun 2010 mencapai 344.89 SBM, dan pada akhir tahun 2012, cadangan minyak bumi terbukti (proven) adalah sebesar 4,039.57 MMSTB (Million Stock Tank Barrels), sedangkan cadangan potensial (potential) adalah 3,692.70 MMSTB, sehingga total cadangan minyak bumi Indonesia adalah 7,732.27 MMSTB[3].

Titik pertemuan antara produksi dan konsumsi minyak bumi Indonesia adalah pada tahun 2003. Beberapa faktor yang menyebabkan melonjaknya permintaan minyak melewati jumlah produksi ini adalah meningkatnya aktivitas masyarakat Indonesia yang sebagian besar menggunakan alat berbahan bakar minyak (BBM), seperti transportasi, industri, bahkan pembangkit listrik. Kuota BBM bersubsidi 2010 mencapai 38,228 juta kilo liter dan kuota BBM non subsidi mencapai 27,041 juta kilo liter. Dengan kondisi yang demikian, Indonesia harus melakukan impor minyak untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Tercatat, pada tahun 2012 berdasarkan data Pertamina, total impor minyak mentah Indonesia mencapai 98.21 juta barrel atau sekitar 300,000 barrel per hari.

Cadangan batubara Indonesia masih cukup banyak mencapai 80 miliar ton[4]. Kandungan batubara tersebut 50% berasal dari Sumatra dan 50% berasal dari Kalimantan. Kebutuhan batubara untuk aktivitas dalam negeri mencapai 85 juta ton per tahun, sedangkan produksi batubara Indonesia mencapai 270 juta ton per tahun. Dengan demikian, Indonesia mempunyai surplus dalam hal produksi batubara, sehingga sisa produksi ini kemudian akan diekspor. Permintaan batubara dalam negeri saat ini hanya sekitar 25% dari produksi total batubara.

Konsumsi batubara nasional sebagian besar dialokasikan ke pembangkit listrik oleh PLN (Persero). Kebutuhan batubara nasional pada tahun 2013 diproyeksikan akan naik sebesar 27.7% menjadi 64.1 juta ton untuk PLN. Hal ini sejalan dengan visi besar PLN untuk meningkatkan besaran rasio elektrifikasi nasional setiap tahunnya dengan meningkatkan kapasitas dan konsistensi pembangkit listrik nasional. Kuota surplus produksi batubara nasional yang tidak dipakai akan diekspor ke negara lain. Saat ini, kerjasama ekspor batubara Indonesia antara lain dengan negara Cina, India, Amerika, dan Eropa. Nilai ekspor batubara Indonesia saat ini mencapai angka 185 juta ton[5]. Ekspor batubara tersebut merupakan salah satu andalan untuk menghasilkan devisa negara karena harganya yang semakin melambung tinggi di pasar internasional.

Selain batubara dan minyak bumi, Indonesia juga memiliki cadangan gas alam dengan jumlah besar. Data tahun 2010, cadangan gas bumi Indonesia terbukti mencapai 104.71 TCF (Trilliun Cubic Feet), dan cadangan potensial sebesar 48.74 TCF. Produksi LNG (Liquified Natural Gas) mencapai 24.18 juta ton dan dikapalkan keseluruhan untuk kebutuhan ekspor. Produksi LPG (Liquified Petroleum Gas) pada tahun 2010 sebesar 2.48 juta ton dengan tambahan impor mencapai 1.62 juta ton.

Permintaan dalam negeri untuk gas alam pada tahun 2013 mencapai 50.3% dari total produksi nasional, sedangkan sisanya, 49.7% dialokasikan untuk kebutuhan ekspor. Konsumen gas terbesar nasional adalah PT. PLN (Persero) dengan konsumsi sebesar 11%. Menyusul berikutnya adalah industri pupuk dengan tingkat konsumsi 7.8%. Sejak tahun 2005, konsumsi gas nasional terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2005, konsumsi gas mencapai 3.541 MMSCFD (Million Standard Cubic Feet Per Day). Setahun kemudian, jumlah tersebut meningkat menjadi 3.716,1 MMSCFD dan pada tahun 2009 tercatat mencapai 4.233,7 MMSCFD. Peningkatan konsumsi gas dalam negeri ini terjaid karena peningkatan aktivitas industri terkait yang menggunakan bahan bakar gas seperti pabrik pupuk, listrik , industri keramik, dan lainnya.

Salah satu energi alternatif yang terkandung dalam bumi Indonesia dan belum termanfaatkan adalah energi panas bumi. Indonesia yang terletak dalam lingkar pegunungan api pasifik dan merupakan tempat pertemuan lempeng Pasifik, lempeng India-Australia, dan lempeng Eurasia. Pertemuan lempeng-lempeng berperan sangat penting dalam pembentukan sumber energi panas bumi Indonesia. Keseluruhan potensi cadangan panas bumi Indonesia sebesar 29 GW berdasarkan data Kementerian ESDM tahun 2011. Pemanfaatan potensi panas bumi Indonesia saat ini adalah sebagai pembangkit listrik tersebar dalam enam titik wilayah yaitu di Sibayak kapasitas 2 MW (Pertamina), Gunung Salak kapasitas 375 MW (Chevron), Darajat kapasitas 255 MW (Chevron), Kamojang kapasitas 140 MW (Pertamina), Dieng kapasitas 60 MW (GeoDipa) dan Lahendong kapasitas 20 MW (Pertamina).[6]

Melihat terbatasnya kandungan energi Indonesia seperti minyak bumi, batubara dan gas alam di atas, perlu kiranya kita untuk memikirkan alternatif energi lain ketika sumber energi di atas telah habis. Pemanfaatan energi panas bumi sebagai energi baru seperti contoh di atas yang masih belum optimal seharusnya mampu ditingkatkan melihat prospek dan potensi ke depan yang masih banyak. Selain itu juga, diversifikasi energi melalui pemanfaatan potensi energi terbarukan juga harus digalakkan dengan penelitian dan aplikasi praktis pemanfaatan sumber daya energi terbarukan yang ada seperti tenaga matahari, angin, biogas, biomassa, dan gelombang laut yang jumlahnya juga melimpah di bumi Indonesia.

Oleh : Didik Hari Purwanto

Komunitas Mahasiswa Sentra Energi – Teknik Fisika UGM


[1] Dikutip dari Buku Api Sejarah, Karya Ahmad Mansur Suryanegara

[2] Dikutip dari Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar FT UGM oleh: Prof. Ir. Suryo Purnomo, MASc, Ph.D. Peranan Sumber Daya Alam Berbasis Fosil Bagi Kehidupan Manusia dan Cara Mengatasi Kekurangannya Dengan Enhanced Oil Recovery

[3] Outlook Energi Indonesia 2012

[4] Pernyataan Direktur Pembinaan Penguasaan Batubara Kementerian ESDM RI

[5] Data Kementerian ESDM

[6] Data Energi Kementerian ESDM 2011

One thought on “Melihat Realita Sumber Daya Energi Indonesia Saat Ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s