Buku

Battle of Grozny Jilid Kedua dan Ketiga (Chechnya #3)

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/6/6a/Evstafiev-helicopter-shot-down.jpg
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/6/6a/Evstafiev-helicopter-shot-down.jpg

“Bagi para pejuang Muslim Chechen, ketika sebuah letusan ditembakkan di wilayah Kaukasus, maka gemanya akan tetap terus terdengar hingga 100 tahun”

            Babak kedua battle of Grozny terjadi pada rentang waktu 4-17 Januari 1995, sedangkan babak ketiga antara 17 Januari-8 Fabruari 1995. Rusia masih optimis akan mampu menguasai kota Grozny pada tanggal 5 Januari 2005. Dalam Kota Grozny waktu itu masih terdapat 400 personil tempur militer Garda Nasional Dudayev yang dipimpin oleh Jenderal Aslan Maskhadov. Pejuang Chechnya yang ada dalam kota terdiri dari berbagai kalangan, ada yang militer reguler, dan ada yang dari kalangan militan sipil. Semuanya bersatu padu untuk melawan tentara Rusia.

Rusia berlajar banyak dari kekelahan telak pada babak pertama. Mereka kemudian melakukan perubahan strategi dengan tidak menyerang kota Grozny melalui jalur darat, akan tetapi melalui jalur udara. Rusia melancarkan serangan dengan mengebom kota melalui pesawat tempur, kemudian ditambah serangan roket, meriam artileri, tank yang smeuanya mengarah ke kota Grozny secara membabi buta. Akibatnya, jatuh banyak korban dari kalangan sipil. Bahkan, korban terbanyak adalah etnis Rusia sendiri. Hal ini kemudian mendorong Jenderal Vorobyov mengundurkan diri dari jabatannya.

Pengeboman berjalan selama 20 hari, terkadang intensitasnya sampai 4.000 tembakan per jamnya. Pemboman ini tercatat sebagai kampanye pemboman terbesar di Eropa sejak penghancuran kota Dresden oleh Sekutu pada perang dunia II. Menyusul setelah pemboman, pasukan Rusia masuk dengan tank-tank dan kendaraan lapis baja menuju ke Presidential Palace di pusat kota Grozny. Rusia menggunakan strategi licik dengan memanfaatkan senjata non konvensional yang brutal secara kemanusiaan seperti gas air mata, gas beracun, bom kimia, penyembur api untuk memaksa Pejuang Muslim Chechen keluar dari gedung-gedung. Mereka menyemburkan senjata tersebut ke setiap gedung, tidak memandang apakah di gedung tersebut ada pejuang Chechen apa tidak. Sehingga, lagi-lagi korban yang berjatuhan adalah penduduk sipil (non combatants).

Tanggal 7 Januari 1995, Rusia mulai mengkonsentrasikan serangan pada kompleks istana Kepresidenan Chechnya di Ibukota Grozny. Serangan diawali dengan pemboman kilang minyak dan Gedung Istana Kepresidenan. Saat itu, Istana dipertahankan oleh 350 personil tentara reguler di bawah komando Jenderal Aslan Maskhadov, dan 150 milisi sipil bersenjata. Basis pertahanan pejuang Chechen sangat kuat dan berhasil memukul tentara Rusia, bahkan Jenderal Viktor Vorobyov tewas dalam pertempuran. Jenderal Vorobyov menjadi daftar orang pertama dalam daftar panjang jenderal-jenderal yang tewas di Chechnya.

Rusia menerapkan strategi yang licik berupa tawaran gencatan senjata pada 9 Januari 1995 selama 48 jam. Namun, baru 2 jam berjalan, artileri Rusia kembali menghantam istana Kepresidenan. Tawaran gencatan senjata ternyata hanya trik Rusia untuk dapat mempersiapkan diri saja untuk peperangan selanjutnya. Rusia berhasil membuka koridor untuk masuknya pasukan Federal Rusia ke dalam Kota Grozny. Mereka melakukan rotasi pasukan dan mengevakuasi pasukan yang telah tewas untuk keluar medan pertempuran.

Bom dan tembakan meriam artileri terus menghantam istana setiap detiknya. Pesawat Sukhoi Su-25 menjatuhkan 2 bom jenis bunker buster (bom untuk menjebol bunker) dari atas istana dan jatuh dari lantai 11 menerobos hingga menjebol bunker belakang istana Presiden. Bahkan ada yang jatuh 20 meter dari Jenderal Aslan Maskhadov. Tapi atas izin Allah, bom tersebut tidak meledak. Pemboman yang terus menerus ini memaksa pejuang Chechen harus mundur dan menembus blokade pasukan Rusia. Tujuannya adalah menggalang kekuatan kembali untuk menyerang kota lagi. Tanggal 19 Januari, pasukan Rusia berhasil menduduki Istana Kepresidenan Chechnya yang tinggal reruntuhannya saja. Tentara Chechnya mengibarkan bendera Federasi Rusia di atas reruntuhan gedung kepresidenan Chechnya.

Pasca dikuasainya pusat kota Grozny, Rusia menghentikan aktivitas pengeboman terhadap pusat kota Grozny, dan kemudian melakukan evakuasi mayat tentara Rusia yang banyak berserakan. Presiden Rusia, Boris Yeltsin mengumumkan bahwa operasi militer di Chechnya telah usai, dan Jenderal Rokhlin komandan pasukan Rusia dinobatkan sebagai pahlawan Federasi Rusia, namun ia menolak, karena ia merasa sama sekali tidak ada kemenangan yang patut dibanggakan. Ia bahkan mengatakan bahwa pertempuran Chechnya adalah pertempuran di tanah airnya sendiri dan terhadap bangsanya sendiri.

Setelah pusat kota Grozny, Rusia mengalihkan serangan ke arah selatan kota dimana pejuang Chechen mundur saat pengepungan. Tercatat 30.000 proyektil peluru setiap harinya diluncurkan ke arah posisi pejuang Chechen. Rusia mengebom seluruh jembatan yang ada di Sungai Sunzha agar tidak ada pejuang yang lolos dan menjadikan sungai Sunzha sebagai benteng pertahanan alami.

Sepanjang jalanan kota, sampai ujung selatan, pasukan Rusia banyak mendapatkan perlawanan gigih dari pejuang Chechen. Tanggal 2 Februari 1995, Jenderal Kulikov menyatakan bahwa Rusia berhasil mengusir pejuang Muslim keluar kota Grozny, dan sisanya hanya di distrik Oktyabrskiy. Tanggal 8 Februari 1995, 80% kota Grozny telah jatuh ke tangan Rusia di bawah kendali Jenderal Kulikov. Namun, selama itu, masih sering terjadi serangan oleh grup-grup pejuang Muslim Chechen di dalam kota. Pertempuran selanjutnya adalah peperangan jalanan secara gerilya.

Penarikan mundur pejuang Chechen ini dinyatakan Jendela Aslan Maskhadov bukan sebagai kekalahan. Melainkan perubahan strategi untuk menghindari semakin banyaknya korban tewas di kalangan sipil akibat kebrutalan pasukan Federasi Rusia. Pada akhir Februari 1995 setelah hampir 40 hari pertempuran, baku tembak di Grozny berakhir. Tanggal 7 Maret 1995 Rusia mendeklarasikan kemenangan di Grozny. Salah satu pejuang Chechen berkomentar, “Rusia telah membuat kesalahan besar. Kami berhasil mempertahankan kota Grozny selama 37 hari, sementara Berlin tahun 1945 hanya mampu bertahan 2 minggu. Perang ini akan tetap terus berlanjut, hanya saja kini tanpa ada lagi garis depan yang perlu dipertahankan.”

Pertempuran kota (urban combats) di Grozny banyak memberikan pelajaran berharga bagi kedua pihak. Meskipun kota Grozny berhasil direbut Rusia, namun Rusia juga menanggung kerugian yang sangat besar. Sebagian pengamat militer menilai, sekalipun kota Grozny jatuh ke tangan pasukan Rusia, namun kemenangan taktis dan strategi ada di pihak pejuang Chechnya. Keberhasilan pejuang Chechnya pada tahap awal pertempuran adalah pada semangat jihad dan kegigihan dalam menerapkan taktik perang yang telah direncanakan secara matang. Para Pejuang memiliki keyakinan dan mental percaya diri yang sangat tinggi sekalipun dalam tekanan pihak Rusia yang brutal. Sekalipun juga mereka tidak didukung persenjataan dan perlengkapan perang yang lengkap dan modern. Pasca pertempuran di kota Grozny, pejuang Chechen mengalihkan pertempuran di kota-kota lainnya di wilayah Chechnya. Beberapa di antaranya ada di Shali, Argun, dan Gudermes. Hal ini dilakukan sebelum mereka mundur ke wilayah pegunungan Kaukasus yang ada di selatan Chechnya.

Kerugian militer kedua belah pihak selama Battle of Grozny mencapai ribuan. Pihak Rusia menyatakan kerugiannya adalah 1.376 serdadunya tewas, dan 408 hilang. Namun menurut hitungan Presiden Dudayev, jumlah korban tewas pasukan Rusia mencapai 4.000 personil pada 3 hari pertama serangan di tahun 1995. Sedangkan di pihak sipil sebanyak 27.000 orang korban jiwa yang mayoritas adalah etnis Rusia sendiri. Namun menurut Dmitri Volkogonov, selama pemborbardiran militer Rusia terhadap kota Grozny, telah menewaskan 35.000 penduduk sipil termasuk 5.000 anak-anak. Perbedaan kalkulasi korban ini tentunya sudah diatur demikian tergantung pada kepentingan yang dijalankan. Seperti Rusia, sengaja memperkecil angka kematian pasukan dengan tujuan menjaga citra baik kualitas tentaranya.

To be continued…

Didik Hari Purwanto

Intisari buku “Perang Chechnya” oleh Ari Subiakto, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s