Buku

Battle of Grozny Jilid Pertama (Chechnya #2)

http://cdn.c.photoshelter.com/img-get/I0000HsPys3A9Ve0/s/900/russia-chechnya-war-eru102563.jpg
http://cdn.c.photoshelter.com/img-get/I0000HsPys3A9Ve0/s/900/russia-chechnya-war-eru102563.jpg

“Perang Chechnya merupakan pertempuran paling dahsyat. Kedahsyatannya hanya dapat ditandingi oleh pertempuran di kota Stalingrad dan Berlin dalam Perang Dunia II”

            Grozny merupakan kota yang dijadikan benteng pasukan Rusia di pos terluar untuk mendukung operasi militer mempertahankan garis depan sepanjang 700 mil di wilayah Kaukasus dari serangan pejuang Muslim Chechen. Tahun 1994, kota Grozny memiliki jumlah penduduk 490.000 jiwa yang terdiri dari perpaduan etnis Chechen dan Rusia. Kota ini seluas 90 mil dan terbelah menjadi dua bagian oleh sungai Sunzha. Saat kemerdekaan Republik Islam Chechnya pada November 1991, kota Grozny dijadikan sebagai ibukota negara. Wajar apabila ketika pasukan Rusia hendak menginvasi Chechnya tahun 1994 ini, target pertama adalah menguasai kota Grozny.

Amunisi Rusia untuk menghadapi perang Chechnya I adalah dengan mengandalkan pasukan dalam jumlah besar, dan persenjataan yang super canggih. Sedangkan, upaya pejuang Chechnya untuk mempertahankan negara mereka hanya menggunakan sejata apa adanya, yang mayoritas adalah peninggalan pasukan Rusia di tahun 1993 yang meninggalkan Chechnya pasca keruntuhan Uni Soviet. Bagi pejuang Chechnya, yang terpenting adalah pada mental bertempur dan semangat jihad yang tinggi, kedisiplinan, dan taktik strategi jitu yang akan membawa mereka pada kemenangan.

Rusia menurunkan 24.000 personil militer, dimana terdiri dari 19.000 personil dari Angkatan Darat Rusia, dan 4.700 personil dari Kementerian Dalam Negeri (MVD). Pembagian tentara tersebut adalah menjadi 34 batalyon infantri, yaitu 5 batalyon infantri bermotor (motorized riffle), 2 batalyon tank, 7 batalyon lintas udara (airborne), dan 20 batalyon infantri MVD. Mereka dilengkapi 80 tank, 208 ranpur lapis baja seri BMP, dan 182 pucuk meriam artileri howitzer dan mortar serta 90 helikopter tempur. Menteri Pertahanan Rusia, Pavel Grachev mengatakan bahwa ini akan menjadi “Blitzkrieg” paling berdarah yang akan berakhir paling lambat 20 Desember 1994.

Strategi pasukan Rusia saat menyerang Chechnya adalah berpencar menjadi tiga pasukan, dan kemudian bersama menyerang dari tiga sisi wilayah Chechnya. Masing-masing grup pasukan bergerak dari Vladikavkaz dipimpin Letnan Jenderal Chindarov, dari Mozdok dipimpin Letnan Jenderal V. M. Chilindin, dan dari Kizlyar yang dipimpin Letnan Jenderal Lev Roklin. Tujuan penyerangan dari tiga sisi ini adalah untuk mengepung wilayah Chechnya agar pejuang Chechen tidak ada yang bisa meloloskan diri. Akhir Desember 1994, pengepungan dan blokade pasukan Rusia ditujukan di Kota Grozny.

Pasukan Rusia memperkirakan bahwa pejuang Chechen telah membentuk tiga ring pertahanan untuk mempertahankan Grozny. Maka itu, kemudian tugas ketiga grup pasukan Rusia itu adalah untuk memecah belah ring pertahanan tersebut. Ternyata, prediksi Rusia akan ring pertahanan pejuang Chechnya adalah salah besar. Tidak mungkin pejuang Chechnya membentuk ring pertahanan tiga lapis sedangkan jumlah mereka tidak lebih dari 4.500-6.000 personil saja, termasuk hanya 450 tentara reguler dari militer pemerintah Chechnya.

Serangan Rusia dimulai pukul 05.00 dengan mengebom kilang minyak di barat kota oleh pesawat tempur, termasuk institut perminyakan juga tidak luput dari bom. Akibat pemboman yang membabi buta, ribuan penduduk sipil Chechnya tewas. Setelah pemboman pesawat tempur ini, maka diikuti pula masuknya kendaraan lapis baja Rusia ke dalam kota Grozny dari empat arah kolom tempur yang bergerak bersamaan mengepung kota. Namun rencana ini gagal total karena ketidakdisiplinan pasukan Rusia.

Pasukan Rusia, masuk kota Grozny dengan konvoi besar kendaraan lapis baja sepanjang 1 mil. Selama perjalanan mereka tidak mendapat perlawanan apapun. Kepala konvoi adalah tank tipe self-propelled dengan meriam anti-pesawat yaitu ZSU-23-4 dan 9M311 Tunguska. Ketika masuk Jalan Pervomaiskaya, suasana jalan sangat lengang dan ini tidak membuat kecurigaan pasukan Rusia. Padahal di atas gedung tepi jalan, pejuang Chechen bersiap dengan sniper tangguh dan tentara bersenjatakan pelontar granat anti-tank jenis RPG. Ketika rombongan konvoi masuk jalan, dan terlihat ujung depan dan belakang konvoi, maka pejuang Chechen mulai beraksi.

Kontak senjata pertama di Grozny terjadi. Dimulai tembakan granat RPG menghantam dan menghancurkan kendaraan lapis baja paling depan dan paling belakang konvoi. Kemudian konvoi dihujani roket pejuang muslim di atas gedung sepanjang jalan Pervomaiskaya. Jalan Pervomaiskaya ini dijadikan “killing field” oleh pejuang Chechen untuk pasukan Rusia. Saat tentara Rusia keluar dari kendaraan, maka machine gunner pejuang Chechen di atas gedung beraksi membantai mereka. Sedangkan para sniper beraksi dengan target perwira dan komandan pasukan. Tank yang dipersiapkan pasukan Rusia pun tidak berguna, karena pejuang Chechnya bersembunyi di lantai 2 atau 3, juga di basement. Sehingga moncong tank tidak sanggup mencapau posisi ini. Hal ini sudah dipelajari pejuang muslim Chechen. Strategi yang digunakan pejuang muslim Chechen tidak hanya senjata, tapi juga kecerdasan dalam taktik bergerak.

Komposisi pejuang muslim Chechen ini terbagi dalam sejumlah grup tempur (combats group). Setiap grup adalah 15-20 orang, dan terbagi lagi menjadi 3-4 orang (fire teams). Setiap fire teams terdiri dari satu orang bersenjata anti-tank gunner jenis RPG-7 atau RPG-18, satu orang bersenjata senapan mesin berat dan satu orang sniper, serta satu orang pembawa amunisi atau assistant gunner. Tank dan kendaraan lapis baja tentara Rusia menjadi mangsa empuk bagi Pejuang Chechen yang telah lama mereka tunggu. Pertempuran di jalan Pervomaiskaya ini mirip dengan Battle of Stalingrad (1942) dimana pasukan Rusia yang menyerbu bernasib sama seperti tentara Nazi Jerman yang masuk Stalingrad.

Sebagian besar tank dan kendaraan lapis baja Resimen Rifle Bermotor ke-81 tentara Rusia ini menjadi logam rongsokan yang terbakar di tengah jalan. Di sekelilingnya, banyak berserakan mayat tentara Rusia bagaikan kecoak yang disemprot racun serangga. Setelah berhasil menghabisi pasukan Rusia, pejuang Muslim Chechen berpindah ke tempat lain yang sudah dikuasai pasukan Rusia. Strategi pejuang Chechen adalah hit and run, yaitu strategi mereka tidak mempertahankan wilayah, namun mereka memburu pasukan Rusia yang ada di wilayah Chechnya. Mereka berpindah untuk bertempur dimana mereka menjumpai pasukan Rusia.

Target pejuang Chechen selanjutnya adalah stasiun yang telah dikuasai Brigade Maikop ke-131. Ada keanehan ketika perwira komunikasi mendengar suara asing dalam headset mereka mengatakan, “welcome to hell”. Ternyata suara itu adalah suara pejuang Chechen yang kemudian muncul dari balik bangunan dengan membawa RPG. Mereka membidik stasiun yang memang telah diduduki pasukan Rusia itu dan mengubah stasiun menjadi neraka bagi pasukan Rusia. Kendaraan lapis baja dan tank yang parkir rapi di depan stasiun pun tidak luput dari serangan, dan semuanya hancur terbakar dan meladak dihantam tembakan RPG. Sebagian pasukan Rusia lari menyelamatkan diri, namun mereka disambut pejuang Chechen dengan senjata penyembur api, flamethrowers. Sehingga seluruh stasiun terbakar habis beserta penghuninya. Semakin lama, pejuang Chechen yang datang ke stasiun semakin banyak, dan pasukan Rusia terperangkap di dalamnya tidak bisa lari dan mencari pertolongan.

Mendengar kabar bahwa dua grup pasukan Rusia dihancurkan, unit tempur Rusia yang lain penuh dihinggapi kekhawatiran dan rasa takut. Mereka tidak tau harus berbuat apa, dan harus menerapkan strategi apa. Beberapa dari mereka menolak masuk kota, dan hanya di perbatasan saja. Setiap upaya bantuan pasukan Rusia masuk ke kota atau stasiun, selalu berakhir dengan kehancuran dan kendaraan lapis baja yang terbakar akibat hantaman RPG. Satu bantuan evakuasi yang menerobos ke stasiun, berhasil dihancurkan pejuang Muslim Chechen dan berakhir dengan tewasnya 60 personil Rusia termasuk pemimpinnya, Kolonel Savin.

Tanggal 3 Januari 1995, pasukan Rusia dari Brigade Rifle Bermotor ke-131 yang sebelumnya berjumlah 1.000 personil, kini hanya tinggal 200 personil. Sisanya tewas dan tertangkap pejuang Chechen. 20 tank dari 26 tank, dan 102 dari 120 kendaraan lapis baja berhasil dihancurkan dan diledakkan. Untuk menutupi kekalahan telaknya, melalui media, Jenderal Grachev membual kebohongan kepada publik bahwa “seluruh pusat kota dan sejumlah distrik serta pinggiran kota Grozny telah sepenuhnya dalam kendali pasukan Rusia”. Total pasca pertempuran yang kurang dari 60 jam, tentara Rusia menderita 1.000-2.000 pasukan tewas. Kehancuran pasukan Rusia ini adalah akhir Battle of Grozny jilid pertama (31 Desember 1994 – 3 Januari 1995) dimana seluruhnya terjadi dalam tiga babak.

To be continued…

Didik Hari Purwanto

Intisari buku “Perang Chechnya” oleh Ari Subiakto, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s