Buku

Mengenal Lebih Dekat Saudara Muslim di Chechnya (Chechnya #1)

“… Chechnya can never be subject to Russia again! We have nothing in common. After the shameful barbarism that we’ve witnessed … what human relationship could we conceivably have?”

            Chechnya merupakan salah satu dari 21 negara bagian Republik Federasi Rusia dimana secara administratif memperoleh otonomi penuh Rusia. Letaknya di sebelah timur wilayah Kaukasia Utara atau sebelah barat daya wilayah Rusia. Negara Chechnya berbatasan langsung dengan wilayah Stavropol di sebelah barat laut, Republik Dagestan di sebelah timur laut, Georgia di selatan, dan Republik Ingushetia di sebelah barat. Chechnya dihuni oleh etnis Chechen yang mayoritas merupakan Umat Islam.

http://cdn-1.historyguy.com/caucasus-ethnic-map-chechen.jpg
http://cdn-1.historyguy.com/caucasus-ethnic-map-chechen.jpg

Rakyat Chechen merupakan pejuang tangguh, dimana selama lebih 200 tahun berjuang menanti kemerdekaan dari penjajahan Rusia. Pola hidup masyarakat Chechnya merupakan pola hidup masyarakat secara Islam. Hukum Islam ditegakkan dalam segala aspek kehidupan. Propaganda komunisme, marxisme yang dilancarkan dari Uni Soviet waktu itu pun tidak berpengaruh di Chechnya, karena memang masyarakat telah mendarah daging dengan Islam waktu itu. Namun, perkembangan Islam yang pesat ini kemudian mendapatkan tekanan dari Pemerintah Uni Soviet waktu itu dengan mendatangkan koloni etnis Rusia yang komunis masuk ke wilayah Chechnya. Ditambah dengan larangan masyarakat Chechnya untuk beribadah secara Islam dan menjalankan syariat Islam dalam kehidupan.

Tekanan yang diberikan Rusia kemudian terus berlanjut pasca Perang Dunia II ketika rakyat Chechnya dituduh sebagai penghianat Rusia dalam melawan invasi Nazi Jerman yang masuk Rusia. Padahal ketika itu, rakyat Chechnya ikut serta dalam barisan tentara merah Rusia melawan invasi Nazi Jerman yang masuk Kaukasus. Pihak Kremlin kemudian menjatuhkan hukuman kepada rakyat Chechnya pada 23 Februari 1944 berupa pendeportasian massal dari kampung halamannya menuju ke tempat yang tersebar di wilayah Asia Tengah. Cara pendeportasian ini juga dilakukan dengan cara yang tidak manusiawi dimana rakyat Chechnya dimasukkan dalam box gerbong kereta api secara berdesakan sehingga banyak yang sakit dan tewas selama perjalanan pengasingan tersebut. Rumah dan Masjid yang selama ini mereka tinggali di Chechnya kemudian dibuldozer dan dihancurkan oleh pemerintah Soviet.

Rasa persaudaraan antar umat Islam yang begitu erat, dan persamaan nasib yang kemudian membuat Rakyat Chechnya mampu bertahan dalam pengasingan. Di wilayah seperti Kazakhstan, mereka mendapatkan perlakuan yang baik karena mereka menganggap seluruh Muslim memang adalah saudara. Adanya konsolidasi pada tubuh etnis Chechen ini kemudian mendorong upaya-upaya untuk bisa kembali ke tanah air mereka. Momentum pun didapatkan ketika tewasnya Joseph Stalin tahun 1953. Kemudian disusul dekrit Moskow April 1956 yang menyatakan bahwa hukuman pendeportasian dan pengusiran paksa yang telah dilakukan pemerintah Soviet adalah kesalahan dan kejahatan. Namun, dekrit ini ternyata tidak berlaku bagi seluruh etnis yang mengalami pengusiran. Diskrimasi muncul dalam kebijakan ini dan korbannya adalah etnis Chechen sendiri. Namun, meskipun demikian rakyat Chechen tetap bertekad untuk pulang ke tanah air dengan usaha mereka sendiri dan tidak berharap pada bantuan pemerintah Federal Rusia.

Ketika sampai di tanah air, ternyata rumah dan tanah mereka telah ditempati oleh orang asing yang mayoritas adalah bangsa Rusia dan Ukraina. Bentrokan pun sempat terjadi karena perebutan lahan, ladang pertanian, lapangan rumput, dan rumah mereka. Akhirnya beberapa etnis Rusia memutuskan pergi dari wilayah Chechnya, dan sekitar 400.000 lainnya memutuskan tetap bertahan di Chechnya. Kemudian, dari yang tersisa ini dan rakyat Chechen saling membina hubungan baik dan memulai segalanya dari nol untuk kemudian bersama membangun Chechnya kembali.

Ternyata, Chechnya ini merupakan satu wilayah yang istimewa dan berpotensi menjadi satu wilayah negara yang kaya pada satu saat nanti. Harta tersembunyi dari wilayah ini adalah minyak bumi yang terkonsentrasi di kota Grozny (dulu merupakan Ibukota Chechnya) ditemukan pada abad ke-20. Ladang minyak ini adalah yang terbesar kedua di Rusia setelah Azerbaijan pada tahun 1941. Pada perang Dunia II tahun 1942 kemudian Chechnya dan wilayah Kaukasus lain menjadi target ofensif Nazi Jerman yang menginginkan minyak. Kota Grozny sendiri kemudian berkembang menjadi kota industri yang terdapat banyak kilang minyak untuk menyuplai kebutuhan Rusia. Penyokong perekonomian utama kota Grozny ini adalah produksi minyak dari kilang-kilang dan sumur-sumur minyak yang sangat melimpah. Selain minyak, ternyata wilayah Chechnya juga merupakan deposit gas alam dalam jumlah yang signifikan bagi perekonomian negara di masa depan.

Berlandaskan letak wilayah Chechnya yang strategis dan mempunyai kekayaan alam yang melimpah inilah kemudian mendasari Pemerintah Federal Rusia menolak disintegrasi untuk kemerdekaan Chechnya. Pihak rakyat Chechnya sendiri sudah lama menginginkan kemerdekaan karena selama bersama dalam Federasi Rusia mereka mendapatkan perlakuakn diskriminatif dan menderita. Kemerdekaan merupakan harga mati bagi mereka. Gerakan untuk kemerdekaan ini diinisiasi secara besar-besaran pada pertengahan tahun 1780 oleh Sheikh Mansur bersama kaum pemuda Kaukasus di bawah bendera Islam. Perjuangan ini berhasil merebut wilayah Kaukasus dari Dagestan sampai laut Hitam. Namun pada 1791 wilayah ini kembali jatuh ke tangan Pasukan Tsar Rusia. Dan Sheikh Mansur sendiri kemudian dijeboskan ke penjara di Saint Petersburg.

Tanggal 22 Agustus 1991 terjadi Kudeta di Uni Soviet yang berhasil menggulingkan pemimpinnya waktu itu, Mikhail Gorbachev. Dalam momentum ini kemudian Chechnya memproklamasikan diri menjadi sebuah negara yang merdeka dan lepas dari Uni Soviet. Perjuangan dalam memperoleh legitimasi atas kemerdekaan ini dilaksanakan oleh Garda Nasional Chechnya yang didirikan oleh Jenderal Muslim mantan anggota Angkatan Udara Uni Soviet, Dzhokhar Dudayev. Pemilihan presiden Chechnya pada 27 Oktober 1991 kemudian menyatakan bahwa Dzhokhar Dudayev menang dan kemudian dilantik menjadi presiden pada November 1991. Dzhokhar Dudayev kemudian disumpah dengan tangan kanan mengangkat Al Quran. Pada bulan November itu pula Presiden Dudayev memproklamasikan secara resmi kemerdekaan Chechnya lepas atas Uni Soviet. Ibukota Chechnya adalah di Kota Grozny. Rusia menolak mengakui kemerdekaan Chechnya. Bahkan ironisnya dunia Islam dan internasional juga menolak mengakui kemerdekaan Chechnya.

Periodisasi awal terbentuknya sebuah negara baru selalu dilalui oleh konflik dan ketidakstabilan domestik. Hal ini juga terjadi di Negara Chechnya. Tahun 1991-1994 adalah periode konflik internal Chechnya antara pendukung Presiden Dzhokhar Dudayev dan kelompok oposisi. Terjadi kerusuhan dimana-mana dan kemudian menyebabkan perginya etnis Rusia dan beberapa rakyat Chechen keluar wilayah Chechnya. Perekonomian dan industri pun banyak yang macet karena banyaknya Insinyur yang pergi untuk menyelamatkan diri. Konflik dan kerusuhan inilah yang kemudian menjadikan alasan Federasi Rusi untuk mengeluarkan kebijakan untuk mengirim pasukan ke Chechnya dengan dalih meredakan konflik. Padahal, kerusuhan di Chechnya yang disebabkan kelompok oposisi Dudayev ini merupakan kelompok yang didukung dan didanai Rusia sendiri. Namun, upaya kelompok oposisi yang didukung penuh Rusia ini selalu gagal menurunkan Presiden Dudayev.

Periode Agustus sampai Oktober 1994 terjadi banyak bentrokan antara pemerintah Chechnya dan oposisi yang dipimpin Umar Avturkhanov dan Beslan Gantemirov. Oposisi mendapatkan dukungan dari pemerintah Rusia berupa finansial sampai 150 milyar ruble, persenjataan, peralatan militer, dan sejumlah tentara bayaran (mercenaries). Rusia sendiri kemudian memberlakukan blokade militer ke wilayah Chechnya dari perbatasan. Pasukan oposisi yang memang didukung Rusia bersatu dengan tentara Rusia untuk menyerang kota Grozny dengan 3.000 personil, 42 tank, dan 8 kendaraan lapis baja angkut personil jenis BTR. 10 jam pertempuran di Grozny, Pasukan Garda Nasional Dudayev berhasil menang telak atas pasukan oposisi, pihak oposisi menderita kekalahan 350 tewas, 20 tank hancur, 4 helikopter Rusia dan pesawat jet tempur pembom Sukhoi Su-25 rontok ditembak pasukan Chechnya.

Kekalahan ini sangat membuat malu pihak Kremlin. Pemboman ke bandar udara di Chechnya dilakukan dan ultimatum dikeluarkan untuk kelompok bersenjata Chechnya untuk menyerahkan diri, namun semuanya tidak digubris. Presiden Rusia, Boris Yeltsin memerintahkan pasukan untuk menyerang Chechnya atas dasar “mengembalikan konstitusi” di Chechnya. Presiden Dudayev merespon rencana invasi Rusia ini dengan pernyataan bahwa invasi militer Rusia di Chechnya akan bernasib sama dengan invasi Soviet ke Afghanistan tahun 1979, bahkan jauh lebih buruk. Secara langsung, pernyataan ini membuat gentar dan ragu pihak Kremlin dan markas besar Rusia wilayah Kaukasus Utara di Mozdok. Namun, dari semua keraguan itu, pihak Rusia tetap melancarkan invasi militer ke Chechnya menyebabkan meletusnya peperangan hebat yaitu Perang Chechnya I (1994-1996).

To be continued….

Didik Hari Purwanto

Intisari buku “Perang Chechnya” oleh Ari Subiakto, 2010.

Untuk saling berbagi dengan Saudara Muslim yang lain.

One thought on “Mengenal Lebih Dekat Saudara Muslim di Chechnya (Chechnya #1)

  1. We are as a Muslim can’t blame Al-qaeda and terrorism to do bombing, killing people in Russian, because they are just trying to follow the command of the Qur’an which says: “slay the infidels wherever they are, including the friends with infidels “. so to eliminate any al-qaedah and Terrorism, the Qur’an should be fixed content.
    The leader of the Arab leaders also cannot be blamed for People lying in the Qur’an allow to lie and betray other people who became Arab guidelines: “when you see something better then that, and forget the Covenant that we agree upon or which you have promised to other people even if you swear in the name of Allah, then Allah is good will forget that your vows”, so the Qur’an teaches us to be lying ,
    a number of countries reject islam came to their country because they fear Muslims will impose these verses of the Qur’an in their country
    There are millions of Muslims leaving Islam because this verses, they regard the Qur’aan is not true, so is there should modifications and improvements to the Quran in order to be accepted by all?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s