Perspektif

Mahasiswa, Sebuah Keberadaan

Mahasiswa bukanlah sebuah nama yang asing dalam kehidupan masyarakat. Tidak ada yang meragukan keberadaannya. Seorang pemuda, intelektual, gerakan, direktor perubahan, demonstrasi, menjadi kata-kata yang melekat pada setiap perjalanan keberadaannya. Berbagai stigma baik positif maupun negatif kerap hinggap dan disandang status sosial ini. Terlalu sering kiranya kita mendengar cerita tentang revolusi mulai dari eropa sampai Indonesia 1998 yang dimotori oleh pemuda dengan status sosial mahasiswa.

Dalam setiap sejarah perubahan yang terukir di dunia, mahasiswa mencatat namanya sebagai direktor pemicu perubahan itu. Bagaimana bisa ? padahal mahasiswa sebenarnya mahasiswa pun seorang manusia biasa atau pemuda biasa yang juga sama seperti pemuda pada lainnya. Mahasiswa adalah pemuda yang punya idealisme tinggi. Itulah senjata utama mahasiswa dalam menghadapi dunia. Mereka adalah kaum intelektual yang memiliki pengetahuan tinggi, kemudian didukung idealisme tinggi untuk mewujudkannya apapun halangannya, apapun rintangannya.

Idealisme menjadi satu hal yang sangat krusial dalam gerakan yang dikonstruksi oleh mahasiswa. Idealisme ini terbangun seiring dengan perjalanan hidup mereka, tingkat pengetahuan dan rasa ingin tahu, dan bagaimana ia menempatkan setiap sudut pandang pada masalah yang ia lihat. Idealisme mahasiswa yang memang ideal adalah suatu idealisme yang tidak pernah mati dalam arti tidak akan tergerus oleh kilauan dunia. Idealisme yang dimaksud di sini adalah idealisme untuk membangun perubahan pada bangsa, rakyat, dan negara ke arah yang lebih baik dan bermartabat.

Namun, saat ini idealisme mahasiswa banyak yang luntur akibat rasa dunia yang sebenarnya masih sedikit mereka rasakan. Implikasi yang kemudian terjadi adalah munculnya mahasiswa-mahasiswa yang memiliki idealisme rendah dalam hal memberikan perubahan bangsa atau bahkan kemudian muncul mahasiswa tanpa idealisme. Senjata utama mahasiswa sejati pun kini hanya menjadi kisah cerita belaka yang hanya menghiasi sejarah yang tidak ada kelanjutannya. Mahasiswa kemudian hanya sibuk untuk membahas kehidupan materialistis, dan cenderung menyukai hal-hal kesenangan bersifat sementara dan tidak memiliki visi jangka panjang. Implikasinya adalah pada gaya hidup yang menyukai kemewahan dan bangga atas materi serta pola pikirnya hanya sibuk pada urusan pribadi dan tidak berpikir tentang orang lain.

Mahasiswa adalah intelektual yang tumbuh dari masyarakat, kemudian berkembang dan selayaknya memberikan timbal balik kepada masyarakat tempat ia tumbuh. Mengapa demikian ? Dalam kalkulasi pembiayaan pendidikan dan pengembangan diri yang diperoleh seorang mahasiswa, tidak pernah lepas sokongan dari masyarakat. Pembiayaan tidak langsung ini diperoleh mahasiswa dari pajak negara yang kemudian dianggarkan dalam APBN sebagai anggaran pendidikan. Padahal, sekitar 60% APBN Indonesia setiap tahunnya berasal dari pajak. Inilah satu alasan yang memberikan penjelasan mengenai keberadaan mahasiswa tidak pernah lepas dari masyarakat. Sebagai contoh, mahasiswa di seluruh perguruan tinggi negeri paling tidak menghabiskan dana Rp 18.000.000 setiap tahunnya untuk pendidikan dan pengembangan. Di UGM misalnya, dalam 1 tahun mahasiswa hanya dikenakan biaya (SPP dan BOP) sekitar Rp 5.000.000 saja. Nah, sisa uang Rp 13.000.000 itulah kemudian yang ditanggung negara (dalam hal ini masyarakat). Tentunya masyarakat di sini bermakna luas, ada kelas pejabat, pengusaha, pedagang, tukang becak, petani, nelayan dan seluruh elemen masyarakat yang kemudian menyokong dana Rp 13.000.000 per tahunnya untuk satu mahasiswa ini.

Masyarakat meletakkan kepercayaan dan nasib pada mahasiswa. Perubahan tidak akan terwujud kecuali oleh orang-orang yang memiliki idealisme tinggi untuk mewujudkan perubahan. Perubahan itu tidak pernah ada kata menunggu. Apapun bisa dilakukan oleh seorang mahasiswa mulai dari hal yang paling kecil, mulai dari diri sendiri dan mulai sekarang juga. Perubahan dalam hal gaya hidup, pola pikir, sudut pandang pribadi, yang kemudian melahirkan karya-karya riil yang bermanfaat bagi kemajuan bangsa. Ketika mahasiswa masih mempunyai hati nurani dan rasa terimakasih, hal ini tentunya akan terhujamkan dalam-dalam di hati mereka. Ketika di negara terjadi kelaparan, pengangguran, kemiskinan, tentunya mahasiswa pun tidak boleh lepas diri dan menutup mata. Mahasiswa harus hadir sebagai solusi.

Berkarya untuk Indonesia, inilah yang kemudian menjadi satu hal riil yang menjadi simbol keberadaan mahasiswa. Mahasiswa ada, bukan sekadar formalitas dalam jenjang pendidikan di Indonesia. Namun mahasiswa ada karena permasalahan yang membutuhkan solusi. Mahasiswa sejati tentunya tidak akan tinggal diam ketika permasalahan masih ada di sekitarnya. Berkarya sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan inilah yang harus dilakukan. Berkarya tidak harus terpaku pada spesialisasi yang dimiliki. Inilah perbedaan mahasiswa dengan seorang spesialis. Apapun itu, mari dilaksanakan untuk kebaikan dan perubahan. Tidak perlu menunggu setelah lulus, atau setelah memiliki pekerjaan. Inilah keberadaan yang nyata, bukan sekadar nama yang muncul, atau nama yang hanya dibangga-banggakan.

Keberadaan mahasiswa adalah keberadaan yang bisa dirasakan nyata atas dasar kebaikan dan perubahan. Perubahan itu ada, dan keberadaan adalah keniscayaan. Berkarya disertai prinsip kebermanfaatan bagi manusia secara luas, dari sisi sosial, IPTEK, ekonomi mikro, pendidikan dan kebudayaan bangsa, dan birokrasi. Inilah yang seharusnya dibangun sehingga kemajuan Indonesia akan terwujud secara bottom up. Mahasiswa harus berani dalam mengambil peran untuk langkah perubahan. Bukan saatnya lagi untuk sibuk memikirkan diri sendiri, dan hal-hal materialistis pribadi. Sudah saatnya untuk bangun, dan berkarya untuk Indonesia. Bangsa Indonesia menunggu secercah cahaya yang akan membuat kehidupan menjadi lebih baik.

Wahai kalian yang rindu kemenangan, wahai kalian yang turun ke jalan

Demi mempersembahkan jiwa dan raga untuk negeri tercinta…

 

Didik Hari Purwanto

Mahasiswa Kampus Kerakyatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s