Perspektif

Karena Keberadaan adalah Kebermanfaatan

Dedaunan tidak akan pernah tau

Bagaimana ia terlihat cantik

Ia pun tidak akan pernah tau

Bahwa, kehidupannya adalah kehidupan bagi yang lain

Bahwa, kehidupannya bisa terus ada

Karena bantuan yang lain

Ia hanya mengerti, keberadaannya merupakan keutamaan

Dan tidak akan ada kehidupan lain yang lebih baik

 

Batang pun tidak akan mengerti

Bagaimana ia terlihat kuat dan kokoh

Mampu menahan dalam hembusan angin kencang

Dan mampu bertahan dalam terik matahari

Ya, ia tidak akan pernah mengerti itu

Yang ia tau hanya tubuhnya lah yang terkuat

Yang mampu menyokong kehidupan yang lain

Namun, ia tak pernah tau

Bahwa, hidupnya akan terus ada

Karena keberadaan yang lain

 

Seorang akar pun tidak pernah mengerti

Bahwa ia adalah sebuah kehidupan

Yang ia tau hanya keberadaannya di bawah dan di dalam tanah

Padahal kehidupannya merupakan kehidupan bagi yang lain

Kekeringan tidak akan pernah ada selama ada dia

Hijau pun, tidak akan pernah ada selama ada dia

Namun, keindahan pun tidak akan pernah ada

Ketika dia sendirian

 

Tidak akan pernah ada kehidupan yang diskrit

Kehidupan adalah sebuah mutualisme yang kontinu

Pohon, tidak akan pernah ada tanpa akar, batang, dan daun

Tidak akan pernah ada batang kokoh tanpa akar yang kuat

Tidak akan pernah ada daun yang hijau tanpa akar yang panjang

Tidak akan pernah tumbuh akar dan batang

Tanpa daun yang hijau

Tidak akan pernah tumbuh bunga yang indah

Dan tidak akan pernah ada buah yang nikmat

Tanpa sebuah rasa saling membutuhkan

Karena keberadaan adalah sebuah amanah

Amanah untuk saling memberi manfaat dalam kebaikan

 

Sebuah sajak implisit tentang sebuah pohon yang tersusun dari beberapa bagian yang saling melengkapi satu dengan yang lain. Nama sebuah pohon akan ada ketika ada kehidupan daun, batang kemudian akar, dan ketiga bagian ini tidak akan mungkin hidup terpisah. Namun, pada dasarnya mereka bisa hidup terpisah, daun ada yang mampu berdiri sendiri, akar akan mampu bertahan sendiri, pun sama dengan batang. Namun pada fase ini, tidak akan pernah ada suatu nama yang disebut “pohon”.

Terkadang, daun merasa bahwa mereka adalah yang paling hebat di antara yang lain. Ia merasa bahwa ialah kehidupan. ia mampu hidup sendiri, dan bahkan mampu untuk memberikan makanan untuk kawannya yang lain. Tubuhnya yang hijau nan cantik kemudian menjadi mahkota tersendiri bagi pujian yang datang kepadanya. Namun, ia akan harus sadar bahwa keberadaannya akan terus ada ketika ada yang lain, yaitu akar dan batang. Daun yang memiliki fungsi utama fotosintesis tidak akan berjalan ketika tidak ada air di dalamnya. Air ini bisa diperoleh daun dari alur transport yang dilakukan akar kemudian diangkut xylem dan floem akar, kemudian batang, sampai di daun pada akhirnya. Ya, realitas ilmiah inilah yang harusnya disadari bahwa ia tidak mampu hanya berdiri sendiri dengan kemampuannya.

Batang pun sama, ia merasa bahwa dirinya lah yang paling kuat. Keberadaannya akan membuat suatu yang dinamakan “pohon” tadi ada, yang kemudian tahan akan terjangan angin, panasnya hujan dan ekstrimnya cuaca. Namun ia tidak pernah menyadari bahwa keberadaannya akan terus ada ketika ia ditopang oleh akar yang kuat. Batang tentunya tidak akan mampu berdiri kokoh ketika tiada akar yang mencengkeram di bawahnya dengan kuat.

Namun, pada satu sisi yang lain, disampaikan penulis bahwa akar memiliki satu pandangan yang lain. Keberadaannya di bawah tanah kemudian menjadikannya inferior dan merasa bahwa keberadaannya tidak pernah memberikan makna banyak dari sebuah kehidupan. ia tidak terlalu banyak dikenal orang karena memang tidak pernah terlihat oleh siapapun di sekitarnya. Berapa sahabatnya, akar yang keluar ke atas tanah malah kemudian menjadikan bahaya bagi sekitarnya, misalkan manusia yang berjalan kemudian tersandung, dan jatuh, dan sebagainya. Namun sebenarnya mereka sadar, bahwa keberadaan mereka adalah kehidupan juga bagi sang pohon. Tidak akan pernah ada warna hijau ketika tidak ada air yang masuk ke pohon. Siapa yang memasukkan air ke pohon ? ya, itulah akar. Siapa yang menopang pohon sehingga mampu berdiri tegak ? ya, itu akar. Jadi, tidak ada namanya keberadaan yang kemudian menjadikan kesia-siaan.

Makna implisit apa yang kemudian ingin diangkat penulis ? Ya, pohon inilah Universitas Gadjah Mada. Sebenarnya sudah tau lah semua orang bahwa kampus ini terdiri dari banyak sekali elemen di dalamnya, ada Rektor dan Perangkat Rektorat, Dekan dan Perangkat Dekanat, Kepala Jurusan, Kepala Program Studi, Dosen, Karyawan, Mahasiswa, dan lain-lainnya. Namun, hanya beberapa orang yang kemudian sadar dan mampu berpikir secara global dalam memandang Universitas Gadjah Mada ini. Seperti analogi pohon di atas yang kemudian memberikan makna secara tersirat bahwa keberadaan adalah kemanfaatan yang dapat diberikan kepada sekitarnya.

Berpikir global yang dimaksudkan di sini adalah kerangka berpikir kebermanfaatan yang kemudian dapat diberikan kepada entitas masyarakat Universitas Gadjah Mada secara umum. Bagaimana setiap kebijakan yang dikeluarkan, keputusan yang diambil, perilaku yang dilakukan, semuanya mempunyai pengaruh kepada Universitas Gadjah Mada secara utuh. Rektor dalam kebijakan yang diambil untuk kampus, implikasinya kepada mahasiswa, dosen, karyawan, dan semua civitas akademika. Dosen, dalam setiap pekerjaan yang dilaksanakan akan berdampak pada Universitas Gadjah Mada. Mahasiswa pun sama, mahasiswa dalam setiap tindakannya akan berdampak secara langsung maupun tidak langsung kepada Universitas Gadjah Mada. Pada dasarnya tidak ada tindakan yang keluar kemudian tanpa pertanggungjawaban.

Universitas Gadjah Mada tidak akan mungkin ada tanpa Rektor, Dosen, Mahasiswa, dan komponen lainnya. Bolehlah ketika Rektor mengeluarkan kebijakan apapun, asalkan itu tetap memperhatikan sisi-sisi positif dan negatifnya bagi kehidupan kampus. Tidak ada superioritas atas dasar posisi dalam suatu sistem. Yang ada hanyalah superioritas dalam hal kontribusi dan kinerja yang diberikan untuk membangun sistem ini. Siapapun itu, baik Rektor, Dosen, Mahasiswa, Karyawan, dan lainnya tidak ada yang superior hanya atas dasar posisi kelembagaan, namun yang ada adalah superioritas atas dasar dedikasi, kontribusi, dan kinerja bagi Universitas Gadjah Mada. Tidak ada yang ditinggikan, tidak ada yang direndahkan, tidak ada yang tidak penting, karena keberadaan adalah kebermanfaatan.

Ketika kita mampu untuk berpikir lebih general dan global, Universitas Gadjah Mada ini ada dari rakyat, untuk rakyat dan keberadaannya akan terus ada untuk kesejahteraan rakyat (pidato Presiden Soekarno dalam peresmian Universitas Gadjah Mada 19 Desember 1949). Universitas Gadjah Mada ini ada bukan hanya semata untuk kepentingan civitas akademikanya saja, akan tetapi Universitas Gadjah Mada ini ada untuk rakyat Indonesia. Paradigma yang mari kita hujamkan dalam diri kita kemudian adalah Universitas Gadjah Mada bukan hanya milik Rektor, bukan hanya milik mahasiswa, bukan hanya milik dosen, tapi Universitas Gadjah Mada ada milik rakyat Indonesia. Seluruh rakyat Indonesia berhak atas Universitas Gadjah Mada, berhak atas pendidikan di dalamnya, berhak merasakan karya yang diberikan Universitas Gadjah Mada kepada Indonesia, dan berhak atas kesejahteraan yang ditopang Universitas Gadjah Mada.

 

“Bakti kami mahasiswa Gadjah Mada semua,

kuberjanji memenuhi panggilan bangsaku,

di dalam Pancasilamu jiwa seluruh nusaku,

kujunjung kebudayaanmu,

kejayaan Indonesia…”

 

Didik Hari Purwanto

Mahasiswa Teknik Fisika Universitas Gadjah Mada 2009

Menteri Koordinator dan Kebijakan Eksternal BEM KMFT UGM 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s