Cerita

Renungan Kecil dari Gerbong Terakhir Kereta Progo

[tulisan ini sebagai tugas Pemandu PPSMB FT UGM 2011]

http://3.bp.blogspot.com/-a125zzOkXOY/U49Jg5qjnEI/AAAAAAAAAbg/9VCWTPt46S4/s1600/PROGO_FIX.png
http://3.bp.blogspot.com/-a125zzOkXOY/U49Jg5qjnEI/AAAAAAAAAbg/9VCWTPt46S4/s1600/PROGO_FIX.png

Sampaikanlah pada ibuku aku pulang terlambat waktu,

Aku akan menaklukkan malam dengan jalan pikiranku.

            Potongan syair lagu di atas lah yang kiranya sedikit memaparkan sebuah peristiwa dan perjalanan hidup yang pernah saya lalui. Sebuah peristiwa yang bermula dari sebuah keberanian mengambil risiko dan keputusan sehingga banyak sekali hikmah yang saya dapatkan.sebuah peristiwa hidup yang tidak akan pernah terlupakan dan selalu ingin saya berbagi cerita ini dengan tujuan bisa membuka kembali hati dan pikiran untuk kepedulian dan sebuah perjuangan. Ya, inilah sebuah perjalanan kehidupan, Aksi Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2010.

Sebuah dering ringtone handphone Sony Ericcson saya berbunyi ketika itu, pukul 06.00 pagi. Pagi itu seperti biasa, orang tua saya menelpon saya untuk saling tanya kabar dan saling melepas kerinduan. Percakapan dalam telpon itu selesai pukul 06.30. Setelah telpon saya tutup, saya kaget teringat bahwa pukul 06.30 saya ada janji dengan Mas Iqbal Muharram (Ketua BEM KMFT UGM 2010) untuk membahas rangkaian agenda aksi hari kebangkitan nasional di Yogyakarta. Waktu itu BEM KMFT UGM dipercaya sebagai koordinator BEM se UGM dalam aksi harkitnas di Yogya. Langsung saya bergegas berangkat menuju kampus dan di sana sudah berkumpul beberapa orang yang berada dalam suatu forum bersama Mas Iqbal.

Forum sedikit terhenti ketika saya mengucapkan salam. Setelah saya dipersilahkan duduk oleh Mas Iqbal, sedikit dari kata-kata Mas Iqbal secara implisit menyampaikan teguran kepada saya karena datang terlambat. Selanjutnya forum berdiskusi kembali untuk mengerjakan sebuah aksi yang akan melibatkan masyarakat teknik di dalamnya tentang harkitnas besok. Setelah forum selesai, dan beberapa orang sudah pergi, Mas Iqbal menyampaikan sesuatu hal kepada orang-orang yang masih berada di dalam ruangan BEM. Beliau menyampaikan bahwa dari BEM KM UGM menghendaki ada perwakilan dari BEM KMFT UGM untuk ikut dalam aksi turun ke jalan di Jakarta. Aksi ke Jakarta ini juga dalam rangka memperingati Harkitnas dan akan bertemu langsung dengan pejabat tinggi di sana. Waktu itu Mas Iqbal masih bingung karena beliau juga sedang kurang enak badan untuk berangkat. Mas Iqbal menawarkan kepada beberapa orang di sana, namun tidak ada satupun yang bersedia berangkat.

Hari itu adalah hari rabu, ketika itu saya tidak ada mata kuliah sehingga setelah forum itu saya pulang untuk mempersiapkan hal-hal lain termasuk untuk harkitnas besok. Ketika perjalanan sampai kos, saya teringat terus akan penawaran Mas Iqbal untuk ikut turun aksi ke Jakarta. Dulu waktu awal saya masuk BEM KMFT, saya pernah hampir ikut aksi ke Jakarta, ketika itu adalah momentum pelantikan Presiden dan Wakil Presiden 20 Oktober 2009. Namun ini tidak jadi karena ternyata waktu itu saya ada praktikum pengganti.  Saya berpikir, menimbang-nimbang dengan matang untuk memutuskan semuanya. Akhirnya keputusan itu saya dapatkan, yaitu menerima tawaran Mas Iqbal untuk turun aksi ke Jakarta. Pukul 09.00 saya mengirim sms ke Mas Iqbal tentang konfirmasi kesediaan saya untuk turun aksi. Baik, akhirnya Mas Iqbal pun mengkonfirmasi dan memberikan informasi juga bahwa saya nanti akan berangkat dengan Mas Yasser Yusran (Menko Internal BEM KMFT UGM 2010).

Setelah keputusan itu saya ambil secara sepihak, saya segera menyiapkan segala keperluannya. Sore hari itu saya ada responsi praktikum fisika dasar di FMIPA UGM. Sehingga efisiensi waktu sangat diperhatikan agar tidak ketinggalan dengan rombongan. Namun sebuah halangan terjadi waktu itu, ternyata responsi untuk Prodi Fisika Teknik diundur menjadi pukul 15.30-16.30, sedangkan jam sebelumnya digunakan oleh Fakultas Teknologi Pertanian. Akhirnya dengan sebuah negoisasi dengan petugas lab waktu itu, saya mendapatkan keringanan untuk melaksanakan responsi lebih dulu, yaitu pukul 15.30-16.30.

Responsi sudah selesai, dan ini berarti tanggungan saya sudah selesai di Yogya dan sekarang saatnya saya berangkat ke Jakarta. Saat itu saya langsung pulang kembali ke BEM untuk persiapan akhir. Pukul 16.00 saya dan Mas Yasser ketika itu berangkat ke Stasiun Lempuyangan diantarkan oleh Mas Baihaqqi (Kadep Sosmas 2010). Sampai stasiun ternyata teman-teman lain dari UGM dan UNY sudah berkumpul dan siap untuk masuk kereta. Untuk ke Jakarta kami menggunakan kereta ekonomi Progo berangkat dari Stasiun Lempuyangan sampai Stasiun Pasar Senen Jakarta Pusat. Kami berangkat dengan menyewa satu gerbong khusus yang sudah dipersiapkan.

Ketika berada di kereta, saya kembali mengecek perlengkapan saya. Beberapa barang sudah lengkap, ada almamater, minum dua botol, dan dompet. Namun ketika saya membuka dompet, Astaghfirullah ternyata saya hanya membawa uang Rp 20.000. Dan sudahlah, nasi sudah menjadi bubur ketika itu karena kereta pun sudah berjalan. Namun ketika itu, yang paling membuat saya shock adalah baterai handphone saya sedang drop dan saya lupa membawa chargernya, padahal handphone ini merupakan sarana komunikasi paling penting saya. Sepenjang perjalanan beberapa orang memanfaatkan waktu untuk berdiskusi. Mereka adalah anak Fisipol dan Hukum yang dengan teori-teori dan data-datanya terus berdialog membahas kasus Bank Century. Saya hanya mendengarkan di sana, sebenarnya ingin untuk bergabung, namun karena belum kenal dan juga belum terlalu paham dengan pokok bahasannya, akhirnya saya memutuskan untuk diam.

Kereta Progo sampai di Stasiun Pasar Senen Jakarta pukul 3.00 pagi. Ini merupakan kali pertama saya menginjakkan kaki di Jakarta sendiri dalam arti tidak ada guide ataupun pengawasan dan perlindungan dari pihak manapun tentang kegiatan saya di sana kecuali dari Allah SWT. Sesampainya dari Senen, kami sholat Isya dan kemudian berjalan-jalan di sekitar stasiun mencari masjid. Ketika perjalanan ini, saya mendapatkan suatu ketukan hati yang menegasi segala anggapan saya tentang Jakarta. Selama ini saya menganggap bahwa Jakarta merupakan tempat bagi orang-orang sukses dan orang berhasil. Namun, di sepanjang jalan ini saya menyaksikan sendiri betapa banyak gelandangan, preman dan pedagang kaki lima yang tidur tanpa alas kaki di pelataran jalan. Bahkan sebagian mereka adalah anak-anak. Terbukalah hati nurani saya ketika ini saya ternyata masih harus sangat memperbanyak rasa syukur sehingga masih dianugerahkan untuk tidur beralaskan kasur dan beratapkan genteng rumah.

Sampai di masjid, kami siap-siap untuk melaksanakan sholat subuh, ada yang mandi dan ada pula yang tidur-tiduran. Di sela itu, saya sedikit berbincang dengan Bapak penjual bunga. Bunga itu ternyata akan dijual di pasar dan mulai dirapikan dan ditata sejak tadi pukul 02.00 dinihari. Ternyata bapak ini adalah bukan orang asli Jakarta. Beliau adalah orang jawa tengah yang merantau di Jakarta untuk penghidupan yang lebih baik. Ini merupakan sebuah tamparan bagi saya, karena saya juga adalah seorang perantau dari Jawa Timur ke Yogya untuk belajar. Bagaimana Bapak ini sudah bangun pukul 02.00 malam dan mulai bekerja dengan sungguh-sungguh untuk mencari penghasilan demi kehidupan anak-anaknya. Namun ketika saya kembalikan ke diri saya sendiri, pukul 02.00 malam adalah waktu paling enak untuk tidur di kamar. Dari ini saya teringat pada kedua orang tua saya yang kemungkinan juga melakukan hal serupa seperti bapak ini, bangun malam untuk menyiapkan segala sesuatu dan bahkan berdoa untuk anaknya, namun anaknya sendiri masih menikmati tidurnya. Betapa malu dan tersentuhnya saya ketika itu mendengarkan cerita perjuangannya setiap hari bapak itu di perantauan.

Setelah selesai menunaikan sholat subuh, kami melanjutkan perjalanan menggunakan metromini yang telah disewa sebelumnya oleh teman-teman lain. Kami menggunakan metromini menuju kampus B UNJ di Rawamangun Jakarta. Di sana, kami nanti akan berkumpul bersama massa aksi lainnya. Hari sudah terang ketika kami sampai di UNJ. Di sana kami melepas lelah dengan tidur ataupun duduk-duduk santai di masjid. Kesempatan ini saya gunakan untuk mencari pinjaman charger Sony Ericsson, karena handphone saya waktu itu sudah mati karena habis baterainya. Alhamdulillah, saya dapat pinjaman juga, yaitu punya Mas Aji Prakoso (Menteri Advokasi BEM KM UGM 2010). Langsung saya kemudian mencari tempat colokan untuk mencharge handpone saya. Lama berputar-putar di kampus, akhirnya saya mendapatkannya di dalam ruangan. Ruangan masih sepi, jadi saya langsung masuk dan mencharge handphone. Semakin siang, ruangan semakin ramai dengan beberapa mahasiswa dan karyawan atau dosen yang masuk. Astaghfirullah, ternyata itu adalah di ruangan Dosen UNJ. Sempat ingin langsung kabur, namun saya berusaha tetap tenang agar tidak membuat curiga orang sekitar. Pukul 08.00, baterai handphone sudah penuh dan saya memutuskan untuk cepat-cepat kabur.

Pukul 09.00, massa aksi mulai bergerak dengan dibekali beberapa logistik berupa snack dan minuman. Kami mulai dipanaskan dengan orasi-orasi singkat dari masing-masing perwakilan lembaga. Massa aksi berangkat dengan berjalan kaki menelusuri ramainya jalanan protokol di Jakarta dengan kawalan ketat polisi. Di sini, saya benar-benar merasakan panasnya aspal Ibukota meskipun saat itu masih pagi. Kami berjalan, bernyanyi, berteriak dan kadang berlari sepanjang perjalanan itu. Melewati gang-gang sempit dan perumahan-perumahan warga semakin membuka mata saya lebar-lebar tentang Jakarta yang sebenarnya. Bagaimana sistem kapitalisme telah merusak kehidupan ini, kesenjangan ekonomi dan sosial dan gaya individualisme seakan merupakan makanan sehari-hari dan menjadi falsafah kehidupan di sana.

Kami berjalan sampai di kampus A UNJ sekitar pukul 10.00. Di sana ternyata juga sudah menunggu beberapa massa aksi dari Bandung, Jakarta, Semarang bahkan dari Surabaya dan Malang. Sekitar 30 menit kami beristirahat sejenak sambil menyambung silaturahim dengan berkenalan dan bincang-bincang dengan rekan-rekan dari luar Yogya. Di sana kami saling bertukar informasi dan pengalaman masing-masing. Sebuah rasa kebanggaan bisa mengenal perjuangan mereka di daerahnya masing-masing. Mereka rela untuk meninggalkan kuliah, dan menempuh perjalanan yang tidak dekat hanya untuk menyampaikan rasa cintanya kepada bangsa ini dengan jalan mengingatkan para pemimpin negeri ini akan nasib rakyatnya yang masih banyak menderita kelaparan, kebodohan dan kemiskinanan.

Pukul 11.00 kami berangkat kembali dengan menggunakan metromini menuju ke bundaran hotel indonesia (HI), tempat dimana biasanya orang-orang turun ke jalan untuk menyampaikan aspirasinya. Sampai di bundaran HI, kami turun dan membuat border bagi yang putra untuk melindungi massa aksi putri. Baru kali ini saya turun di sini setelah sebelumnya hanya lewat saja di sini. Ternyata melakukan aksi di sini enak, udaranya sejuk meskipun matahari sangat terik waktu itu karena air mancurnya terbawa angin menjadi seperti tiupan AC.  Di sekeliling bundaran HI terdapat berbagai bentuk gedung tinggi, Grand Indonesia, HYATT, Reebok, Plaza Indonesia, ZARA dan lain-lainnya. Terbesit dalam pikiran, betapa kaya bangsa ini di sini dengan berbagai infrastruktur yang mewah dan megah. Namun sekali lagi, fakta menampar wajah saya, gedung-gedung itu bukan punya Indonesia. Bangsa indonesia ada di dalam sana, yaitu mereka yang menyapu lantai, mereka yang sebagai pekerja dan bukan sebagai pemiliknya karena gedung tinggi ini adalah punya orang asing. Kapan bangsa ini bisa merdeka seutuhnya ? Wallahu a’lam. Insya Allah kita sebagai generasi penggantilah yang akan memerdekakan bangsa ini seutuhnya. Amiin.

Setelah sekitar satu jam kami berada di bundaran HI, massa aksi dipecah, beberapa ketua lembaga bergerak menuju ke media nasional di sana sedangkan massa aksi lainnya bergerak menuju ke Istana Negara. Perjalanan sekitar 5 km menuju istana, sepanjang perjalanan kami melihat berbagai gedung pemerintahan seperti gedung Mahkamah Konstitusi, Gedung Bank Indonesia, Gedung Departemen Keuangan dan sebagainya di sana. Terpikir bahwa inilah ternyata poros gerak bangsa ini, yang mengatur bagaimana hukum dan keuangan bangsa berjalan. Fasilitas gedung ini mewah, dan adalah sebuah penghianatan bagi saya ketika mereka bisa duduk dengan nyaman di sini sedangkan rakyat yang katanya mereka perjuangkan nasibnya itu tetap saja hidup dalam kesusahan setiap harinya dan bahkan semakin menderita.

Kami sampai di depan istana sekitar pukul 13.00 disambut dengan barikade polisi, TNI dan provost istana Negara dengan perlengkapannya berupa kendaraan anti huru hara dan gas air mata. Pertama kali saya aksi dengan sambutan seperti ini membuat sedikit gentar untuk melanjutkan dan ingin sekali segera pulang. Namun karena semuanya terus maju tanpa takut apapun, maka ini semakin menghilangkan rasa ragu dan takut itu sehingga rasa berani untuk menyampaikan teriakan rakyat selam ini kepada mereka yang ada di dalam istana. Anggota massa aksi kami bertambah dengan kedatangan kawan-kawan dari IPB sebanyak tiga bus besar serta dari UI.

Di sela-sela aksi, kami beberapa dari UGM menyempatkan diri untuk sholat Dhuhur sekalian dijama’ dengan sholat Ashar. Kami mencari tempat sholat dan akhirnya dapat di Gedung Mahkamah Konstitusi. Kami sholat di musholla kecil di lantai paling bawah. Mushollanya kecil maksimal untuk 20 jamaah, namun karpat dan perlengkapan di dalamnya bagus. Saya berpikir, mengapa dengan gedung begitu megah seperti ini, mushollanya begitu kecil dan diletakkan dari paling bawah ? hmm., inilah yang membuat bangsa ini sulit untuk bangkit, karena pemimpin umat saja untuk urusan dengan Allah mereka memprioritaskan nomor terakhir, sehingga Allah pun akan enggan juga untuk membantu. Wallahu a’lam lah, Allah lebih Maha mengetahui.

Aksi kami diselesaikan sampai pukul 16.00 karena memang jam itulah izin yang diberikan aparat. Aksi ditutup dengan pernyataan sikap BEM Seluruh Indonesia. Intisari pernyataan sikap itu adalah, Bangkit itu bukanlah menjadi benalu terutama benalu bagi rakyatnya sendiri. Ini merupakan sebuah masukan bagi pemerintah sendiri bagaimana selama ini mereka masih dibiayai rakyat dalam menyelenggarakan pemerintahannya terbukti bahwa pajak rakyat masih menjadi pemasukan utama APBN Indonesia saat ini. Dan sangat ironis ketika dana ini masih dikorupsi dan malah tidak dikembalikan manfaatnya kepada rakyat sendiri. Para koruptor masih dengan nyaman dan leluasa berada di mana-mana tanpa rasa takut apapun. Bagaimana kasus century yang belum terpecahkan, BLBI dan kasus lain yang terkesan malah berusaha dihilangkan dari ingatan masyarakat.

Alhamdulillah aksi sudah selesai dengan aman dan lancar, sudah saatnya kami kembali pulang ke bumi perjuangan di Yogyakarta. Namun sebelum itu, kami ingin melaksanakan sholat magrib dan isya di masjid terbesar di Asia Tenggara yaitu di masjid Istiqlal. Karena jarakya yang cukup dekat, kami hanya berjalan kaki menuju ke sana. Kami melewati jalan protokol dan juga monumen nasional atau monas.

Sampai di masjid, kami istirahat sambil menikmati pemandangan sekitar masjid. Subhanallah, masjid ini begitu besar, dan dengan ketinggiannya, kami bisa melihat pemandangan sekitarnya. Salah satu yang saya jadikan sorotan tentang Jakarta kali ini adalah masalah kepedulian kepada lingkungan. Dengan berbagai gedung mewah dan infrastruktur lengkap, lingkungan hidup Jakarta malah tidak terperhatikan. Terlihat dari sungai di depan masjid yang keruh bahkan pekat mengandung banyak sekali zat zat kimia yang berbahaya. Bagaimana masyarakat bisa hidup dengan sehat kalau lingkungannya seperti ini ? bagi masyarakat yang tinggal di perumahan real estate atau apartemen si tidak masalah, tapi, bagaimana dengan mereka yang tinggal di bantaran sungai ? atau di sekitar sungai ? tentu mereka akan terganggu kesehatannya dan akan membahayakan masa depan anak-anak mereka. Terbangkitkan kembali kasadaran saya untuk nantinya juga memperhatikan bagaimana kondisi efek kepada lingkungan sekitar terutama ketika nanti sudah bekerja sebagai seorang insinyur yang dikenal sebagai perusak lingkungan hidup.

Di Masjid Istiqlal kami sholat sampai sholat isya dan kemudian melanjutkan kembali perjalanan pulang. Ada seorang pergi menuju stasiun lebih dahulu untuk membelikan tiket rombongan. Namun kembali ujian kepada kami, ternyata tiket yang dibeli hanya bisa maksimal 16 tiket. Sehingga rombongan lain nanti harus rela untuk tidak dapat tiket dalam arti tidak mendapatkan tempat duduk. Dengan beberapa perundingan, sehingga diperoleh kesepakatan bahwa 16 tiket itu akan kami berikan kepada teman-teman putri dan untuk putra nanti tidak dapat tempat duduk tidak apa-apa.

Setelah isya, kami meninggalkan masjid dan menuju ke stasiun menggunakan metromini. Kereta Progo berangkat pukul 21.00 dari Pasar Senen, sehingga kami masih menunggu 30 menit lagi. Kami langsung naik ke dalam kereta dnegan maksud memperoleh tempat yang nyaman meskipun hanya di bawah. Akhirnya kami memutuskan untuk berada di gerbong paling belakang. Sebagian dari kami ada yang duduk di jalanan dalam kereta dan ada juga di depan toilet dan saya sendiri berada di pintu paling belakang sambil menghadap ke luar.

Kereta berjalan menuju ke timur arah Yogyakarta. Ketika mulai berjalan, ketenangan kami sedikit terusik dengan seorang ibu dan anaknya yang mengklaim bahwa ini adalah tempat dia, yaitu di tempat gerbong paling belakang. Dengan berbagai negosiasi, akhirnya kami memberikan tempat untuk ibu itu duduk. Anaknya ada dua, satunya kelas 3 SD dan satunya masih belum masuk TK. Ketika anak yang paling kecil itu diturunkan ibunya dari gendongan, di menuju ke salah satu teman kami yang tidur dan dia bersandar padanya dan ikut tidur juga. Dari caranya tidur, saya merasakan bahwa dia kecapekan sehingga bisa tidur sengan secepat itu. “mereka dirampas haknya, tergusur dan lapar…”, syair lagu ini perlahan terdengar dan ternyata dinyanyikan oleh beberapa kawan melihat anak tertidur itu. Muncul rasa iba di hati ini menyaksikan itu semua, mereka harusnya sudah tertidur lelap di rumah jam sekarang ini, namun masih harus berada di jalanan.

Sesampai di Jatinegara, ibu beserta anaknya itu turun. Dan sebelum turun beliau menyampaikan alasan mengapa beliau turun di sana. Ternyata ibu dan anaknya itu turun karena beliau tidak memiliki tiket kereta. Dan setelah stasiun jatinegara ini akan ada pemeriksaan tiket kereta. Ketika ditanya kenapa kok tidak beli tiket, beliau menjawab tidak mampu untuk membeli karena hari ini dia tidak mendapatkan untuk atas pekerjaannya sebagai pedagang kaki lima di Jakarta. Beliau juga bercerita bahwa anaknya sudah tidak bisa sekolah lagi karena sudah tidak mampu lagi untuk membiayai mereka. Akhrinya dengan terpaksa, beliau membawa anaknya ikut bekerja sebagai pedagang kaki lima di Jakarta. Inilah potret ironisme bangsa. Segelintir orang bekerja keras menyambung hidup mereka dengan melupakan rasa lelah, melupakan waktu, kapan siang kapan malam dan pengorbanan lainnya. Namun bagaimana kerja keras ini kadang mereka tidak menikmatinya. Bagaimana para koruptor dengan bangganya mereka duduk di pemerintahan dan memakan hasil kerja keras rakyatnya di luar sana. Sungguh sebuah ironisme kebangsaan yang belum menemukan titik temu penyelesaian.

Pukul 08.00, Alhamdulillah kami sampai di stasiun lempuyangan Yogyakarta dengan selamat dan lancar. Alhamdulillah berbagai pengalaman, teman dan pelajaran berharga saya dapatkan di sini. Meskipun saat itu saya juga harus memikirkan lagi, bagaimana dengan orang tua yang tidak saya angkat ketika mereka menelpon dan juga bagaimana dengan nasib beberapa mata kuliah yang saya tinggalkan selama itu.

Kisah ini merupakan kisah yang sangat menginspirasi dan selalu menjadi pembangkit semangat saya untuk tidak pernah lelah untuk melakukan kontribusi perbaikan nasib bangsa ini menuju ke arah yang lebih baik. Dimulai dari hal terkecil, yaitu melaksanakan kuliah dengan baik, banyak belajar, kepedulian kepada sesama dan kepedulian kepada masyarakat sekitar. Bagaimana dari sini saya tersadar dengan realita kerasnya kehidupan bagi mereka yang kesulitan dan juga bagaimana tentunya juga tentang potret kehidupan di Ibukota Indonesia ini.  Bagaimana sebenarnya kontribusi mahasiswa ini yang disebut sebagai director of change, iron stock dan social control sangat ditunggu oleh bangsa di masa depan menuju Indonesia yang lebih baik. Sebuah kata sebagai pesan pembangkit dari ini adalah setiap aliran darah yang mengalir dalam urat nadi kita terdapat amanah keringat dan darah perjuangan rakyat di sana, perjuangan itu tidak akan pernah usai selama masih ada ketidakadilan di muka bumi, dan mundur dari sebuah perjuangan adalah sebuah penghianatan.

KARENA PERUBAHAN SUATU BANGSA SELALU TERUKIR DENGAN TINTA MERAH PERJUANGAN, DALAM KERTAS PUTIH KEIKHLASAN, MELALUI PENA EMAS PENGHASIL MARTIR PERUBAHAN.

Terimakasih untuk Ibu Pertiwi yang telah mengajarkanku untuk tidak membungkuk-bungkuk pada kekuasaan tetapi pada kebenaran.

Hiduplah Indonesia Raya.

Didik Hari Purwanto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s