Buku

Rangkuman Buku Api Sejarah


Perkembangan Islam Dunia

Sejarah Islam merupakan sejarah peradaban dunia. Semua peradaban di dunia ini lahir dari Islam, meskipun saat ini mengalami perubahan tata pelaksanaan dan penamaannya. Sejarah Islam berawal dari satu tempat dimana diturunkan wahyu lima ayat (QS 96: 1-5), berisikan tentang peringatan bahwa Allah yang menciptakan manusia dari darah dan Allah pula yang menjadikan manusis berilmu. Allah juga yang menciptakan manusia dapat membaca dan menulis. Ajaran wahyu pertama ini oleh Malaikat Jibril AS disampaikan kepada seorang wirausahawan yang ummi (orang yang tidak bisa membaca dan menulis), yaitu Rosulullah Muhammad SAW. Diturunkannya wahyu ini bukan di satu tempat istana yang mewah, melainkan di sebuah bukit batu gersang, Jabal Nur dengan guanya Gua Hira.

Sejarah dapat diubah hanya dengan realitas sarana yang sangat sederhana. Namun berdampak abadi dan menembus daratan, lautan, serta udara yang tiada batas. Dalam durasi waktu yang berbataskan akhir zaman. Padahal hanya digerakkan oleh personal yang merupakan a tiny creative minority (kelompok keci minoritas yang penuh kreativitas). Dalam hal ini, Islam tampil sebagai pelopor gerakan pembaharuan dengan izin Allah menumbangkan rezim jahiliyah (kebodohan) yang lebih dari 5 abad menyelimuti dunia Arab. Tidak hanya Arab, cahaya Islam juga menyinari seluruh dunia yang pada saat itu juga diselimuti oleh kejahiliyahan kehidupan umat manusia. Bahkan sampai saat ini, Islam masih terus menunjukkan eksistensi cahaya Islam itu bagi kesejahteraan seluruh umat. Meskipun banyak usaha telah dilakukan berbagai pihak untuk memadamkan cahaya ini, atas izin Allah, cahaya Islam masih menyinari dunia yang semakin gelap ini.

Perjalanan Islam dimulai dari wahyu Allah yang diberikan kepada Rosulullah Muhammad SAW ini diajarkan kepada umat manusia selama 23 tahun. 23 tahun ini terbagi menjadi 2 periode, 13 tahun di Makkah dan 10 tahun di Madinah. Dakwah yang diajarkan ini bukanlah tanpa tantangan. Dakwah Nabi selama hidupnya mendapatkan banyak tantangan dan ancaman dari dalam masyarakat Makkah dan bahkan dari luar Makkah. Namun, tidak sedikit pula masyarakat waktu itu yang menjadi pengikut setia beliau. Segala ancaman yang menghalangi dakwah dapat diselesaikan dengan mengimplementasikan ajaran Islam. Islam bukanlah agama, melainkan adalah peradaban. Segala hal diatur dalam Islam, dari ilmu ibadah, muamalah, sampai pada ilmu perang. Strategi perang Rosulullah waktu itu adalah, untuk mempertahankan diri dari ancaman, bukan untuk ekspansi kekuasaan.

Periode dakwah Islam setelah wafatnya Rosulullah dilanjutkan oleh khulafaur Rasyidin. Khulafaur Rasyidin adalah sahabat Nabi, yaitu Abu Bakar RA, Umar bin Khattab RA, Utsman bin Affan RA, dan Ali bin Abi Thalib RA. Masa khulafaur Rasyidin ini Islam mengalami berbagai dinamika. Dengan tidak adanya Rosulullah sebagai Nabi pusat rujukan Islam, maka pada masa ini mulai terjadi penyelewengan Islam. Mulai pengakuan menjadi seorang nabi, dan bahkan gerakan pemurtadan. Pada masa Khulafaur Rasyidin ini pula, Islam mulai berekspansi keluar Makkah dan Madinah, khususnya pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA. Ekspansi yang dilakukan Islam bukanlah ekspansi kekuasaan seperti yang dilakukan penjajah imperialis barat seperti Romawi, Persia dan lainnya dimana mereka melakukan penindasan atas landasan kekuasaan belaka dan untuk memperoleh keuntungan duniawi. Ekspansi Islam merupakan ekspansi wilayah dakwah, ekspansi pembebasan wilayah dari ketertindasan akibat kesewenangan penjajah Romawi dan Persia waktu itu.

Ekspansi dakwah Islam dan pembebasan wilayah ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang membawa peradaban baru yang lebih baik. Kekuasaan yang ditancapkan Islam bukan untuk melakukan pemerasan dan pencaplokan wilayah kekuasaannya. Islam juga bukan merupakan agama yang memaksa orang lain selain Islam untuk masuk Islam, namun Islam memberikan kebebasan umat manusia untuk memilih agama apapun yang dianutnya. Islam hanya memberikan petunjuk pada manusia, bahwa agama yang diridhoi Allah adalah Islam. Dengan dakwah yang demikian ini, Islam banyak memperoleh simpati dari mayarakat dunia yang dijajakinya. Menyebar dari Jazirah Arabia ke barat Mesir sampai Eropa, dan ke timur sampai Indonesia nantnya.

Pada masa setelah Khulafaur Rasyidin, pemerintahan Islam dilanjutkan oleh Bani Umayyah. Dimulai oleh khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan. Pada masa Bani Umayyah ini, dakwah Islam berkembang pada wilayah utara Afrika. Pusat pemerintahan Islam waktu ini adalah di Damaskus Syria. Berikutnya, terjadi keruntuhan Bani Umayyah ini, pemerintahan Islam dilanjutkan oleh Bani Abbasiyah. Pada masa Bani Abbasiyah ini Islam mengembangkan ekspansi dakwah sampai Eropa. Eropa dikuasai Islam kurang lebih selama 200 tahun. Perkembangan Islam di Eropa ini merupakan cahaya terang bagi Eropa waktu itu yang diselimuti kabut kegelapan akibat doktrinasi gereja. Eropa dalam kemiskinan dan krisis yang berat. Islam tumbuh di tanah Spanyol (Andalusia) dan mengembangkan peradaban yang luar biasa. Bangunan peninggalan Islam di Spanyol dapat dilihat berdiri kokoh hingga saat ini.

Pada masa Bani Abbasiyah, pusat pemerintahan ada di Baghdad Irak. Pada masa ini, Islam sangat maju dalam bidang Ilmu pengetahuan. Berbagai disiplin ilmu berkembang saat itu, dan pengembangan ilmu pengetahuan ini sangat pesat membuat peradaban Islam menjadi satu peradaban yang sangat maju di dunia. Dari ilmu kedokteran, ilmu fisika, astronomi berkembang. Bahkan ini mengalahkan eropa yang pada waktu itu masih pada periode kegelapan. Eropa pada masa itu masih menganggap bahwa bumi adalah datar, sedangkan umat Islam sudah mengetahui realitas bahwa bumi itu bulat.

Peradaban Abbasiyah berakhir dengan adanya serangan Hulagu Khan dari Mongol. Peradaban Baghdad hancur dan dibakar habis oleh bangsa mongol. Namun, dari sinilah Allah memberikan pelajaran bahwa Allah menghendaki tegaknya Islam bukan dilandaskan pada golongan tertentu. Bangsa penghancur Islam, Mongol mendapatkan hidayah dari Allah tentang indahnya Islam itu. mereka kemudian masuk Islam, termasuk tokoh terkenal mongol, Gengis Khan. Bangsa mongol ini kemudian mengembangkan Islam ke arah timur, ke India, Pakistan dan China. Di India, mereka mendirikan Kesultanan Moghul yang kemudian membangun bangunan Taj Mahal yang sangat indah. Bangsa Mongol yang merupakan bangsa Islam waktu itu merupakan Dinasti Gengis Khan. Dengan fakta yang menunjukkan bahwa Gengis Khan adalah seorang muslim, dunia kemudian menyembunyikan kejayaannya dengan maksud deislamisasi.

Setiap kedatangan Gengis Khan ke suatu bangsa, mereka selalu menebarkan kedamaian dan kesejahteraan. Hal ini merupakan implementasi dari ajaran Islam yang mereka anut, yaitu Islam sebagai Rahmatan Lil Aalamin. Budaya ini sangat berlawanan dengan apa yang dilakukan bangsa barat, dimana kedatangan mereka ke suatu bangsa selalu menebarkan ancaman dan melakukan penghancuran budaya, genosida, dan penjajahan. Seperti yang telah mereka lakukan pada suku Indian di amerika, dan aborigin di australia.

Pola kehidupan rakyat cina waktu itu masih terdapat beberapa ajaran seperti Kong fu Tse, dan Lao Tse. Namun keberadaan Islam di Cina tidak menjadikan suatu perpecahan. Kehadiran Islam justru menjadikan warna tersendiri yang kemudian bahkan rakyat Cina berbondong-bondong masuk Islam. Pada masa keislaman di Bumi Cina inilah yang kemudian terjalin hubungan dagang yang erat antara bangsa Cina dengan bangsa Arab, dan timur tengah lainnya. Jalur perdagangan ini kemudian yang dinamakan sebagai jalur sutra. Pada jalur sutra inilah Islam mengalami pengembangan dakwahnya. Jalur perdagangan merupakan jalur perkembangan Islam dimana terjadi transfer Ilmu pengetahuan, kebudayaan dan sebagainya. Proses ini merupakan proses akulturasi.

Pada masa kekuasaan Kesultanan Cina ini, dilakukan pelayaran oleh Laksamana Muslim Cheng Ho. Pelayaran ini dilakukan untuk membersihkan nama Cina yang sebelumnya terkenal sebagai bangsa pembantai dan penghancur kebudayaan. Pelayaran ini merupakan pelayaran untuk pengembangan hubungan diplomatik, dan kewiraniagaan. Sepanjang jalur pelayarannya mereka membersihkan laut dari perompak, setiap daerah yang dikunjunginya dilakukan pembangunan-pembangunan seperti mercusuar di Cirebon, dan sebagainya. Pelayarannya dilakukan sampai ke Makkah dan Swahili Afrika Timur.

Pelayaran Laksamana Cheng Ho menggunakan armada yang sangat menakjubkan. Namun dengan deislamisasi yang dilakukan barat, pelayaran menakjubkan ini kalah dengan apa yang dilakukan Vasco da Gama dan Christoper Colombus. Padahal armada colombus dan vasco da gama cukup ditempatkan di satu geladak kapal armada Cheng Ho. Dengan tujuan pelayaran yang sangat mulia ini, tujuan ini sangat berbanding terbalik dengan tujuan pelayaran yang dilakukan oleh bnagsa barat.

Pada masa kesultanan Cina ini juga terjadi hubungan dengan Kerajaan Hindu di Indonesia yaitu Singasari. Utusan Kubilai Khan datang ke singasari untuk meminta pengakuan atas kekuasaan Islam Kesultanan Cina. Namun utusan ini malah dibunuh oleh Kertanegara yang pada saat itu menjadi Raja Singasari. Kemudian Kubilai Khan mengirim Pasukan dengan maksud menghukum Kertanegara. Namun pada saat itu terjadi konspirasi oleh wijaya yang kemudian mendirikan kerajaan budha Majapahit.

Di lain sisi, mantan prajurit masa khilafah Abbasiyah yang banyak terdiri dari bangsa Turkistan kemudian mendirikan Kesultanan Turki Usmani. Kemunculan Kesultanan Turki ini menjadi penghalang utama upaya pengembangan imperialisme barat. Pada proses selanjutnya, Kesultanan Turki ini menjadi pusat kekuatan Islam pada masa itu. kekuasaannya meliputi Asia dan eropa. Pada masa ini Konstatinopel (wilayah kekuasaan Byzantium Romawi) jatuh ke tangan Turki kemudian mengubah namanya menjadi Islambul (artinya kota Islam, kemudian sekarang menjadi Istambul). Pada masa kesultanan Turki ini, ekspansi Islam baik itu berupa hubungan dagang maupun diplomasi sangat luas. Tercatat terjadi hubungan dagang yang sangat erat antara kesultanan Turki dengan Kesultanan Aceh, dan beberapa Kesultanan lainnya.

Pada masa Kesultanan Turki ini pula, kekuasaan Islam berdaulat atas Bumi Palestina. Peristiwa ini terjadi setelah Kesultanan Turki mengalahkan Romawi yang waktu itu menduduki Palestina. Pada masa ini juga ekspansi dilakukan untuk membebaskan bumi afrika utara dari penjajahan bangsa romawi.

Dengan keberadaan kesultanan Turki, eropa merasa terjepit. Mereka kemudian melakukan ekspansi ke luar dengan menggunakan kekuatan armada laut untuk memperoleh “dunia baru”. Pada masa awalnya, mereka banyak menggunakan jasa para pelaut muslim sebagai petunjuk jalan. Bahkan pada penemuan Tanjung Pengaharapan (Afsel) yang diklaim ditemukan oleh Vasco da Gama, itu merupakan bantuan dari Pakar Geografi Muslim ahmad bin Najid. Pada saat itu tidak seorang pun orang barat yang pernah mengarungi samudera persia (sekarang samudera hindia).

Ekspansi yang dilakukan bangsa barat ke dunia merupakan sebuah misi yang biadab, meskipun mereka menyebutnya sebagai sacre mission (misi suci). Dasar ekspansi mereka adalah keputusan Paus Alexander VI dalam perjanjian tordesillas. Perjanjian ini menyatakan bahwa bangsa-bangsa di luar negara gereja adalah bangsa biadab. Negaranya dinilai sebagai negara tak bertuan. Atas dasar ini kemudian bangsa barat melakukan pemusnahan etnis (genocide). Bangsa katolik spanyol diberikan kewenangan untuk menguasai belahan dunia barat, sedangkan kerajaan katolik portugis diberikan kewenangan menguasai belahan timur. Perjanjian tordesillas ini merupakan sumber lahirnya imperialisme barat melanda negara-negara asia dan afrika.

Di wilayah yang dilalui pelayaran kerajaan katolik portugis ini selalu terjadi bencana kemanusiaan karena motivasi pelayarannya bukan berniaga. Tujuan utamanya adalah reconquita dores (penaklukan Islam).

Namun, perjanjian tordesillas ini merupakan celah kebodohan bangsa barat waktu itu. perjanjian ini menganggap bahwa bumi itu datar. Pada kenyataannya bumi adalah bulat. Padahal sebelum itu, umat Islam sudah mengetahui bahwa bumi itu bulat (bahkan sebelum Copernicus mengeluarkan teorinya). Pada akhirnya terjadi pertemuan antara kerajaan katolik portugis dan kerajaan katolik spanyol di nusantara (tepatnya di maluku) sehingga antara keduanya terlibat peperangan. Peperangan ini juga terjadi dengan kerajaan protestan belanda yang saat itu sudah ada di nusantara. Ini juga merupakan salah satu bukti bahwa toleransi beragama umat katolik dan protestan sangat rendah. Sesama salib saling membunuh untuk mendapatkan kekuasaan.

Masuknya Islam di Nusantara

Dari berbagai teori tentang masuknya Islam di Nusantara Indonesia, Teori Makkah merupakan teori yang paling rasional diterima. Menurut berita Cina Dinasti Tang, Islam masuk ke Indonesia pada Abad ke 7 M. Berita ini menyatakan bahwa telah ditemukan daerah hunian wirausahawan arab Islam di pantai barat Sumatra. Maka dapat disimpulkan masuknya Islam adalah dari Arab dan masuk pada abad ke 7 M atau 1 H. Tentang berdirinya kesultanan Samudera Pasai pada abad 13 M, itu merupakan masa perkembangan Islam, bukan masuknya Islam.

Perkembangan Islam yang sampai di Nusantara ini adalah akibat umat Islam memiliki navigator yang dinamik dalam mobilisasi pasar dan maritim. Melalui kedua aktivitas ini, Islam mulai dikenalkan di sepanjang jalan laut niaga di pantai persinggahannya. Pada awal sejarahnya, ajaran Islam dikenalkan di pantai Nusantara Indonesia hingga di Cina Utara oleh wirausahawan Arab. Proses ini berlangsung selama lima abad (abad 1-5 H / 7-12 M). Langkah berikutnya, baru dilakukan pengembangan Islam ke pedalaman oleh wirausahawan pribumi (abad ke 6 H/13 M). Kemudian dari sini, mulai tumbuh kekuasaan politik Islam itu sendiri.

Dalam proses selanjutnya, perkembangan Islam di Nusantara sangat pesat. Hal ini disebabkan ajaran Islam sendiri adalah sederhana dan tidak memerlukan satu ritual khusus. Selain itu dalam Islam juga tidak mengenal adanya kasta seperti yang ada di agama hindu. Proses Islamisasi di Indonesia berjalan damai, tidak dengan pedang. Adapun tentang runtuhnya kerajaan-kerajaan hindu budha seperti majapahit dan sriwijaya pasca lahirnya kerajaan Islam, bukan disebabkan serangan kerajaan Islam, namun karena ditinggalkan oleh rakyat dan petingginya yang kemudian masuk Islam. Kerajaan Budha Sriwijaya kemudian hancur akibat serangan kerajaan Tamil India. Sedangkan kerajaan majapahit hancur akibat serangan kerajaan hindu kediri.

Perkembangan Islam di nusantara terjadi dengan komponen utama Pasar, Pesantren. Pasar merupakan tempat strategis penyebaran ajaran Islam. Pesantren merupakan tempat pendidikan untuk belajar Islam. Kedua komponen ini merupakan inti perkembangan Islam sehingga kemudian lahirlah Ulama dan Santri. Dengan keilmuan Islam yang sangat luar biasa waktu itu, kebudayaan dan peradaban nusantara terangkat menjadi peradaban yang mulia. Bermula dari peradaban hindu budha, animisme dinamisme, kemudian menjadi peradaban Islam. Kehadiran Islam di tengah masyarakat indonesia yang dibawa para wirausahawan muslim menjadikan daerah tersebut memiliki tingkat perekonomian kuat.

Masuknya Imperialisme Barat di Nusantara Indonesia

Perkembangan Islam di nusantara menghadapi tantangan dengan datangnya imperialisme barat. Dimulai dengan kekuasaan kerajaan portugis yang menguasai selat malaka, dan kemudian kedatangan imperialis kerajaan protestan belanda di banten. Kondisi ancaman ini namun tidak malah menghambat penyebaran Islam nusnatara, namun justru menjadi katalis proses konversi agama Islam yang dilakukan oleh para Raja dan bupati hindu budha di daerah pantai.

Pelayaran kerajaan katolik portugis dari tanjung pengharapan afsel 1488 M, 9 tahun kemudian sampai ke Goa India 1497 M. Dengan dikuasainya laut oleh kerajaan katolik portugis maka runtuhlan kekuasaan politik hindu budha di India selatan. Setelah portugis sampai di India, maka mereka baru menyadari bahwa negara sumber rempah-rempah yang dicari adalah bukan di India, melainkan Indonesia. setelah dari Goa India, Albuquerque (portugis) berhasil merebut malaka 1511 M sebagai pusat niaga dari kekuasaan Sultan Mahmud (kesultanan Aceh).

Kedatangan imperialis portugis di malaka mengacaukan sistem niaga yang sebelumnya damai menjadi sistem perampokan. Kerajaan katolik portugis tidak memiliki komoditi yang dibarterkan di malaka, sehingga permainan yang dijalankan adalah perampokan dan penindasan[1]. Dengan kacaunya sistem niaga di malaka, pusat niaga Islam dipindahkan ke Brunei.

Tujuan Portugis mengusasi malaka ini sebenarnya memiliki visi yang sangat jauh, yaitu keruntuhan kesultanan Turki yang selama ini menjadi penghalang utama imperialisme barat. Dengan kekuasaan portugis di malaka, diharapkan hubungan niaga rempah-rempah nusantara dan kesultanan turki akan terputus.

Dengan kondisi yang demikian kacau, Kesultanan Demak melancarkan perlawanan bersenjata merebut malaka, demikian pula Kesultanan Aceh. Namun usaha ini tidak berhasil. Kegagalan ini terjadi karena Kesultanan Islam Nusantara sebelumnya tidak menyiapkan armada laut yang tangguh. Kondisi yang aman dan damai membuat kekuatan armada laut diabaikan. Dengan kedatangan ekspansi barat dengan kekuatan armada lautnya, maka armada kekuatan Islam kalah. Pada intinya adalah kalah dalam persiapan.

Pada proses selanjutnya, nusantara menjadi tempat ajang kelanjutan peperangan bangsa salib di eropa[2]. Kedatangan kerajaan katolik spanyol di bawah pimpinan Magelhaens di filipina memperkeruh suasana. Mereka saling mendirikan benteng untuk peperangan. Peperangan ini juga menyeret beberapa kesultanan Islam di dalamnya seperti kesultanan Islam Ternate dan Tidore di maluku. Namun karena kesadaran akhirnya peperangan berbalik dengan persatuan Islam melawan katolik yang tidak mempunyai rasa toleransi. Pada proses selanjutnya, imperialis katolik ini berhasil diusir dari tanah nusantara.

Masalah selanjutnya timbul adalah gelombang baru kedatangan imperialis protestan Belanda dan anglikan inggris. Sama seperti imperialis lainnya, imperialis protestan ini membawa misi gold, glory dan gospel. Pada perkembangannya, kekuasaan atas nusantara adalah kerajaan protestan belanda.

Kerajaan protestan belanda mendarat di banten dengan armada yang terdiri dari residivis belanda. Dengan kekuatan armada residivis, maka armada belanda ini merupakan armada yang kejam, tidak memiliki rasa kemanusiaan, tidak memiliki toleransi dan tidak pernah menghargai manusia. Kedatangannya di nusantara pada awalnya disambut baik oleh pribumi, namun kemudian berbalik menjadi perlawanan. Armada belanda bukan merupakan armada yang besar, namun armadanya adalah armada kecil. Namun dengan pemikiran licik mereka pada akhirnya berhasil menguasai nusantara.

Pada kedatangannya di nusantara, kerajaan protestan belanda dihadapkan pada realitas masyarakat nusantara yang beragama Islam. Ini merupakan tantangan serius, sehingga sebenarnya kekuasaan belanda di indonesia bukanlah sekedar kekuasaan atas tanah, namun kekuasaan atas Islam. Sehingga peperangan yang terjadi adalah peperangan belanda melawan Islam.

Sistem yang dijalankan belanda untuk melumpuhkan kekuatan Islam adalah dengan politik pecah belah (devide at rule) dan politik sekulerisasi yaitu pemisahan antara agama dan politik. Kedua jalan yang dimainkan belanda ini kemudian berhasil untuk menguasai nusantra.

Dengan melakukan imitasi atas Islam, belanda membentuk kekuatan dagangnya yang kemudaian dinamakan VOC[3] yang kemudian disaingi oleh anglikan inggris yaitu EIC[4]. Namun walaupun ini merupakan organisasi niaga, VOC dan EIC ini mempunyai kekuasaan untuk memutuskan perang atau damai dengan negara atau kesultanan yang didatanginya.

Tujuan lain dengan dibentuknya VOC dan EIC adalah untuk mematahkan kekuatan niaga Islam. Usahanya adalah melumpuhkan pasar yang menjadi pusat kemakmuran umat Islam. Islam menjadi kuat karena menguasai pemasaran sebagaimana yang diajarkan Rosulullah. Perbedaan niaga yang dilakukan Islam dan Barat adalah pada tujuan untuk memakmurkan masyarakat. Bagi imperialis, pembentukan VOC dan EIC ini adalah untuk menghancurkan kekuasaan ekonomi dan politik Islam. Contoh konkret hal ini adalah, barat selalu mengaitkan perniagaan kemudian dikaitkan dengan peperangan dan akhirnya adalah penyebaran agama secara paksa. Hal ini dilakukan prancis dengan CIO[5] nya menegakkan penjajahan atas Indocina. EIC dalam mengembangkan ajaran protestan menjajah Myanmar, Burma, Malaysia, Singapura, Brunei dan Sabah. Protestan belanda menjajah tanjung pengharapan, sri langka, Indonesia dan Suriname[6].

Dengan realitas yang dijalankan demikian, maka perlawanan terhadap imperialisme barat berkobar dimana-mana termasuk di nusantara. Pelopor perlawanan ini adalah para ulama dan santri. Di pulau Jawa, perlawanaan dilakukan oleh Kesultanan Mataram yang dipimpin Sultan Agung, dan Dipati Ukur dari Tatar Ukur. Sedangkan di Banten terjadi Perlwanan dari Kesultanan Banten oleh Sultasn Ageng Tirtayasa.

Perlawanan yang dilakukan Sultan Agung dari Mataram mudah dipatahkan oleh belanda. Hal ini disebabkan jarak yang jauh antara Yogyakarta dan Batavia. Perlawanan Sultasn Agung yang menemui kegagalan ini kemudian dijalankan oleh Amangkurat I. Namun kebijakan politik yang dijalankan Amangkurat I ini adalah pro VOC. Dalam sejarah, tercatat Amangkurat I ini pernah melakukan pembunuhan 6000 ulama karena tidak setuju dengan kebijakan politiknya. Amangkurat I ini kemudian dilanjutkan oleh anaknya yaitu Amangkurat II. Dari sini kemudian timbul pemberontakan ulama san santri, kemudian termanifestasikan dalam pemberontakan Trunojoyo (1649-1680 M).

Sedangkan belanda kerepotan dengan perlawanan Sultan Ageng Tirtayasa yang kemudian membuka kontak dagang dengan Inggris. Belanda kemudian melakukan politik devide at rule – devide at impera untuk menghancurkan banten. Perlawanan Sultan Ageng Tirtayasa ini mendapatkan dukungan dari Ulama besar makassar Syeh Jusuf. Sultan kemudian juga memberikan bantuan kepada Trunojoyo yang pada saat itu memberontak ke VOC. Kemudian pemberontakan ini juga mendapatkan dukungan dari Sultan Hasanuddin dari Kesultanan Goa Makassar.

Pemberontakan yang dilakukan Tronojoyo ini sukar dipadamkan karena kesadaran Islam di kalangan rakyat masih sangat kuat[7]. Hal yang mereka yakini adalah Allah tidak akan memberkahi pulau Jawa selama orang-orang yang beragama kristen sebagai penjajah masih ada di pulau Jawa. Selama masih ada penjajah, tidak mungkin berkah dan rahmat Allah terlimpah untuk orang Jawa. Keyakinan dan kesadaran Islam dari rakyat ini menjadikan pemberontakan Trunojoyo mendapatkan dukungan rakyat.

Namun, perlawanan Trunojoyo ini terus terjepit karena belanda dengan serdadu yang profesional dan mendapat dukungan pasukan Amangkurat I dan Arung Palaka dari Bone. Belanda memainkan strategi menutup jalur niaga laut sehingga jalur niaga mati dan pasokan logistik untuk Trunojoyo mati. Penutupan ini selanjutnya dilakukan untuk jalan akses ke pelabuhan dan pesisir, sehingga praktis pemberontak terjepit di pedalaman. Dengan kondisi demikian, dengan mudah belanda akan menumpas pemberontak.

Dalam internal Kesultanan Banten sendiri, terjadi kudeta yang dilakukan Sultas haji (Putra Sultan Ageng Tirtayasa). Sultan haji ini kemudian memainkan politik yang berpihak pada VOC.

Perlawanan terhadap VOC selanjutnya dilakukan oleh Sultas Hasanuddin dari Makassar. Perlawanannya menemui kegagalan karena VOC mendapat dukungan dari Arung Palaka. Perang yang dijalankan sebenarnya hanya dilakukan Arung Palaka, sedangkan VOC yang serdadunya berjumlah 600 orang hanya membayangi dan memblokir wilayah lautan. Perlawanan Sultan Hasanuddin berakhir dengan perjanjian bongaya. Pada akhir perjanjian, mengakibatkan syariat Islam tidak lagi berlaku di Sulawesi Selatan, dan dikembangkan kembali maksiat, judi, sabung ayam, minum minuman keras ballo, madat dan pemujaan berhala.

Pada perkembangan selanjutnya, kerajaan protestan Belanda kalah peperangan dan jatuh ke tangan Perancis di bawah pimpinan Napoleon Bonaparte. Napoleon kemudian mengangkat Louis Napoleon sebagai Raja Kerajaan Belanda. Efek bagi kekuasaan belanda di nusantara adalah kemudian diangkatnya Gubernur Jenderal Marshall Herman Willem Daendels. Pada masa daendels ini, dibangun sistem pertahanan darat untuk membendung ekspansi serangan laut inggris. Dikenal dengan sistem pertahanan darat daendels[8]. Kemudian sistem ini terkenal dengan pembangunan jalan pantura anyer sampai panarukan sepanjang 1000 km dan jalan antar kota sepanjang 60 km.

Namun, dengan persiapan yang demikian ini, masih belum mampu membendung serangan laut armada inggris. Oleh pengganti daendels, jansen, terjadi penaklukan belanda oleh inggris yang kemudaian diserahkan pulau Jawa kepada Gubernur Jenderal Raffles. Dengan demikian, penjajahan oleh VOC beralih ke EIC inggris. Namun pada perkembangan akhirnya, dengan perjanjian london (Treaty of London 1824 M), jawa kembali diserahkan kepada Belanda.

Fakta sejarah di atas menunjukkan betapa sombongnya imperialis barat. Dengan hanya mendasarkan keputusan suatu surat perjanjian, wilayah bangsa lain dengan mudah dipertukarkan. Hanya antara kerajaan protestan belanda dan kerajaan protestan anglikan inggris dengan mudah melakukan pertukaran wilayah jajahan. Wilayah jajahan belanda di malaka, singapura, sri langka dan tanjung pengharapan diserahkan ke inggris. Sebaliknya inggris menyerahkan wilayah jajahannya di Indonesia ke belanda.

Pada masa Raffles di indonesia, prioritas utamanya adalah mematahkan kekuatan ulama dan santri. Jumlah ulama dan santri sebenarnya hanya sepersembilan belas dari jumlah penduduk Jawa. Namun konsistensi mereka yang anti penjajah selalu membuat goyah kaki penjajah barat akibat perlawanannya. Apalagi jika ulama dan santri membangun kerjasama dengan sultan atau bupati, maka akan sangat mengancam kelestarian penjajahan.

Pada masa Raffles ini, Sultan Hamengkubuwono II dari Yogyakarta memberontak. Namun atas bantuan P. Natakusuma, Raffles berhasil melumpuhkan perlawanan. Kemudian Raffles memakzulkan sultan dan dibuang ke Penang. Hamengkubuwana III diangkat Raffes, sedangkan atas jasanya membantu Raffles, P. Natakusuma diangkat menjadi Adipati Pakualaman. Demikian juga dengan P. Mangkunegara, kemudian diangat Raffles menjadi Adipati Mangkunegara di Surakarta. Ini merupakan strategi jitu yang dilakukan setiap penjajah barat, yaitu memecah belah kekuasaan politik Islam: Kesultanan Yogyakarta dengan Sultan Hamengkubuwana III dan luas wilayahnya dipersempit dengan dijadikannya wilayah baru Pakualaman.

Perlawanan bersenjata pada abad 19 M masih terus berlanjut baik dari pulau jawa maupun luar pulau jawa. Salah satu penyebabnya adalah segi ekonomi perniagaan, jalan laut dan niaga Nusantara ke Timur Tengah ditutup oleh imperialis Belanda. Di maluku, terjadi perlawanan oleh Kapten Pattimura. Perlawanan ini merupakan implikasi dari penindasan dan kekejaman penjajah protestan Belanda. Pattimura adalah seorang muslim. Namun, dalam deislamisasi sejarah Indonesia, nama Pattimura disandang sebagai nama seorang kristen.

Perlawanan lain juga berkobar di lampung dipimpin oleh Imba Kusuma 1832-1833 M. Perang lampung ini cepat diselesaikan karena letak lampung yang dekat dengan batavia.

Di banjarmasin kalimantan, terjadi perlawanan akibat belanda melakukan intervensi suksesi sultan. Akibatnya terjadi perang suksesi atau perang pergantian. Perang dipimpin pangeran Hidayatullah kemudian dilanjutkan Pangeran Antasari dan Sultan Mahmud. Kekuasaan kesultanan banjarmasin sangat kuat didukung oleh ulama Syaikh Mohammad Al Banjari. Namun setelah Syaikh wafat, belanda dengan mudah masuk ke kesultanan.

Di Batak, peperangan dipimpin oleh Si Singamangaraja XII. Dalam realitas sejarah, SI Singamangaraja XII meupakan seorang Muslim yang sangat taat kepada ajaran agama Rosulullah SAW. Hal ini dibuktikan pada stempel yang digunakannya menggunakan tahun hijrah nabi 1304 H. Bendera yang digunakannya adalah bendera merah putih, yaitu bendera perang Rosulullah, dan lambang pedang Rosulullah SAW[9].

Dengan menggunakan sistem operasi tanpa belas kasih yang dipimpin perwira yang tak perperasaan, serta bantuan missionaris Nommensen dan Simoniet, perlawanan Si Singamangaraja dapat diperlemah dan kemudian dilumpuhkan.

Pada waktu yang hampir bersamaan, terjadi pula perang Aceh. Perang ini terjadi akibat provokais belanda untuk menyempurnakan kekuasaan jajahannya atas seluruh pulau. Kesultanan aceh merupakan kesultanan yang kuat dan bahkan menjalin hubungan dengan Kesultanan Turki pada masa Sultan Mahmud Syah. Ini menggambarkan luasnya wawasan diplomatik kesultanan Aceh masa itu. Selain itu, kesultanan aceh juga membangun hubungan diplomasi dengan kerajaan katolik napoleon III (1852 M) kemudian dengan amerika serikat dan inggris untuk membendung serangan kerajaan protestan belanda.

Dengan mengusung perang sabil melawan protestan belanda, Aceh sulit ditaklukkan. Bahkan jenderal kohler tewas bersama 80 serdadu lainnya. Namun dengan serangan belanda yang bertubi-tubi, kemudian melamahkan Aceh. Kekuatan diplomasi yang dimiliki aceh tidak mampu digunakan karena mereka sendiri di negaranya sedang berperang.

Dalam perang aceh ini, Ulama dapat menumbuhkan ketahanan dalam derita di kalangan para pejuang Aceh. Carl von Clausewitz menyatakan dalam perang secara teori memerlukan keteguhan mental dan karakter.

Perang Aceh ini berlangsung sampai berakhirnya penjajahan belanda yang menyerah kepada balatentara dai nippon pada kapitulasi di kalijati subang 8 Maret 1942 M. Perang gerilya berlangsung terus hingga 1942 M dan berproses selama 71 tahun.

Belanda yang kesulitan menghadapi perlawanan Aceh kemudian menggunakan snouck hurgronje sebagai pakar bahasa arab dan Islam dari Universitas leiden belanda. Snouck menasehatkan hanya dengan menghancurkan seluruh kekuatan ulama, maka serdadu dan pemerintahan kolonial belanda akan menguasai Aceh. Di setiap kampung, pesantren masjid yang didatangi serdadu belanda, dilancarkan genosida, pemusnahan terhadap segenap penghuninya anak, orang tua laki maupun perempuan dibantai.

Namun dengan semangat Rakyat Aceh atas keberanian mempertahankan kebenaran walaupun sampai gugur tidak pernah disesali. Karena Islam mengajarkan mati dalam menegakkan kebenaran sebagai mati syahid, kematian yang terhormat. Sebaliknya mati kafir membela penjajahan adalah kematian yang sangat hina.

Perlawanan lain di luar Jawa dilakukan Oleh Imam Bonjol di Sumatera Barat. Ini merupakan perlawanan akibat adanya provokasi dari belanda agar terjadi perang antara kaum adat[10] kontra kaum padri[11]. Provokasi yang dilakukan belanda ini sebenarnya tidak hanya menumpas islam wahabi , namun tujuan sebenarnya adalah mengusir Amerika Serikat dan Inggris yang mengadakan kontak dagang dengan kaum padri. Pada akhirnya, dengan menggunakan kaum adat, maka belanda berhasil memukul perlawanan kaum Padri.

Di pulau Jawa sendiri, Belanda menghadapi perlawanan Pangeran Diponegoro. Perang Diponegoro berlangsung 1830-1837 M. Perang Diponegoro meletus akibat pengaruh belanda yang menyebabkan pergeseran budaya Keratorn Yogyakarta menyimpang dari ajaran Islam. Mereka hidup mewah, menindas rakyat dan melakukan pernikahan tanpa batas.

Gerakan yang dilakukan Pangeran Diponegoro ini didukung oleh Kiai Madja dan Sentot Ali Basyah Prawirodirjo sebagai panglima perang. Perang dilaksanakan dengan sistem gerilya. Perang berlangsung di Yogyakarta dan sekitarnya. Hal ini merupakan ancaman serius bagi kelestarian penjajah belanda. Pada mulanya perang ini dilancarkan melawan penjajah belanda, namun kembali lagi pada strategis politik devide at rule belanda, perang berbalik menjadi peperangan dengan sesama muslim yaitu laskar susuhunan Surakarta dan Madura. Akibatnya rakyat Yogyakarta dan Surakarta menjadi korban, dan ditambah penderitaan mereka akibat kelaparan dan wabah penyakit. Akibat perang diponegoro ini, belanda menderita kerugian besar, 15.000 serdadunya mati, diantaranya 8.000 adalah serdadu kulit putih.

Pada akhirnya, Pangeran Diponegoro dipaksa masuk ke meja perjanijian bersama de kock. Namun perjanjian ini merupakan perangkap penangkapan. Pangeran Diponegoro kemudian ditangkap dan dibuang ke Manado dan kemudian ke Makassar. Kiai Madja dibuang ke Sulawesi Utara. Sentot Ali Basyah dibuang ke Bengkulu yang kemudian berpihak ke Imam Bonjol dalam perang Padri kedua (1830-1837 M)

Dampak penangkapan dan pembuangan pejuang Islam dengan sistem silang wilayah pembuangan (jawa ke luar jawa, luar jawa ke jawa) adalah untuk mencampurkan mereka ke masyarakat dengan mayoritas nasrani. Dengan cara ini, diharapkan pengaruhnya akan hilang.

Setiap penjajah hanya mampu menguasai dan menduduki wilayah semata. Tidak mungkin mampu menguasai kemauan bangsa atau rakyat yang dijajahnya. Pemimpin, sultan dan raja dapat ditaklukkan di meja perundingan, namun tidak demikian dengan kemauan rakyat.

Dampak peperangan yang dilakukan kerajaan protestan belanda, baik melawan napoleon, Pangeran Diponegoro, Perang banten, dan perang padri adalah krisis keuangan pemerintah kolonial. Tertindih juga hutang dengan EIC inggris. Demi melunasi hutangnya, kemudian di bawah Gubernur Jenderal van den bosch menciptakan sistem pajak dalam bentuk natura yang dibebankan kepada petani muslim Jawa. Para petani Muslim diwajibkan menanam tanaman yang hasilnya dapat dipasarkan di eropa yaitu kopi, teh, nila, tebu dan tembakau. Sistem pajak in natura ini disebut cultuurstelsel, kemudian diterjemahkan menjadi sistem tanam paksa (1830-1919 M)

Sistem tanam paksa ini memiliki banyak tujuan, salah satunya di bidang militer. Dalam bidang militer, sistem tanam paksa ini adalah sebagai penuntasan operasi militer melumpuhkan santri dan ulama. Bagi Petani Muslim, sistem tanam paksa menjadi bencana merupakan bencana tak terperikan. Dengan sistem ini, banyak petani yang mengalami kelaparan, penyakit, dan kebodohan. Keluarganya hancur dan anak-anaknya tidak memiliki kesempatan menikmati pendidikan di pesantren yang diselenggarakan ulama[12].

Para Petani Muslim, ulama dan santri dimatikan kesadarannya dan kemampuannya dalam hal sistem pemasaran tanaman yang dibutuhkan oleh pasar eropa. Ditindasnya hingga tidak mampu lagi memahami makna dan fungsi pasar serta toko dalam dunia niaga.

Secara sistemik, pemerintah belanda menciptakan kondisi pola pikir pribumi untuk siap bekerjasama sebagai punggawa pegawai pemerintah jajahan. Segenap aktivitas kehidupan dan jiwa kewirausahaannya dilumpuhkan dan kemudian menjadi ketergantungan dengan pemerintahan kolonial. Mereka adalah para pangreh praja, yang kemudian menjadi kaki tangan pemerintah kolonial menindas rakyatnya sendiri.

Untuk melumpuhkan pergerakan ulama dan santri, belanda membangun wilayah dan tata kota yang menghalangi ruang gerak. Hunian penjajah berada pada pusat kota, antar gedungnya dihubungkan dengan jalan-jalan dan bermuara ke stasiun dan bandara, pelabuhan. sedangkan untuk pribumi Islam, letaknya di belakang kabupaten yang tidak mempunyai perencanaan sehingga tidak ada sistem riol dan terkesan menjadi wilayah kumuh.

Pulau jawa sendiri dipecah-pecah menjadi wilayah kerajaan katolik dan kerajaan protestan. Ini mirip dengan yang dilakukan di eropa. Di kota besar, wilayah penjajah protestan ditandai dengan adanya pusat pemerintahan yang berstatus sebagai balai kota, diapit oleh dua gereja protestan dan katolik yang dibangun bersebrangan dan didirikan dekat dengan jalan kereta api.

Pemisahan beberapa lokasi di nusantara juga dilakukan belanda untuk memecah kesatuan Islam. Politik yang dimainkan adalah politik kristenisasi. Wilayah medan, sumatera utara dijadikan sentra politik kristenisasi untuk memutuskan kontak antara umat Islam Aceh dan Sumatera Barat. Di jawa tengah, kota ungaran, salatiga dan Magelang digunakan sebagai sentra kristenisasi untuk memecah dakwah ulama di Semarang dengan Surakarta dan Yogyakarta. Di jawa timur, dipilih Mojoagung, Jombang dan Mojokerto guna memecah umat Islam Surabaya Gresik dengan Jombang dan Kediri. Kemudian sayap luarnya Malang dipilih untuk memutuskan hubungan Kediri dengan Jember dan Banyuwangi. Di jawa barat, dipilih majalengka untuk memutuskan kontak umat Islam Cirebon dengan Bandung. Kemudian juga dipilih Ciranjang Cianjur untuk memutuskan Bogor dan Bandung selanjutnya Sukabumi untuk memutuskan wilayah selatan jawa barat dan banten.

Belanda juga membangun jalan kereta apai yang digunakan untuk benteng stelsel. Fungsi utamanya adalah sebagai penunjang mobilitas gerakan operasi serdadu belanda dalam upaya mempersempit ruang gerakan perlawanan ulama dan santri.

Memasuki masa akhir tanam paksa, belanda mendapatkan keuntungan yang luar biasa. Keuntungan ini didapatkan dengan penindasan kepada rakyat petani Muslim. Pada tahun 1900 M belanda menjalankan politik etis yang katanya dimaksudkan untuk balas budi kepada jasa petani pribumi. Politik etis ini dilaksanakan dengan pembangunan 3 sektor penting, irigasi, edukasi dan transmigrasi. Namun, dalam pelaksanaannya politik etis ini kemudian digunakan untuk pembodohan penduduk pribumi dan kembali untuk keuntungan belanda. Nama politik etis tidak lebih hanya sebuah bualan sampah pemerintah penjajahan untuk menindas rakyat Indonesia.

Dalam rangka melumpuhkan seluruh kekuatan ulama dan santri serta sawah dan ladangnya, sebagai sumber logistik dan pangan, maka irigasi dijadikan sebagai senjata utama pemerintahan kolonial. Tanpa air yang teratur, sawah dan ladang tidak akan produktif. Dengan demikian, akan berdampak melemahkan pangan. Upaya ulama dan santri dalam memenuhi kebutuhan air sawah dan ladang akan bergantung pada irigasi yang dibangun pemerintahan belanda seperti yang dilakukan pada politik etisnya.

Program transmigrasi yang dilakukan dalam politik etis ini merupakan sistem pemindahan kerja petani Muslim Jawa ke wilayah luar jawa. Pelaksanaan program transmigrasi ini sendiri merupakan upaya untuk memperlemah kedudukan ulama dan santri. Dengan dipindahkannya masyarakat pendukung, maka ulama dan santri akan kehilangan basis suplainya. Pemindahan ini dilakukan dari wilayah yang rawan perlawanan bersenjata ke wilayah lain baik secara bedol desa maupun warga desa. Sistem pemindahannya dilakukan bukan atas dasar sukarela penduduk, akan tetapi secara paksa disertai poenale sanctie[13].

Dalam program pendidikan yang dijalankan belanda dalam politik etis ini, keberpihakannya masih kepada para bangsawan dan orang eropa. Perilaku rasial ditunjukkan di sini untuk menempatkan siapa yang berhak mendapatkan pendidikan. Golongan eropa atau generasi muda penjajah mendapatkan perlakuan istimewa. Pendirian sekolah-sekolah dimaksudkan untuk menjauhkan pengaruh ulama dengan pesantrennya dari kehidupan masyarakat. Awal pendirian sekolah ini ditujukan untuk kalangan bangsawan. Orientasi yang dibentuk dari sekolah ini adalah lahirnya bangsawan yang berorientasi belanda. Baru pada tahun 1907 M lah anak-anak pribumi Islam diberikan sekolah dasar.

Tujuan pemerintahan kolonial mendirikan sekolah adalah bukan mencerdaskan kehidupan anak bangsa atau pribumi melainkan adalah untuk menjaga agar pribumi Muslim tetap terbelakang dan terbelenggu dalam rasa rendah diri. Diskriminasi menjadi satu hal yang sangat digencarkan oleh belanda dalam usahanya menekan umat Muslim.

Kebangkitan Kesadaran Nasional

Perubahan tatanan tanah jajahan dari sistem imperialisme kuno menjadi imperialisme modern telah membangkitkan ulama dan santri untuk memberikan jawaban yang disesuaikan dengan tantangannya. Ulama dan santri kemudian tidak melakukan perlawanan dengan senjata. Perlawanan yang dilakukan oleh para ulama dikembalikan lagi sebagaimana Islam pertama ada kemudian berkembang dan menjadi besar. Dalam hal ini adalah perniagaan dan perdagangan. Oleh karena itu kemudian para ulama dan santri mendirikan organisasi pemasaran Sarekat Dagang Islam (SDI) pada 16 Oktober 1905 di Surakarta oleh Haji Samanhudi.

Hakikat dasar pendirian SDI ini adalah mewujudkan kebangkitan nasional yaitu sebagai suatu kebangkitan menanamkan kesadaran cinta tanah air, bangsa dan agama dengan merebut kembali penguasaan pasar. Kebangkitan ini perlu karena nusantara Indonesia selama ini telah dirusak oleh kaum imperialis kerajaan protestan belanda dalam tiga hal tersebut:

  1. Kekayaan tanah air dirampok sehingga menumbuhkan kemiskinan, kebodohan dan hilangnya kedaulatan bangsa.
  2. Kehidupan martabat bangsa direndahkan, hilangnya penguasaan pasar dan pasarnya dialihtangankan kepada nonpribumi: vremde oosterlingen, cina, india, dan arab.
  3. Penganut Islam atau lainnya melalui politik kristenisasi, dipaksa melakukan konversi alih agama ke kristen.

Ini kebangkitan utama yang akan menjadi satu senjata untuk menghadapi penjajah. Kesadaran inilah yang kemudian dinamakan nasionalisme. kesadaran nasionalisme merupakan kesadaran atas dasar rasa cinta pada tanah air, bangsa dan agama. Dan ulama serta santri merupakan awal pembangkit kesadaran nasionalisme bangsa Indonesia ini sehingga nantinya akan terwujud kemerdekaan Indonesia.

Dalam sejarah yang dicatat Indonesia, lagi-lagi terdapat unsur deislamisasi yaitu dengan dihilangkannya peran ulama dan santri dalam upaya kebangkitan nasional. Kebangkitan nasional identik dengan pendirian budi utomo sebagai pelopor kebangkitan nasional. Padahal budi utomo yang didirikan 20 Mei 1908 dengan jelas dalam kongresnya di surakarta menolak cita-cita persatuan Indonesia. budi utomo menjadi organisasi yang sikapnya sangat kontradiksi dan sangat eksklusif dengan realitas gerakan nasional yang saat itu sedang membangun kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia. budi utomo lebih mengutamakan sistem keanggotannya yang terbatas bangsawan suku Jawa serta gerakannya sebagai gerakan Jawanisme.

Dalam realitas yang terjadi, pelopor kebangkitan nasional adalah Islam. Pertama, Islam merupakan agama kesatuan di Indonesia. 90% penduduk Indonesia waktu itu beragama Islam, baik itu di Jawa maupun Sumatra dan pulau lainnya. Kesamaan keyakinan inilah yang menjadi dasar terbentuknya solidaritas melawan penjajahan kerajaan protestan belanda yang melancarkan politik kristenisasi.

Kedua, Islam bukan hanya sebagai agama yang mengajarkan perlunya membangun jamaah. Islam juga sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah asing barat. Ketiga, umat Islam melalui ulama dan santri menjadi pelopor penggunaan bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa melayu pasar sebagai senjata ampuh untuk mengekspresikan aspirasi perjuangan nasional. Perkembangan bahasa Indonesia ini pada selanjutnya menjadi sebuah senjata kejiwaan yang sangat ampuh (the terrible psychological weapon) untuk melawan belanda.

Berbagai konspirasi dilakukan belanda untuk mengahambat perkembangan Islam melalui SDI ini. Dengan menggunakan Budi Utomo hal ini dilakukan. Salah satunya adalah provokasi dengan diterbitkannnya surat kabar yang menghina Rosulullah. Berbagai tuduhan dan fitnah pun dilancarkan kepada SDI ini dengan tujuan memberikan pressure agar organisasi ini tidak berkembang.

Namun, berbagai tekanan dan provokasi itu tidak berhasil. Pemimpin SDI bukan orang yang sembarangan. Salah satunya adalah Oemar Sahid Cokroaminoto. Beliau adalah seorang ulama dan diplomat serta politikus yang genius, melalui SDI (saat itu sudah berubah menjadi Syarikat Islam) bertindak seperti pandai besi. Ditempanya jiwa umat yang sedang panas ibarat besi yang membara. Kemudian jiwa itu dibentuk menjadi senjata ampuh yang mampu melindungi dan menjaga serta menyukseskan kepentingan dan target umat dan menegakkan hak politik umat. Hal ini kelak yang akan membuat berakhirnya penjajahan di nusantara Indonesia.

Konsep Oemar Sahid Cokroaminoto adalah : tidak bisa manusia menjadi utama yang sesungguhnya, tidak bisa manusia menjadi besar dan mulia dalam arti kata yang sebenarnya, tidak bisa ia menjadi berani dengan keberanian yang suci dan utama, kalau ada banyak barang yang ditakuti dan disembahnya. Keutamaan, kebesaran, kemuliaan dan keberanian yang demikian itu hanyalah bisa tercapai karena tauhid saja. Tegasnya, menetapkan lahir batin Tidak ada sesembahan melainkan hanya Allah semata.

Gerakan Islam saat ini berkembang pesat. Setelah berdirinya Syarikat Islam, kemudian di Jawa Barat terdapat Perserikatan Ulama 1915 M. Tujuannya adalah dengan melalui pesantren dibangkitkan kesadaran kemandirian umat dan santri. Gerakan lain yang tumbuh adalah Persatuan Islam 1942 M dengan tujuan memelopori kebangkitan gerakan purifikasi ajaran Islam untuk kembali ke ajaran Al Quran dan As Sunnah.

Para ulama tersebut berjuang untuk mencerdaskan bangsa melalui pesantren madrasah dan sekolah yang dibangunnya. Selain itu ulama menanamkan rasa solidaritas terhadap derita sesama muslim. Segenap penderitaan yang dialami oleh umat Islam merupakan produk sistem penjajahan.

Dengan perkembangan organisasi pergerakan Islam yang demikian pesat, belanda kembali memainkan politik devide at rule nya yaitu dengan memecah belah. Belanda mempertentangkan ajaran Islam dengan ajaran Kejawen dan kesundan serta mengembangkan pertentangan prasangka etnis. Belanda juga mempertentangkan ideologi Islam dengan ideologi Komunis. Dalam internal ulama sendiri, belanda berhasil memecah hubungan antara ulama Ahlu Sunnah wal Jamaah dengan kalangan penganut wahabi dengan mempertentangkan permasalahan furu atau masalah khilafiyah.

Lawan yang menjadi penghadang kekuatan gerakan Islam masa itu adalah kristenisasi, kebatinan, kapitalisme, komunisme dan korupsi. Beberapa masalah ini berujung pada kebijakan belanda yang ingin mematikan gerakan Islam melalui Syarikat Islamnya. Oemar Sahid Cokroaminoto dalam kepemimpinannya pernah dituduh sebagai koruptor oleh seorang komunis Darsono. Namun tuduhan ini tanpa bukti dan hanya ingin menjatuhkan kedudukan beliau. Komunis melalui PKI terus melancarkan fitnah kepada SI sehingga SI bersikap tegas dan kemudian mengeluarkan Disiplin Partai yang bertujuan membersihkan SI dari pimpinan anggota dan ideologi komunis. Dalam perjalanan sejarah Indonesia, periode gerakan kebangkitan nasional, SI tampil sebagai pelopor terdepan penentang ideologi marxist di Indonesia.

Pada tahun 1912 M, Surakarta dan Yogyakarta dijadikan medan kristenisasi oleh belanda. Alasannya, Surakarta dan Yogyakarta telah dikelilingi pusat pendidikan kristenisasi dair ungaran, salatiga, boyolali dan kebumen serta magelang sebagai pusat pendidikan serdadu belanda. Sebagai kekuasaan politik, kesultanan Surakarta dan Yogyakarta tidak berdaya karena Sultan dan Sunan hanyalah gelar semata. Segala kebutuhan kesultanan dijatah pemerintah belanda. Umat Islam benar-benar menjadi umat yang tidak memiliki kekuasaan politik sebagai pelindungnya.

Kondisi yang demikian mengilhami KH Achmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah pada 18 November 1912 M. KH Achmad Dahlan terpanggil hatinya menjawab tantangan kemiskinan struktural masyarakat muslim korban penindasan sistem Tanam Paksa. Untuk mengaplikasikan dan mengorganisir gerakannya, KH Achmad dahlan membentuk Perserikatan Muhammadiyah memelopori pembangunan Panti Yatim Piatu dan selanjutnya untuk menyantuni kaum dhuafa, dibentuk Majlis Penolong Kesengsaraan Umum (MPKO).

Kemudian perserikatan Muhammadiyah membentuk organisasi untuk pembinaan gadis. Organisasi ini kemudian dinamakan menjadi Nasyiatul Aisyah pada 1929 M. Penamaan ini menggunakan silsilah keluarga Rosulullah sebagai perwujudan bahwa organisasi ini bergerak dengan semangat Islam.

Gerakan Perserikatan Muhammadiyah ini kemudian mengembangkan gerakannya sebagai gerakan sosial pendidikan. Bidang edukasi politik etis yang saat itu dikembangkan belanda sangat minim untuk kepentingan penduduk pribumi. Pendidikan yang dilakukan Perserikatan Muhammadiyah ini terbuka bagi semua kalangan. Dengan gerakan Perserikatan Muhammadiyah ini, maka Islam mudah berkembang pula di luar pulau jawa. Perserikatan Muhammadiyah sendiri berkembang pesat di Sumatra Barat karena disini terdapat teman seperguruan KH Achmad Dahlan yaitu Haji Rasul atau Haji Abdul Karim Amrullah.

Gerakan kebangkitan Islam juga muncul di Majalengka. Sebuah kota kecil di jawa barat yang dijadikan medan kristenisasi belanda. Gerakan kesadaran Islam di majalengak dipimpin oleh KH Abdulhalim dengan mendirikan organisasi Hajatul Qulub 1911 M yang kemudian beralih nama menjadi Persyarikatan Ulama 1917 M. Selanjutnya setelah bekerjasama dengan KH Acmad Sanusi di Sukabumi, maka dibentuklah organisasi Persatuan Umat Islam (POI). Gerakan ini pada nantinya akan menjadi Nahdhatul Ulama (NU).

Nahdhatul Ulama (NU) didirikan oleh KH hasyim Asyari yang berarti kebangkitan Ulama. Kondisi ini sejalan dengan umat Islam saat itu yakni sedang dalam perjuangan membangkitkan kesadaran nasional. Pendirian NU ini mempertegas pula nama Perserikatan Ulama yang didirikan KH Abdulhalim yang memiliki persamaan anutan sebagai penganut Ahli Sunah wal Jamaah.

Pada perkembangan berikutnya, organisasi Islam di atas melahirkan tokoh-tokoh yang kemudian memberikan kontribusinya bagi kemerdekaan Indonesia. Stelah itu muncullah berbagai organisasi Islam yang kemudian sebagai wadah pergerakan Islam menuju kemerdekaan Indonesia.

Pada perkembangan akhirnya, pemerintah kolonial belanda berakhir saat akhir perang dunia II. Saat itu, pemerintah kolonial belanda bertekuk lutut kepada jepang 8 maret 1942 M. Keberhasilan jepang di bawah pimpinan letnan jenderal Imamura menyeret jenderal Ter porten dan gubernur jenderal Tjarda ke meja kapitulasi kalijati Subang. Dengan tumbangnya belanda dan rusia saat kalah dengan jepang ini membuktikan bahwa tumbangnya kulit putih bukan lagi sekedar dongeng. Dalam realitas sejarah yang benar-benar terjadi di Indonesia jepang sebagai kulit berwarna ternyata mampu mengalahkan belanda sebagai bangsa kulit putih.

Dalam perkembangan selanjutnya, umat Islam dengan pimpinan Ulama tidak mau untuk tunduk dan membangun kerjasama dengan penjajahan jepang. Hal ini tidak seperti yang terjadi di timur tengah dimana Kerajaan Saudi Arabia dan Republik Turki sekuler berpihak ke Sekutu. Sebabnya umat Islam Indonesia menghadapi tantangan yang sangat berbeda dengan umat Islam timur tengah.

Kondisi sekutu di Indonesia di akhir perang dunia II lumpuh selain itu pemerintahan kolonial belanda memusuhi umat Islam dan Ulama. Kondisi sebaliknya di timur tengah, pakta pertahanan sekutu kuat, sehingga sekutu bekerjasama dengan Islam melawan pakta pertahanan poros Jerman dan Italia. Namun, pada akhirnya pakta pertahanan ini kemudian digunakan untuk mendirikan negara israel guna mengimbangi pertumbuhan gerakan nasional Islam.

Keberpihakan Ulama dan politisi Islam dalam menjawab tantangan perang asia timur raya (1942-1945 M) yang tidak berpihak pada penjajah barat membuat bangsa Indonesia terhindar dari upaya pengabdian penjajahan barat. Oleh karena itu, E.F.E Douwes Dekker Setiabudi sebagai salah satu pelaku sejarah dan saksi sejarah serta pimpinan Indische Partij (1912 M) dan National Indische Partij menyatakan: Jika tidak karena sikap dan semangat perjuangan para ulama, sudah lama patriotisme di kalangan bangsa kita mengalami kemusnahan.

 

Didik Hari Purwanto, 16 Januari 2012.


[1] Menurut Jan Romein, kapal-kapal portugis dan imperialis lainnya berangkat dari pelabuhan eropa sebagai kapal kosong. Demi mengurangi oleng di samudra, diberikan muatan batu. Apabila sampai di pelabuhan Nusantara, batu dibuang digantikan dengan muatan barang hasil rampokan.

[2] Peperangan yang dilakukan antar kulit putih dan antar salib di nusantara ini merupakan kelanjutan perang agama di eropa waktu itu. peperangan terjadi karena pengaruh perbedaan ajaran katolik dan protestan. Kerajaan katolik spanyol berusaha menghapus segenap ajaran protestan dan calvinis dari wilayah belanda sehingga mereka melakukan penjajahan atas belanda. Katolik pada waktu itu adalah kerajaan spanyol, portugis, jerman, perancis. Namun antar kerajaan katolik inipun saling terlibat peperangan karena perbedaan kepentingan politik.

[3] Verenigde Oost Indische Compagnie

[4] East Indian Company

[5] Campagnie des Indes Orientales yaitu organisasi dagang milik Prancis

[6] Arsitek penjajahan VOC belanda adalah: Gubernur Jenderal Antonio van Diemen (1636-1645 M), Djohan Maetsoeyker (1653-1678 M), Cornelis J. Speelman (1681-1684 M)

[7] M.C Ricklefs.

[8] Sistem ini adalah sistem satu meriam daratan dapat melumpuhkan seratus meriam laut inggris.

[9] Pedang Zulfikar

[10] Kaum adat adalah kaum Islam namun tetapi masih minum-minuman keras, main judi, dan menyabung ayam.

[11] Kaum Padri merupakan kaum muslim yang berpegang teguh pada ajaran Islam.

[12] Tujuan tanam paksa dari politik penjajahan adalah the destruction of the enemy forces (Penghancuran segenap kekuatan lawan). Sasaran utamanya adalah ulama dan santri serta massa pendukungnya di daerah pedalaman sebagai lawan.

[13] Suatu hukuman yang dikenakan terhadap orang yang melarikan diri dari daerah kerja paksanya.

2 thoughts on “Rangkuman Buku Api Sejarah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s