Perspektif

Menumbuhkan Asa Dibalik Aksioma Realita

Disana tempat lahir beta, dibuai dibesarkan bunda.

Tempat berlindung di hari tua, tempat akhir menutup mata.

 

            Potongan syair lagu di atas mengingatkan kita betapa kita bangga menjadi bangsa dan bagian dari negara Indonesia. Sebuah negara besar dengan batas wilayah laut yang terluas di antara negara-negara di dunia. Luas wilayah membentang dari barat ke timur, dari Sabang hingga Merauke yang sama panjangnya dengan jarak antara Greenwich London hingga Baghdad Irak. Dari utara hingga selatan, membentang Kepulauan Talaut ke Pulau Rote sama dengan jarak dari Jerman hingga Aljazair. Indonesia juga merupakan negara besar dengan kekayaan energi, alam dan mineral yang berlimpah. Kandungan emas, minyak, gas alam dan batubara merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Kekayaan sumber daya energi geothermal terbesar di antara negara lain di dunia mencapai 27.000 MWe dan tersebar di 253 lokasi. Kekayaan alam yang begitu berlimpah ini didukung dengan melimpahnya sumber daya manusia terbesar ketiga di dunia. Tidak ada keraguan bagi Indonesia untuk menjadi sebuah negara besar dan adidaya.

Namun, bagaimana kabar negara kita saat ini? apakah masih sama dengan gambaran indah yang dilukiskan pada paragraf di atas? Sudah saatnya membuka mata lebih lebar untuk melihat realita bahwa negeri ini masih sangat jauh untuk menjadi negari yang adidaya dan mampu menciptakan kehidupan masyarakat yang adil dan sejahtera. Kekayaan alam yang berlimpah yang dimiliki merupakan ujung tombak kemajuan sebuah negara. Ya, Indonesia memilikinya, namun mengapa masih banyak rakyat Indonesia yang hidup dibawah kolong jembatan, anak-anak kecil yang tidak sekolah dan menjadi pengamen dan pengemis di jalanan? ada pada siapa kesalahan yang membuat mereka tidak bisa menikmati kekayaan sumber daya alam Indonesia ini. Sebenarnya Indonesia ini milik siapa? Pertanyaan ini yang senantiasa menggelitik kita dalam melihat realita kehidupan bangsa Indonesia.

“Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat” (amanat UUD 1945 pasal 33 ayat 2 dan 3. Berdasarkan pasal tersebut, jelas bahwa Negara Indonesia memiliki tanggung jawab konstitusional dalam meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat dengan memanfaatkan sumber daya alamnya yang berlimpah. Namun bagaimana dengan potret kekayaan sumber daya alam Indonesia saat ini? Sumber daya air Indonesia yang berlimpah saat ini telah mengalami privatisasi. Indonesia tidak punya hak untuk mengelola sumber mata air, karena seluruh sumber daya air Indonesia saat ini telah dikuasai sepenuhnya oleh Danone dari Prancis. Sebagai contoh adalah pada produk minuman Aqua, maka akan selalu tercantum nama Danone di sana.

Salah satu contoh kekayaan sumber daya mineral Indonesia yang lain adalah emas. Kekayaan sumber mineral emas Indonesia merupakan salah satu kualitas yang terbaik di dunia. Kandungan emas terbesar terdapat di bumi Irian Jaya, yang saat ini dikuasai oleh PT Freeport. Pembagian hasil kekayaan hasil eksplorasi ini adalah 8,4% untuk Indonesia, sedangkan sisanya sebesar 91,6% adalah untuk dibawa PT Freeport ke Amerika Serikat. Pertambangan emas yang pada awal persetujuannya merupakan persetujuan pertambangan tembaga ini terus berlanjut sampai sekarang. Kandungan emas dari PT Freeport ini diindikasikan mampu untuk menopang pembangunan infrastruktur di New York dan Michigan USA secara keseluruhan. Namun cukup sampai disinikah kekayaan alam Irian? Tidak, pada perkembangan selanjutnya setelah dilakukan eksplorasi, ternyata pada tambang ini terkandung juga kekayaan Uranium. Uranium merupakan bahan bakar utama nuklir. Dan kembali lagi pada kesepakatan awal, dalam hal semua kekayaan ini, Indonesia hanya mendapatkan jatah 8,4% saja, tidak lebih.

Selain krisis pada sumber daya mineral, kedaulatan Indonesia dalam sektor energi juga masih menjadi sebuah pertanyaan. Kekayaan minyak bumi yang ada di Indonesia banyak yang masih dikuasai oleh corporate asing, Exxon Mobil di Blok Cepu, Chevron di Sumatera dan Kalimantan, Newmount di Nusa Tenggara dan lain-lainnya. Pertamina sebagai satu-satunya perusahaan BUMN hanya memainkan sebagai pembeli tunggal (monopoli) dari hasil eksplorasi asing. Pertanyaannya sampai kapan Pertamina akan terus sanggup untuk membeli  sedangkan uang Indonesia tiap tahunnya masih harus dikeluarkan ke World Bank dan IMF untuk membayar hutang negara? Dahulu, Pertamina diberikan hak untuk melakukan monopsoni (penjual tunggal) produk energi fosil di Indonesia. Namun seiring dengan permainan birokrasi dan undang-undang negara, sekarang tidak lagi berlaku. Kalau dahulu kita menjumpai semua SPBU yang ada di Indonesia adalah milik Pertamina, sekarang kita bisa menjumpai SPBU milik Petronas (Malaysia), Shell (USA) dan lainnya. Ini merupakan sebagian contoh yang menyampaikan pesan bahwa kedaulatan Indonesia atas energi masih perlu dipertanyakan.

Kondisi sirkulasi hilir energi Indonesia juga tidak beda dengan kondisi sektor hulu energi Indonesia, yakni sama-sama mengalami krisis. Konsumsi energi nasional tertinggi menurut data ESDM adalah pada penggunaan BBM sektor transportasi. Konsumsi minyak bumi saat ini mencapai angka 51,70% dari konsumsi energi nasional masih sangat jauh visi energi nasional 2025 yang akan ditekan menjadi angka kurang dari 20%. Penggunaan BBM yang semakin tinggi membuat BBM langka dan mahal. Semakin banyaknya kendaraan yang beredar di masyarakat dan ditambah mudahnya akses untuk memperolehnya membuat konsumsi BBM negara semakin meningkat. Peningkatan permintaan konsumsi ini membuat pasokan BBM negara semakin berkurang secara signifikan dan membuatnya semakin langka. Dengan kondisi pasokan energi BBM yang semakin menipis dan dengan melonjaknya harga BBM dunia, maka pemerintah mengeluarkan subsidi dari APBN untuk menekan gejolak masyarakat. Saat ini, total subsidi BBM dari APBN adalah sebesar Rp 129,723 triliun.

Pada akhirnya, mari bersama kita mengingat dan menumbuhkan dasar frame pemikiran bersama untuk merajut langkah mewujudkan tujuan bangsa Indonesia yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 alinea ke-IV, “Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”. Tentunya dengan pemahaman landasan pemikiran ini, kita bersama berharap bahwa pemerintah Indonesia yang saat ini dipimpin oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk tetap selalu konsisten dengan visi dan misi untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang mandiri, maju, adil dan makmur, sesuai Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025 yang tercantum dalam Undang-undang Nomor 17/2007].

Yogyakarta, 14 Oktober 2011.

Oleh : Didik Hari Purwanto; Kepala Departemen Kajian Strategis BEM KMFT UGM 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s